BYD-CATL Produksi Baterai Natrium-Ion, Mobil Listrik Bisa Lebih Murah!

Dunia industri baterai Tiongkok kini tengah mengalami pergeseran besar menuju teknologi natrium-ion sebagai solusi atas melonjaknya harga litium. Raksasa manufaktur seperti CATL dan BYD mulai mempercepat produksi dan investasi pada kimia baterai alternatif ini untuk mengamankan rantai pasok kendaraan listrik yang lebih terjangkau.
Langkah strategis ini menandai era baru bagi kendaraan listrik di segmen ekonomis dan penggunaan di wilayah beriklim dingin. Dengan ketersediaan bahan baku yang melimpah, baterai natrium-ion diprediksi akan menjadi pelengkap krusial yang mampu menstabilkan harga pasar otomotif global di masa depan.
1. Kelimpahan bahan baku dan stabilitas rantai pasok

Melansir laporan dari carnewschina.com, keunggulan utama baterai natrium-ion terletak pada ketersediaan bahan bakunya yang sangat melimpah di kerak bumi, yakni sekitar 400 kali lipat lebih banyak dibandingkan litium. Selama ini, cadangan litium dunia terkonsentrasi di wilayah Amerika Selatan dan Australia, yang membuatnya rentan terhadap volatilitas harga dan hambatan rantai pasokan global.
Kenaikan harga litium karbonat pada awal 2026 yang menembus angka 170.000 yuan per ton telah menekan biaya produksi kendaraan listrik kelas pemula. Kondisi ini memaksa produsen untuk mencari alternatif yang tidak terlalu bergantung pada sumber daya yang langka. Penggunaan natrium yang dapat ditemukan hampir di mana saja memberikan jaminan stabilitas produksi jangka panjang bagi para raksasa baterai Tiongkok.
2. Ekspansi produksi besar-besaran oleh pemimpin industri

CATL telah memulai langkah nyata dengan meluncurkan baterai natrium-ion untuk kendaraan komersial ringan dan berencana memasangnya pada mobil penumpang seperti Aion Y Plus pada kuartal kedua 2026. Sementara itu, BYD tidak tinggal diam dengan mengoperasikan lini produksi baterai natrium berkapasitas 30 GWh. Perusahaan lain seperti EVE Energy juga telah mengucurkan dana sebesar 1 miliar yuan untuk proyek serupa.
Data menunjukkan bahwa pengiriman baterai natrium global pada tahun 2025 telah mencapai 9 GWh, meningkat drastis sebesar 150 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan masif ini didorong oleh efisiensi biaya, di mana material natrium-ion diperkirakan 30 hingga 40 persen lebih murah daripada litium. Meskipun masih dalam tahap awal pengembangan skala industri, percepatan komersialisasi di tahun 2026 ini menunjukkan keseriusan Tiongkok dalam memimpin teknologi baterai masa depan.
3. Keunggulan performa di iklim dingin dan tantangan teknologi

Selain aspek biaya, baterai natrium-ion menawarkan performa superior dalam kondisi suhu ekstrem. Prototipe baterai ini mampu mempertahankan kapasitas hingga lebih dari 90 persen pada suhu -20 °C, jauh melampaui baterai litium standar yang biasanya turun ke angka 80 persen. Hal ini menjadikan baterai natrium sebagai pilihan ideal untuk pasar di wilayah beriklim dingin yang selama ini mengeluhkan penurunan jarak tempuh kendaraan listrik saat musim dingin.
Namun, teknologi ini masih menghadapi tantangan terkait densitas energi. Saat ini, densitas energi natrium-ion berkisar antara 100 hingga 170 Wh/kg, masih di bawah baterai LFP yang mencapai 200 Wh/kg. Keterbatasan ini membuat baterai natrium lebih cocok digunakan pada kendaraan listrik jarak pendek, penyimpanan energi stasioner, dan mobil kelas entry-level. Meski belum bisa menggantikan litium sepenuhnya pada mobil jarak jauh, kehadiran natrium-ion menjadi penyeimbang yang krusial bagi ekosistem kendaraan energi baru.

















