Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Alasan Ban Mobil Listrik Lebih Cepat Mengalami Keausan

Alasan Ban Mobil Listrik Lebih Cepat Mengalami Keausan
ilustrasi ban mobil (freepik.com/standret
Intinya Sih
Gini Kak
  • Mobil listrik menyebabkan ban cepat aus karena bobot baterai yang sangat berat menambah tekanan dan gesekan kuat pada permukaan jalan.
  • Torsi instan motor listrik mempercepat pengikisan karet ban, terutama saat akselerasi mendadak dan gaya berkendara agresif.
  • Serpihan karet ban mobil listrik menciptakan polusi mikroplastik berbahaya yang dapat mencemari air dan ekosistem laut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Popularitas kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) terus meroket sebagai solusi mobilitas masa depan yang bebas emisi gas buang. Kendaraan ini dipuja karena tidak lagi menggunakan bahan bakar fosil dan tidak menyemburkan asap beracun dari knalpot seperti mobil konvensional. Kampanye ramah lingkungan yang masif membuat banyak orang percaya bahwa beralih ke mobil listrik adalah jawaban mutlak untuk menghentikan polusi udara di jalan raya.

Namun, di balik kesenyapan mesinnya, kendaraan listrik ternyata menyimpan masalah lingkungan baru yang masih jarang dikupas oleh publik. Karakteristik teknis bawaan dari sistem penggerak listrik justru menciptakan efek samping yang merugikan pada komponen roda. Tanpa disadari, penggunaan mobil listrik secara massal memicu fenomena ausnya ban dalam waktu yang jauh lebih singkat sekaligus menghasilkan polusi mikropartikel yang berbahaya.

1. Bobot raksasa baterai yang menyiksa dinding dan tapak ban

ilustrasi ban mobil (pexels.com/artem)
ilustrasi ban mobil (pexels.com/artem)

Penyebab utama mengapa ban mobil listrik jauh lebih cepat botak terletak pada bobot total kendaraan yang sangat masif. Paket baterai litium-ion yang tertanam pada lantai mobil listrik memiliki berat hingga ratusan kilogram, membuat EV jauh lebih berat daripada mobil bensin sekelasnya. Beban vertikal yang luar biasa besar ini bertumpu sepenuhnya pada keempat roda kendaraan sepanjang waktu, baik saat mobil melaju maupun saat sedang terparkir.

Tekanan konstan dari bobot raksasa tersebut memaksa area tapak ban yang menempel pada permukaan aspal menjadi lebih luas dan tertekan kuat. Ketika mobil bermanuver, berbelok, atau melakukan pengereman, gaya gesek yang terjadi antara karet ban dan permukaan jalan menjadi berkali-kali lipat lebih ekstrem. Akibat gesekan yang sangat intensif ini, senyawa karet pada ban mobil listrik mengalami pengikisan fisik secara masif dan membuatnya harus diganti lebih cepat.

2. Hentakan torsi instan yang mempercepat pengikisan karet roda

ilustrasi memasang ban mobil (unsplash.com/Benjamin Brunner)
ilustrasi memasang ban mobil (unsplash.com/Benjamin Brunner)

Selain masalah bobot, karakteristik motor listrik yang mampu menyalurkan tenaga secara instan juga andil besar dalam merusak ban. Berbeda dengan mobil bensin yang membutuhkan waktu untuk mencapai putaran mesin tertentu, mobil listrik langsung melepaskan torsi maksimal sejak pedal gas pertama kali diinjak. Hentakan bertenaga besar yang terjadi secara mendadak ini memberikan tekanan rotasi yang sangat mengejutkan pada roda penggerak.

Meskipun sistem kontrol traksi komputer pada mobil listrik sudah berusaha mencegah terjadinya selip, gesekan mikro pada tingkat molekuler karet tetap tidak dapat dihindari. Setiap kali mobil listrik berakselerasi dari posisi diam, tapak ban seolah dipaksa mencengkeram dan mengikis aspal dengan sangat keras. Pola berkendara yang agresif dengan memanfaatkan akselerasi instan ini akan mempercepat kematian ban, membuat usia pakainya terpangkas hingga separuh dari umur ban mobil biasa.

3. Ancaman polusi mikroplastik dari serpihan ban yang beterbangan

ilustrasi ban mobil (pexels.com/olly)
ilustrasi ban mobil (pexels.com/olly)

Proses pengikisan karet ban yang berjalan sangat cepat dan masif pada mobil listrik tidak serta-merta hilang begitu saja ke udara bebas. Serpihan karet yang terkikis dari tapak ban tersebut hancur menjadi partikel-partikel mikro dan nano yang sangat halus di sepanjang koridor jalan raya. Fenomena ini melahirkan jenis polusi baru yang dikenal sebagai emisi non-gas buang (non-exhaust emissions), yang jumlahnya kian mengkhawatirkan seiring bertambahnya populasi EV.

Polusi mikropartikel ban ini sangat berbahaya bagi kesehatan lingkungan karena mengandung berbagai senyawa kimia sintetis dan logam berat. Ketika hujan turun, partikel beracun di jalanan ini akan hanyut terbawa air menuju saluran drainase hingga akhirnya mencemari ekosistem sungai dan lautan. Dengan demikian, meskipun mobil listrik berhasil memangkas polusi udara dari sektor knalpot, kendaraan ini justru menyumbang polusi mikroplastik yang masif melalui pengikisan bannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar

Related Articles

See More