Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Tips Mendaki Gunung di Musim Kemarau agar Tetap Aman
ilustrasi mendaki saat musim panas (unsplash.com/Patrick Hendry)
  • BMKG memprediksi musim kemarau 2026 akan lebih kering, sehingga pendaki perlu persiapan ekstra menghadapi panas dan risiko dehidrasi di jalur gunung.
  • Pendaki disarankan memulai perjalanan lebih pagi, membawa cukup air dan elektrolit, serta mengenakan pakaian ber-UPF untuk perlindungan dari sinar matahari.
  • Gunakan sunscreen, waspadai tanda heat exhaustion, dan hindari api unggun sembarangan demi menjaga keselamatan serta kelestarian lingkungan saat mendaki.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Musim kemarau sering dianggap sebagai waktu terbaik untuk mendaki gunung karena peluang langit cerah biasanya lebih besar. Namun, kondisi kering juga membawa tantangan tersendiri.

Berdasarkan prediksi BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim kemarau pada April, Mei, dan Juni 2026. Dengan diprediksi akumulasi curah hujan di banyak zona musim diprediksi lebih kering dari biasanya.

Situasi tersebut membuat persiapan pendakian perlu lebih matang. Jalur bisa terasa lebih panas, tubuh lebih cepat kehilangan cairan, dan paparan matahari menjadi lebih intens. Beberapa tips berikut bisa membantu pendakian di musim kemarau tetap aman, nyaman, dan lebih terkendali.

1. Pilih waktu pendakian yang tidak terlalu panas

ilustrasi mendaki saat musim panas (unsplash.com/NEOM)

Dilansir American Hiking Society, pendakian saat cuaca panas sebaiknya dimulai lebih awal ketika suhu masih lebih sejuk. Rute yang memiliki area teduh juga lebih disarankan untuk dilewati saat bagian terpanas dalam sehari.

Strategi ini membantu mengurangi paparan panas berlebihan sejak awal perjalanan. Pendakian juga tidak perlu dipaksakan dengan ritme terlalu cepat. American Hiking Society juga menyarankan pendaki untuk berjalan lebih pelan saat cuaca panas, karena tubuh membutuhkan energi lebih banyak untuk menyesuaikan diri dengan suhu lingkungan.

2. Bawa air yang cukup dan jaga asupan elektrolit

ilustrasi seorang sedang minum saat mendaki (unsplash.com/Serhii Danevych)

Dilansir American Hiking Society, hidrasi menjadi hal penting saat mendaki di cuaca panas. Pendakian berdurasi panjang juga dapat dibantu dengan minuman olahraga yang mengandung elektrolit.

REI juga menjelaskan bahwa kebutuhan minum saat mendaki dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti suhu, kelembapan, intensitas aktivitas, usia, bentuk tubuh, tingkat keringat, dan durasi perjalanan. Karena itu, persediaan air perlu dihitung sejak awal, bukan hanya mengandalkan rasa haus di tengah jalur.

3. Gunakan pakaian yang melindungi dari panas

ilustrasi mendaki saat musim panas (unsplash.com/Holly Mandarich)

Dilansir REI, pakaian dengan rating UPF dapat membantu memberi perlindungan dari paparan sinar matahari. Baju lengan panjang berbahan ringan, pelindung leher, dan topi bertepi lebar juga bisa membantu melindungi area tubuh yang sering terkena sinar langsung.

American Hiking Society juga menyarankan pakaian yang mampu menyerap keringat dan mengalirkan kelembapan dari tubuh, serta menghindari bahan katun saat mendaki dalam cuaca panas. Pemilihan pakaian seperti ini membantu tubuh tetap nyaman ketika bergerak di jalur terbuka.

4. Jangan abaikan perlindungan kulit dan tanda bahaya panas

ilustrasi menggunakan tabir surya (unsplash.com/BATCH by Wisconsin Hemp Scientific)

REI menyebut sunburn, dehidrasi, kram panas, heat exhaustion, dan heat stroke sebagai beberapa masalah kesehatan yang umum terkait pendakian di cuaca panas. Untuk pendakian lebih dari 2 jam, REI menyarankan sunscreen SPF 30 atau lebih tinggi, lalu digunakan kembali setidaknya setiap 2 jam.

Seperti dilansir American Hiking Society, gejala heat exhaustion dapat berupa wajah pucat, mual, muntah, kulit lembap dan dingin, sakit kepala, serta kram. Jika tanda-tanda tersebut muncul, aktivitas perlu dihentikan, tubuh diistirahatkan di tempat teduh, dan cairan dengan elektrolit perlu diberikan.

5. Kurangi risiko api dan jaga area pendakian tetap aman

ilustrasi memasak (unsplash.com/Taryn Elliott)

Musim kemarau membuat perhatian terhadap api semakin penting. Leave No Trace menjelaskan bahwa api unggun dapat meninggalkan dampak jangka panjang pada lingkungan dan kebakaran liar masih mengancam ruang terbuka serta banyak disebabkan oleh manusia.

Berdasarkan panduan Leave No Trace, kompor ringan lebih disarankan untuk memasak dibandingkan dengan membuat api unggun. Jika api diperbolehkan oleh pengelola, penggunaannya sebaiknya dilakukan di area yang sudah ditentukan, dijaga agar tetap kecil, dan dipadamkan sepenuhnya setelah selesai.

Mendaki gunung pada musim kemarau tetap bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan selama persiapan dilakukan dengan tepat. Waktu pendakian, kebutuhan cairan, perlindungan tubuh, hingga sikap berhati-hati terhadap api menjadi bagian penting dari perjalanan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article