Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Biker sering Selap-selip di Jalan Sempit? Ini Penjelasan Psikologinya

ilustrasi perempuan naik motor (pexels.com/Stephen Leonardi)
ilustrasi perempuan naik motor (pexels.com/Stephen Leonardi)
Intinya sih...
  • Persepsi ruang dan insting mencari efisiensi - Pengendara motor memiliki dorongan psikologis untuk menyalip demi efisiensi waktu dan ruang.
  • Rasa terperangkap dan perlindungan diri di area terbuka - Pengendara motor merasa rentan di area terbuka, sehingga selap-selip dilakukan untuk mendapatkan kendali dan visibilitas yang lebih baik.
  • Perbedaan persepsi risiko antara roda dua dan roda empat - Pengemudi motor memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi terhadap akurasi pergerakan mereka, meskipun risiko tetap harus menjadi prioritas utama.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Fenomena pengendara sepeda motor yang sigap mengambil celah sempit di antara deretan mobil, atau yang dikenal dengan istilah lane splitting, sering kali memicu perdebatan di jalan raya. Bagi pengemudi mobil, tindakan ini kerap dianggap sebagai bentuk arogansi atau perilaku ugal-ugalan yang membahayakan keselamatan pengguna jalan lain.

Namun, di balik gerakan lincah tersebut, terdapat dorongan psikologis dan insting manusia yang jauh lebih kompleks daripada sekadar keinginan untuk melanggar aturan. Perilaku menyalip di tengah kemacetan sebenarnya merupakan manifestasi dari persepsi ruang dan upaya otak manusia dalam mencari efisiensi waktu serta ruang secara instan.

1. Persepsi ruang dan insting mencari efisiensi

ilustrasi perempuan naik motor (pexels.com/Pexels Olivier Darny)
ilustrasi perempuan naik motor (pexels.com/Pexels Olivier Darny)

Secara psikologis, setiap manusia memiliki kecenderungan untuk bergerak menuju ruang kosong sebagai bentuk efisiensi navigasi. Pada pengendara sepeda motor, space perception atau persepsi ruang bekerja secara jauh lebih dinamis dibandingkan pengemudi mobil karena dimensi kendaraan yang ramping. Celah selebar satu meter di antara dua mobil tidak terlihat sebagai hambatan bagi seorang pengendara motor, melainkan sebuah peluang atau "jalur terbuka" yang sah untuk dilewati.

Dorongan untuk selalu berada di depan bukan selalu didasari oleh sifat terburu-buru, melainkan insting untuk memaksimalkan potensi kendaraan. Sepeda motor dirancang untuk mobilitas tinggi, sehingga ketika terjebak diam di belakang sebuah mobil yang besar, terjadi ketidakselarasan kognitif. Otak pengendara menangkap adanya ruang yang bisa dimanfaatkan, sehingga muncul dorongan kuat untuk mengeksekusi gerakan menyalip demi mencapai tujuan dengan lebih cepat dan efektif.

2. Rasa terperangkap dan perlindungan diri di area terbuka

ilustrasi naik motor (pexels.com/Khoa Võ)
ilustrasi naik motor (pexels.com/Khoa Võ)

Berbeda dengan pengemudi mobil yang merasa aman di dalam kabin besi, pengendara motor berada di area terbuka dan merasa sangat rentan. Berada diam di belakang mobil dalam kemacetan sering kali menimbulkan perasaan "terperangkap" secara psikologis. Ada kecemasan tersembunyi bahwa diam di posisi statis di tengah himpitan kendaraan besar justru meningkatkan risiko tertabrak dari belakang atau terhirup polusi kendaraan secara berlebihan.

Perasaan terperangkap ini memicu insting fight or flight, di mana pengendara memilih untuk terus bergerak demi mendapatkan rasa kendali atas lingkungannya. Dengan menyalip dan berada di barisan paling depan, seorang pengendara merasa memiliki visibilitas yang lebih baik dan ruang gerak yang lebih luas untuk menghindari potensi bahaya. Bagi mereka, terus bergerak maju adalah cara terbaik untuk menjaga kewaspadaan dan memastikan posisi mereka tetap terlihat oleh pengguna jalan lainnya.

3. Perbedaan persepsi risiko antara roda dua dan roda empat

ilustrasi sopir (pexels.com/UHGO)
ilustrasi sopir (pexels.com/UHGO)

Perilaku selap-selip juga dipengaruhi oleh perbedaan mendasar dalam memandang risiko. Pengemudi mobil cenderung melihat celah sempit sebagai ancaman gesekan atau benturan yang mahal harganya. Sebaliknya, pengendara motor yang sudah terbiasa dengan dimensi kendaraannya memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi terhadap akurasi pergerakan mereka. Risiko yang bagi orang lain terlihat ekstrem, bagi pengendara motor sering kali dianggap sebagai prosedur operasional yang standar dan terkendali.

Edukasi mengenai psikologi berkendara ini penting agar tercipta empati antar pengguna jalan. Media sering kali hanya menyoroti sisi negatif tanpa memahami bahwa perilaku ini adalah bagian dari adaptasi manusia terhadap infrastruktur jalanan yang padat seperti di Jakarta. Meskipun memiliki penjelasan psikologis, aspek keselamatan tetap harus menjadi prioritas utama agar tindakan mencari efisiensi tersebut tidak berubah menjadi tindakan yang membahayakan nyawa diri sendiri maupun orang lain di sekitarnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More

Kenapa Biker sering Selap-selip di Jalan Sempit? Ini Penjelasan Psikologinya

30 Jan 2026, 21:05 WIBAutomotive