Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apakah Beli Mobil Bekas Kilometer Rendah Selalu Lebih Baik?

Apakah Beli Mobil Bekas Kilometer Rendah Selalu Lebih Baik?
ilustrasi mobil (unsplash.com/Samy MOUNICHY)
Intinya Sih
  • Kilometer rendah biasanya menandakan keausan komponen lebih kecil, tetapi mobil yang terlalu lama diparkir berisiko mengalami aki soak, oli menurun, ban flat spot, seal retak, dan rem berkarat.
  • Riwayat servis rutin lebih penting daripada angka odometer; mobil berjarak tempuh tinggi yang terawat bisa lebih baik dibanding unit kilometer rendah tanpa perawatan berkala.
  • Nilai kewajaran kilometer berdasarkan usia, kondisi fisik, dan pola pemakaian. Periksa potensi manipulasi odometer serta tanda keausan pada interior, pedal, mesin, rem, dan komponen lain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Saat mencari mobil bekas, banyak orang langsung melihat angka odometer. Banyak orang beranggapan makin rendah kilometernya, semakin bagus kualitas mobil tersebut. Padahal, kenyataannya tidak selalu sesederhana itu.

Mobil dengan kilometer rendah memang terdengar menggiurkan karena dianggap lebih jarang digunakan. Namun, dalam beberapa kondisi, mobil yang jarang dipakai justru bisa memiliki masalah yang tidak terlihat dari luar.

Lantas, apakah mobil dengan kilometer rendah selalu menjadi pilihan terbaik? Jawabannya adalah belum tentu. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan selain angka yang tertera di odometer.

1. Kilometer rendah memang punya banyak keuntungan

ilustrasi mobil
ilustrasi mobil (pexels.com/Marco Antonio)

Tak bisa dimungkiri, mobil yang jarang digunakan biasanya mengalami tingkat keausan yang lebih rendah. Komponen seperti mesin, transmisi, suspensi, hingga interior umumnya masih dalam kondisi lebih baik dibandingkan dengan mobil dengan jarak tempuh yang sangat tinggi.

Sebagai contoh, mobil berusia 5 tahun dengan jarak tempuh sekitar 30.000 kilometer kemungkinan memiliki kondisi jok yang masih rapi, setir belum banyak aus, dan performa mesin yang masih terasa halus jika dirawat dengan benar.

Selain itu, beberapa komponen yang memiliki umur berdasarkan penggunaan, seperti kampas rem atau ban, juga mungkin masih memiliki sisa usia pakai yang cukup panjang. Inilah alasan mengapa mobil dengan kilometer rendah sering dijual dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan unit lain dengan tahun produksi yang sama.

2. Namun, mobil yang terlalu jarang dipakai juga bisa menyimpan masalah

ilustrasi kaca samping mobil
ilustrasi kaca samping mobil (unsplash.com/Jasper)

Banyak orang mengira mobil akan tetap awet jika hanya diparkir di garasi. Padahal, kendaraan juga membutuhkan penggunaan secara rutin agar berbagai komponennya tetap bekerja optimal. Mobil yang terlalu lama tidak digunakan berpotensi mengalami beberapa masalah, misalnya:

  • Aki cepat soak karena jarang diisi.
  • Oli mengendap dan kualitas pelumas menurun.
  • Ban mengalami flat spot atau permukaan menjadi tidak rata akibat terlalu lama menahan beban di posisi yang sama.
  • Karet-karet seal mengeras atau retak karena kurang mendapatkan pelumasan alami.
  • Rem bisa berkarat, terutama pada piringan rem.

Karena itu, mobil yang memiliki odometer rendah tetapi lebih sering diparkir bertahun-tahun belum tentu lebih sehat dibandingkan dengan mobil yang rutin digunakan setiap hari.

3. Riwayat servis jauh lebih penting daripada angka odometer

ilustrasi servis mobil
ilustrasi servis mobil (pexels.com/Gustavo Fring)

Saat membeli mobil bekas, riwayat perawatan sebaiknya menjadi prioritas utama. Mobil dengan jarak tempuh 120.000 kilometer tetapi selalu diservis tepat waktu sering kali memiliki kondisi yang lebih baik daripada mobil dengan kilometer 40.000 yang jarang ganti oli atau tidak pernah melakukan servis berkala.

Servis rutin menunjukkan bahwa pemilik sebelumnya benar-benar memperhatikan kondisi kendaraan. Penggantian oli mesin, filter, cairan pendingin, oli transmisi, hingga pemeriksaan kaki-kaki dapat memperpanjang usia kendaraan secara signifikan.

Kalau memungkinkan, mintalah buku servis atau riwayat perawatan dari bengkel resmi maupun bengkel tepercaya. Dokumen ini menunjukkan apakah mobil rutin mendapatkan perawatan sesuai jadwal. Dengan begitu, kamu tidak hanya mengandalkan angka odometer untuk menilai kondisi mobil.

4. Jangan lupa sesuaikan kilometer dengan usia mobil

ilustrasi sirip mobil
ilustrasi sirip mobil (unsplash.com/Ömer Haktan Bulut)

Salah satu cara sederhana untuk menilai kewajaran odometer adalah membandingkannya dengan usia kendaraan. Sebagai gambaran, penggunaan mobil pribadi umumnya berkisar antara 10.000—20.000 kilometer per tahun. Jadi, jika sebuah mobil berusia lima tahun memiliki odometer sekitar 60.000—80.000 kilometer, angka tersebut masih tergolong wajar.

Sebaliknya, jika mobil berusia 8 tahun hanya menunjukkan 8.000 kilometer, kondisi ini memang mungkin terjadi. Misalnya, mobil hanya dipakai sesekali. Namun, angka tersebut juga layak diperiksa lebih teliti agar tidak ada kemungkinan manipulasi odometer.

Ditambah lagi, saat ini praktik memundurkan angka odometer masih bisa ditemukan pada sebagian mobil bekas. Oleh karena itu, penting untuk mencocokkan kondisi fisik mobil dengan angka kilometernya. Jika angka pada odometer tidak sesuai dengan usia pakai mobil, ada baiknya untuk lebih berhati-hati.

5. Perhatikan tanda-tanda keausan

ilustrasi interior mobil
ilustrasi interior mobil (pexels.com/Mike Bird)

Jangan terpaku pada odometer saja. Lihat juga kondisi mobil secara menyeluruh. Misalnya, jika mobil diklaim baru menempuh 25.000 kilometer tetapi setir sudah licin, pedal rem sangat aus, jok pengemudi mulai sobek, atau kenop transmisi terlihat mengilap akibat sering digenggam, kondisi tersebut patut dicurigai.

Sebaliknya, ada juga mobil dengan kilometer yang cukup tinggi, tetapi kondisi interiornya masih sangat terawat karena pemilik sebelumnya rajin melakukan perawatan. Hal ini menunjukkan bahwa angka odometer bukan satu-satunya patokan untuk menilai kualitas sebuah mobil. Dalam banyak kasus, kondisi fisik kendaraan justru memberikan gambaran yang lebih nyata tentang bagaimana mobil tersebut digunakan dan dirawat.

6. Cara penggunaan mobil juga berpengaruh

ilustrasi mengemudi di malam hari
ilustrasi mengemudi mobil (pexels.com/Lukas Rychvalsky)

Tidak semua kilometer memberikan dampak yang sama terhadap kondisi mobil. Mobil yang lebih sering digunakan untuk perjalanan jauh di jalan tol umumnya bekerja dalam kondisi yang lebih stabil. Sebaliknya, mobil yang setiap hari menghadapi kemacetan dengan pola berhenti dan berjalan terus-menerus biasanya mengalami beban kerja yang lebih berat, meski angka kilometernya lebih rendah.

Saat melaju stabil di jalan bebas hambatan, mesin bekerja pada putaran yang relatif konstan sehingga keausan cenderung lebih rendah. Sebaliknya, kebiasaan stop-and-go di kemacetan membuat rem, kopling, dan mesin bekerja lebih berat. Karena itu, dua mobil dengan angka odometer yang sama belum tentu memiliki tingkat keausan yang sama.

Pada akhirnya, mobil bekas terbaik bukanlah yang memiliki angka odometer paling kecil, melainkan yang kondisinya benar-benar sehat dan siap digunakan dalam jangka panjang. Dengan memeriksa kendaraan secara menyeluruh, kamu bisa mendapatkan mobil yang nyaman, aman, sekaligus lebih hemat biaya perawatan di kemudian hari.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More