Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Alasan Ilmiah Jalan Rusak Membuat Tubuh Cepat Lelah Saat Berkendara
Ilustrasi naik motor (Pexels/ Blaz Erzetic)
  • Permukaan jalan rusak memaksa otot rangka bekerja terus-menerus menjaga keseimbangan tubuh, menyebabkan pembakaran energi cepat dan penumpukan asam laktat yang menimbulkan rasa lelah.
  • Getaran mikro dari jalan berlubang merambat ke organ dalam dan tulang belakang, membuat tubuh mengeluarkan energi ekstra untuk meredam guncangan sehingga stamina cepat terkuras.
  • Kondisi jalan buruk meningkatkan fokus ekstrem pengemudi, memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin yang mempercepat kelelahan fisik serta mental selama perjalanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Orang yang naik motor di jalan rusak cepat capek. Jalannya banyak lubang dan naik turun, jadi badan goyang terus. Otot di punggung, leher, dan tangan kerja keras biar nggak jatuh. Badan juga kena getar dari motor sampai ke dalam. Mata harus fokus lihat jalan terus. Akhirnya tubuh jadi lelah banget.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Melakukan perjalanan menggunakan kendaraan bermotor seharusnya menjadi aktivitas yang efisien dan tidak terlalu menguras energi fisik secara berlebihan. Namun, kenyataan di lapangan sering kali menyajikan tantangan berbeda berupa kondisi infrastruktur jalan raya yang tidak merata, berlubang, dan bergelombang di banyak titik. Perjalanan yang semula diperkirakan akan berlangsung dengan nyaman dan santai bisa berubah menjadi sebuah aktivitas luar ruangan yang sangat melelahkan.

Banyak orang merasakan bahwa tubuh mereka menjadi jauh lebih cepat letih dan remuk redam ketika harus melewati rute yang rusak parah. Fenomena kelelahan ekstrem ini sering kali dianggap hanya sebagai dampak dari stres psikologis akibat perjalanan yang terhambat. Padahal, jika ditinjau dari sudut pandang biomekanika tubuh manusia, terdapat serangkaian proses fisik yang menjelaskan mengapa medan jalan yang buruk dapat menguras stamina dengan sangat cepat.

1. Kerja keras otot rangka dalam menjaga stabilitas tubuh secara konstan

ilustrasi naik motor (pexels.com/ Yogendra Singh)

Saat kendaraan melintasi permukaan jalan yang tidak rata, tubuh pengendara secara otomatis akan menerima guncangan vertikal dan horizontal yang datang secara bertubi-tubi. Guncangan mendadak ini memaksa sistem saraf pusat untuk mengirimkan sinyal darurat ke seluruh kelompok otot rangka agar segera melakukan kontraksi. Proses refleks ini terjadi secara tidak sadar demi mempertahankan posisi duduk yang seimbang di atas kendaraan agar pengemudi tidak terjatuh atau terlempar dari kursinya.

Kontraksi otot yang terjadi secara berulang-ulang dan dalam frekuensi yang sangat cepat ini dikenal dengan istilah beban kerja dinamis. Kelompok otot di area punggung, pinggang, leher, hingga lengan dipaksa untuk bekerja ekstra keras tanpa adanya jeda waktu untuk beristirahat sejenak. Akibatnya, energi kimia yang tersimpan di dalam jaringan sel otot akan terbakar habis dalam waktu yang relatif singkat, sehingga memicu penumpukan asam laktat yang menjadi penyebab utama rasa pegal dan letih.

2. Penyerapan getaran mikro frekuensi tinggi oleh organ bagian dalam

ilustrasi naik motor (Pexels/Rubenstein Rebello)

Faktor berikutnya yang sangat berkontribusi terhadap kelelahan fisik adalah perambatan energi getaran dari ban kendaraan yang langsung terserap oleh tubuh manusia. Jalanan yang berlubang atau berbatu menciptakan getaran mekanis berskala mikro namun memiliki frekuensi yang sangat tinggi sepanjang perjalanan. Getaran konstan ini tidak hanya berhenti pada permukaan kulit atau otot luar saja, melainkan merambat masuk hingga ke dalam struktur tulang belakang dan organ-organ internal.

Paparan getaran mekanis dalam jangka waktu tertentu memaksa organ-organ bagian dalam serta persendian untuk terus bergesekan secara mikro demi meredam energi kejut tersebut. Fenomena fisika ini menuntut tubuh untuk mengeluarkan metabolisme energi yang jauh lebih besar guna menjaga stabilitas organ tubuh agar tetap berada di posisinya. Proses peredaman getaran yang melelahkan ini secara perlahan akan menguras cadangan energi vital pengemudi tanpa disadari, bahkan sebelum menyadari bahwa perjalanan baru berjalan setengah rute.

3. Ketegangan mental dan peningkatan hormon stres akibat fokus ekstrem

Ilustrasi naik motor (Pexels/Stephen Andrews)

Kondisi jalanan yang rusak tidak hanya memberikan siksaan secara fisik terhadap otot dan sendi, tetapi juga memberikan beban psikologis yang sangat berat. Pengemudi dituntut untuk memiliki tingkat konsentrasi dan kewaspadaan visual yang jauh lebih tinggi dibandingkan saat melaju di atas aspal yang mulus. Mata harus terus-menerus memindai permukaan jalan di depan untuk memilih jalur yang paling aman dan menghindari lubang yang dalam agar kendaraan tidak mengalami kerusakan.

Fokus ekstrem yang berlangsung secara terus-menerus ini akan memicu otak untuk melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin ke dalam aliran darah. Peningkatan hormon-hormon ini menyebabkan detak jantung meningkat, tekanan darah naik, dan membuat seluruh sistem saraf berada dalam kondisi siap siaga yang melelahkan. Ketika ketegangan mental ini berpadu dengan kelelahan fisik akibat guncangan sasis, maka wajar saja jika tubuh akan terasa sangat lemas dan kehabisan tenaga begitu sampai di tempat tujuan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article