Audi Rombak Bisnis di China, SAIC Fokus Garap Mobil Listrik AUDI

- Audi akan memisahkan bisnis di China: SAIC-Audi fokus mengelola merek AUDI, sedangkan seluruh model berlogo empat cincin dikonsolidasikan ke FAW-Audi.
- Merek AUDI menargetkan pasar China lewat kendaraan listrik dan teknologi digital, dengan E5 Sportback serta E7X SUV; pengembangannya didukung pusat inovasi bersama di Shanghai.
- Restrukturisasi berlangsung saat pengiriman Audi di China turun 19 persen pada semester pertama 2026 dan laba operasi bisnis China merosot 74 persen menjadi 73 juta euro.
Audi bersiap mengubah strategi bisnisnya di China dengan memisahkan lebih tegas dua identitas yang selama ini berjalan berdampingan. SAIC-Audi akan diarahkan untuk fokus pada merek baru bernama AUDI, sementara model dengan logo empat cincin akan berada di bawah kendali FAW-Audi.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya Audi menghadapi persaingan kendaraan listrik dan teknologi pintar yang semakin ketat di pasar China. Menurut laporan CarNewsChina.com, perubahan tersebut juga akan mengubah pembagian tanggung jawab produksi, penjualan, layanan purnajual, hingga jaringan dealer.
1. SAIC-Audi fokus pada merek AUDI

The New Audi Q5 Sportback (www.audi.co.id) Dalam struktur baru, SAIC-Audi akan secara khusus menangani merek AUDI yang menggunakan tulisan empat huruf tanpa logo empat cincin. Merek ini dikembangkan untuk pasar China dan berfokus pada kendaraan listrik yang terhubung dengan teknologi digital serta menyasar konsumen yang lebih melek teknologi.
Merek AUDI saat ini sudah memiliki dua model, yakni E5 Sportback dan E7X SUV. Audi sebelumnya menjelaskan bahwa merek tersebut dibuat sebagai saudara khusus untuk pasar China, dengan menggabungkan teknologi Audi dan kemampuan memahami ekosistem digital lokal. E7X sendiri menjadi SUV listrik pertama dari merek tersebut.
2. Logo empat cincin pindah ke FAW-Audi
Audi memboyong mobil-mobil premium mereka ke GIIAS 2025 (Dok. PT. Garuda Mataram Motor) Sementara itu, seluruh model yang masih menggunakan logo empat cincin akan dikonsolidasikan di bawah FAW-Audi. Model tersebut mencakup kendaraan bermesin pembakaran maupun mobil listrik Audi yang menggunakan identitas global perusahaan.
Detail pemindahan tanggung jawab masih dalam proses pembahasan, termasuk pengalihan hak pengguna, layanan purnajual, pembagian produksi dan penjualan, serta kepentingan jaringan dealer. Audi sebelumnya memang menjalankan strategi dua mitra dan dua merek di China untuk menjangkau kelompok konsumen yang berbeda.
3. Audi menghadapi tekanan besar di China

Audi Indonesia Resmi Luncurkan The New Audi Q5 Sportback (Audi Indonesia) Untuk memperkuat merek AUDI, Audi dan SAIC juga membangun AUDI Innovation & Technology Center di Shanghai. Pusat ini dirancang sebagai sistem pengembangan kendaraan dari hulu ke hilir, dengan fokus pada kokpit pintar, sistem bantuan pengemudi dan teknologi kendaraan berbasis kecerdasan buatan. Dalam struktur kerja sama tersebut, SAIC memegang 49 persen, Audi AG 41 persen, dan Volkswagen China 10 persen.
Restrukturisasi ini datang ketika performa Audi di China menghadapi tekanan. Pada paruh pertama 2026, pengiriman Audi di negara tersebut turun 19 persen secara tahunan, sementara laba operasi dari bisnis China dilaporkan merosot 74 persen menjadi 73 juta euro. SAIC-Audi juga disebut mulai mengurangi stok model berlogo empat cincin, dengan sejumlah model mendapat potongan harga besar.



















