Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Terjebak Liburan saat Gunung Meletus? Perhatikan 7 Tips Aman Ini!
Potret Gunung Anak Krakatau (commons.wikimedia.org/ Uprising)
  • Erupsi Anak Krakatau pada 5 September 2026 serta Semeru, Ili Lewotolok, dan Ibu sehari kemudian memicu sebaran abu; wisatawan diminta mengurangi aktivitas luar ruang.
  • Saat hujan abu, segera berlindung di ruangan tertutup, gunakan masker dan pelindung mata, amankan makanan serta air, dan hindari berkendara atau mendekati gunung maupun pantai.
  • Pantau arahan BNPB, PVMBG, BMKG, dan BPBD, bukan konten viral; cek gangguan transportasi, siapkan barang penting, dan ikuti jalur evakuasi atau instruksi petugas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jika kamu sedang liburan di kawasan Banten, Lampung, atau daerah lain yang cukup dekat dengan Gunung Anak Krakatau, situasi bisa berubah cepat ketika aktivitas vulkanik meningkat. Apalagi kalau sebelumnya kamu tidak mengetahui adanya erupsi dan tiba-tiba melihat langit berkabut, udara dipenuhi abu, atau suara dentuman terdengar dari kejauhan. Jangan langsung panik, karena ada beberapa langkah penting yang bisa dilakukan untuk melindungi diri saat terjebak di tengah sebaran abu vulkanik.

Selain Gunung Anak Krakatau yang meletus pada 5 September 2026, tiga gunung lainnya juga dikabarkan meletus pada 6 September 2026. Di antaranya Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, dan Gunung Ibu di Maluku Utara.

Erupsi gunung-gunung tersebut memang berdampak pada sebaran abu vulkanik hingga sejumlah wilayah di sekitarnya, sehingga wisatawan yang berada cukup jauh dari gunung pun tetap perlu memperhatikan informasi terbaru. BMKG dan BNPB mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker serta pelindung mata, dan mengikuti informasi resmi. Jika kamu sedang liburan dan baru mengetahui kondisi tersebut setelah abu mulai turun, tujuh tips berikut bisa membantu kamu mengambil keputusan dengan lebih tenang.

1. Segera masuk ke dalam ruangan

Hal pertama yang perlu dilakukan saat abu vulkanik mulai turun adalah mencari tempat tertutup, seperti hotel, penginapan, restoran, pusat perbelanjaan, atau bangunan lain yang aman. Jangan tetap berada di tempat wisata hanya karena mengira abu yang turun masih tipis atau tidak berbahaya. Paparan abu vulkanik dapat mengganggu saluran pernapasan dan mengiritasi mata, sehingga berada di dalam ruangan menjadi pilihan yang lebih aman.

Setelah berada di dalam, tutup pintu dan jendela untuk mengurangi masuknya abu ke ruangan. Jika memungkinkan, pilih ruangan yang memiliki celah udara seminimal mungkin dan jauh dari pintu yang sering dibuka-tutup. Sebaiknya hindari beraktivitas di luar ruangan, apalagi keluar hanya untuk melihat kondisi atau mengambil foto erupsi.

2. Gunakan masker dan lindungi mata

Potret masker (pexels.com/CDC)

Jika kamu terlanjur berada di luar ketika abu vulkanik turun, segera gunakan masker untuk mengurangi paparan partikel abu yang terhirup. Masker respirator seperti N95 memberikan perlindungan lebih baik terhadap abu dibandingkan masker biasa, terutama ketika konsentrasi abu cukup tinggi.

Mata juga perlu dilindungi, karena abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi. Gunakan kacamata pelindung atau goggles jika tersedia, kemudian hindari mengucek mata dengan tangan yang mungkin sudah terkena abu. BNPB juga secara khusus mengimbau penggunaan masker dan pelindung mata ketika terjadi hujan abu.

3. Jangan langsung berkendara keluar dari area

Saat abu mulai memenuhi jalan, keinginan pertama mungkin adalah segera meninggalkan lokasi menggunakan mobil atau motor. Namun, berkendara dalam kondisi abu tebal dapat mengurangi jarak pandang dan membuat perjalanan menjadi lebih berisiko. Abu juga dapat mengganggu kendaraan sehingga perjalanan tidak selalu menjadi solusi tercepat.

Sebaiknya tunggu informasi dari petugas mengenai kondisi jalan dan arah evakuasi yang aman. Kalau memang diminta berpindah tempat, ikuti jalur yang ditentukan dan jangan memilih rute sendiri hanya berdasarkan aplikasi navigasi. Ingat, tujuan utamanya bukan sekadar menjauh dari abu, tapi menuju ke lokasi yang dinyatakan aman oleh pihak berwenang!

4. Jangan mendekati pantai atau gunung untuk melihat erupsi

Potret Gunung Anak Krakatau (commons.wikimedia.org/Tyke)

Bagi sebagian orang atau wisatawan, fenomena erupsi memang bisa terasa mengagumkan dan membuat penasaran untuk dilihat dari dekat. Namun, ketika aktivitas Gunung Anak Krakatau sedang berlangsung, mendekati kawasan gunung atau perairan di sekitarnya justru dapat meningkatkan risiko. BNPB saat ini mengimbau masyarakat, nelayan, wisatawan, dan pengguna kapal tradisional untuk tidak beraktivitas di sekitar kawasan yang masuk radius bahaya, serta tidak mendekati kawah aktif dalam radius 3 kilometer.

Oleh karena itu, jangan menjadikan erupsi sebagai momen berburu foto dari lokasi yang lebih dekat. Jika kamu sedang berada di kawasan pantai atau pulau wisata, ikuti arahan petugas setempat dan segera berpindah apabila ada instruksi evakuasi. Riwayat aktivitas Anak Krakatau juga membuat perkembangan kondisi laut perlu terus diperhatikan, bukan hanya kondisi abu di daratan.

5. Amankan air minum dan makanan

Abu vulkanik yang beterbangan dapat mengotori makanan dan sumber air terbuka. Kalau kamu sedang menginap di hotel atau homestay, simpan makanan dan minuman di dalam wadah tertutup, agar tidak terkena abu. Jangan mengonsumsi air yang sudah terlihat tercemar abu sebelum mendapatkan kepastian bahwa air tersebut aman.

Kamu juga bisa membeli air minum kemasan jika sumber air di tempat menginap mulai terkontaminasi. Hindari membuka tutup botol terlalu lama ketika kondisi di luar masih dipenuhi abu. Langkah sederhana ini penting terutama bagi wisatawan yang mungkin harus bertahan di satu tempat selama beberapa jam.

6. Pantau informasi resmi, bukan video viral

Potret informasi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (instagram.com/bmkgwilayah2)

Ketika terjadi erupsi, media sosial biasanya langsung dipenuhi video, foto, dan berbagai informasi mengenai kondisi gunung. Masalahnya, tidak semua informasi yang beredar berasal dari sumber resmi dan sebagian bisa saja merupakan video lama atau lokasi yang berbeda. BNPB mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan mengikuti perkembangan dari instansi resmi.

Untuk mengetahui kondisi terbaru, pantau informasi dari BNPB, PVMBG atau Badan Geologi, BMKG, dan BPBD setempat. Informasi resmi tersebut jauh lebih penting daripada sekadar melihat apakah abu sedang terlihat tebal di media sosial. Kalau ada perintah untuk meninggalkan suatu kawasan, jangan menundanya hanya karena kondisi di lokasi terlihat masih baik-baik saja.

7. Siapkan rencana pulang atau mengungsi

Kalau kamu sedang liburan dan situasi erupsi belum sepenuhnya stabil, jangan hanya mengandalkan rencana perjalanan awal. Cek kondisi penerbangan, pelabuhan, jalan raya, dan transportasi umum karena sebaran abu vulkanik dapat mengganggu perjalanan secara luas. Pada 6 September 2026, misalnya, sejumlah bandara sempat ditutup sementara akibat dampak sebaran abu Gunung Anak Krakatau, salah satunya Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng.

Simpan dokumen penting, ponsel, power bank, obat pribadi, air minum, dan barang penting lainnya di satu tempat yang mudah dibawa. Jika diminta mengungsi, jangan menunggu sampai kondisi semakin buruk atau transportasi semakin sulit. Sebagai wisatawan, mengikuti instruksi petugas setempat adalah pilihan paling aman ketika kamu belum mengenal kondisi geografis daerah tersebut.

Catatan penting: kondisi erupsi dapat berubah sewaktu-waktu, sehingga tips di atas bukan pengganti instruksi evakuasi dari petugas. Untuk situasi yang sedang berlangsung, prioritaskan informasi terbaru dari BNPB, PVMBG/Badan Geologi, BMKG, dan BPBD setempat.

Rencana liburan bisa dibuat lagi kapan saja, tapi keselamatan tetap perlu jadi prioritas. Jadi, kalau abu vulkanik mulai turun, lebih baik istirahat dulu dan tunggu kondisi membaik.

Curated For You

Editorial Team

Related Article