Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi mengisi bensin mobil (pexels.com/Erik Mclean)
  • Knocking terjadi saat pembakaran campuran udara-bahan bakar tidak terkendali, menghasilkan gelombang tekanan dan suara ketukan logam, sehingga BBM RON tinggi bukan jaminan mesin bebas gangguan.
  • Kerak karbon, suhu mesin berlebih akibat gangguan pendinginan, serta waktu pengapian yang tidak tepat dapat menaikkan temperatur dan tekanan ruang bakar hingga memicu pembakaran abnormal.
  • Campuran udara-bahan bakar terlalu miskin, beban berat pada putaran rendah, rasio kompresi tinggi, atau modifikasi tanpa kalibrasi tepat juga meningkatkan risiko knocking.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Knocking merupakan salah satu gangguan pembakaran pada mesin mobil yang kerap ditandai suara ketukan logam dari area mesin. Kondisi ini terjadi ketika proses pembakaran campuran udara dan bahan bakar berlangsung secara gak terkendali, sehingga menimbulkan gelombang tekanan yang saling bertabrakan di dalam ruang bakar. Menariknya, penggunaan bahan bakar dengan angka Research Octane Number (RON) tinggi ternyata gak selalu menjamin mesin terbebas dari masalah tersebut.

Anggapan bahwa BBM beroktan tinggi otomatis menghilangkan risiko knocking perlu dipahami lebih jauh karena ada banyak faktor teknis yang memengaruhi proses pembakaran. Mulai dari penumpukan kerak karbon, gangguan sistem pendinginan, hingga masalah pada komponen pengapian, semuanya dapat memicu pembakaran abnormal meski spesifikasi bahan bakar sudah sesuai. Lantas, apa saja penyebabnya dan bagaimana cara mengenali gejalanya? Yuk, pahami lima faktor berikut agar kondisi mesin mobil tetap terjaga!

1. Penumpukan kerak karbon di ruang bakar

ilustrasi ganti oli mobil (unsplash.com/Dextar Studio)

Kerak karbon yang menumpuk di ruang bakar merupakan salah satu faktor yang dapat memicu knocking meski mobil menggunakan BBM RON tinggi. Endapan tersebut dapat berasal dari sisa pembakaran bahan bakar dan oli yang masuk ke ruang bakar dalam jangka waktu tertentu. Jika jumlahnya semakin banyak, volume ruang bakar efektif dapat berkurang sehingga rasio kompresi aktual meningkat dan tekanan akhir kompresi menjadi lebih tinggi.

Selain meningkatkan tekanan, endapan karbon juga dapat menciptakan titik panas atau hot spot yang memicu penyalaan campuran udara dan bahan bakar sebelum waktunya. Fenomena ini dikenal sebagai pre-ignition dan berbeda dari knocking akibat end-gas autoignition, meskipun keduanya dapat berkaitan dan sama-sama berbahaya bagi mesin. Oleh karena itu, pemeriksaan kondisi ruang bakar dan pembersihan kerak karbon sesuai kebutuhan menjadi langkah penting untuk menjaga proses pembakaran tetap normal.

2. Suhu mesin terlalu tinggi

ilustrasi mobil overheat (pexels.com/Kyle Loftus)

Sistem pendinginan memiliki peran penting dalam menjaga suhu kerja mesin agar tetap berada pada rentang yang dirancang oleh pabrikan. Ketika radiator tersumbat, kipas pendingin bermasalah, termostat macet, atau cairan pendingin berkurang, suhu mesin dapat meningkat melampaui batas normal. Kondisi tersebut membuat temperatur komponen ruang bakar ikut naik sehingga risiko terjadinya pembakaran abnormal semakin besar.

Suhu yang terlalu tinggi juga dapat meningkatkan kecenderungan campuran udara dan bahan bakar mengalami autoignition, terutama ketika mesin bekerja dengan beban berat. Bahkan, BBM RON tinggi sekalipun gak dapat sepenuhnya mengatasi masalah apabila temperatur ruang bakar sudah berada dalam kondisi yang gak ideal. Karena itu, indikator suhu mesin perlu diperhatikan dan sistem pendinginan sebaiknya diperiksa secara berkala agar gangguan gak berkembang menjadi kerusakan yang lebih serius.

3. Sistem pengapian mengalami gangguan

ilustrasi servis mobil dengan scanner (freepik.com/peoplecreations)

Sistem pengapian bertugas menghasilkan percikan api pada waktu yang tepat untuk memulai proses pembakaran di dalam silinder. Apabila waktu pengapian terlalu maju atau ignition timing gak sesuai spesifikasi, tekanan dan temperatur di dalam silinder dapat meningkat terlalu cepat. Akibatnya, campuran bahan bakar dan udara yang belum terbakar berpotensi mengalami penyalaan sendiri sehingga memicu knocking.

Masalah tersebut juga dapat berkaitan dengan sensor knock, sensor posisi poros engkol, sensor aliran udara, maupun sistem pengendali mesin atau Engine Control Unit (ECU). Jika salah satu komponen memberikan informasi yang keliru, pengaturan waktu pengapian dan suplai bahan bakar dapat menjadi kurang tepat. Pemeriksaan menggunakan alat pemindai diagnostik serta pengecekan busi dan sistem pengapian dapat membantu menemukan sumber gangguan sebelum kerusakan merembet ke komponen lain.

4. Campuran udara dan bahan bakar terlalu miskin

ilustrasi servis mobil dengan scanner (freepik.com/peoplecreations)

Komposisi campuran udara dan bahan bakar atau air-fuel ratio turut menentukan temperatur serta karakteristik pembakaran di dalam ruang mesin. Ketika campuran terlalu miskin atau lean mixture, jumlah udara menjadi terlalu banyak dibandingkan bahan bakar yang tersedia. Dalam kondisi tertentu, terutama saat mesin menerima beban tinggi, campuran yang terlalu miskin dapat meningkatkan temperatur pembakaran dan memperbesar risiko knocking.

Gangguan ini dapat disebabkan oleh injektor yang tersumbat, tekanan bahan bakar yang terlalu rendah, kebocoran udara pada saluran masuk, atau sensor oksigen dan sensor aliran udara yang bermasalah. Akibatnya, ECU dapat menerima informasi yang kurang akurat dan mengatur suplai bahan bakar secara gak tepat. Untuk memastikan penyebabnya, mekanik perlu memeriksa tekanan bahan bakar, kondisi injektor, kebocoran udara, serta data koreksi bahan bakar melalui alat diagnostik.

5. Beban mesin dan rasio kompresi terlalu tinggi

ilustrasi mesin mobil (unsplash.com/Ian Edokov)

Karakteristik desain mesin juga memiliki pengaruh besar terhadap risiko terjadinya knocking, terutama pada mesin dengan rasio kompresi tinggi atau induksi paksa seperti turbocharger. Semakin tinggi tekanan dan temperatur campuran udara serta bahan bakar sebelum pembakaran, semakin besar pula kecenderungan terjadinya autoignition pada bagian campuran yang belum terbakar. Kondisi tersebut dapat semakin berat ketika mesin bekerja pada putaran rendah dengan beban besar atau saat akselerasi secara agresif.

Selain faktor desain, penggunaan komponen modifikasi yang meningkatkan tekanan boost atau mengubah karakteristik mesin tanpa penyesuaian kalibrasi juga dapat memicu masalah tersebut. Penggunaan BBM RON tinggi memang dapat meningkatkan ketahanan bahan bakar terhadap knocking, tetapi tetap harus sesuai dengan kebutuhan mesin dan pengaturan ECU. Oleh sebab itu, hindari memaksa mesin bekerja terlalu berat pada putaran rendah serta pastikan setiap perubahan spesifikasi mesin disertai penyetelan yang tepat.

Knocking pada mesin mobil gak selalu disebabkan oleh kualitas atau angka oktan bahan bakar yang kurang tinggi. Penumpukan kerak karbon, suhu mesin berlebihan, gangguan pengapian, campuran bahan bakar yang terlalu miskin, hingga karakteristik kompresi dan beban mesin dapat menjadi pemicunya. Jadi, jangan hanya mengandalkan BBM RON tinggi, tetapi perhatikan juga kondisi komponen dan lakukan perawatan mesin secara berkala agar performanya tetap optimal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article