Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Mengemudi Malam Hari Terasa Lebih Melelahkan padahal Gak Macet?
ilustrasi sopir (unsplash.com/@whykei)
  • Mengemudi malam membuat mata bekerja lebih keras karena minim cahaya, perubahan fokus, dan silau lampu kendaraan dari arah berlawanan.
  • Ritme sirkadian mendorong tubuh beristirahat pada malam hari, terutama setelah aktivitas seharian, sehingga kantuk dan kelelahan fisik maupun mental meningkat.
  • Jalan sepi dapat menciptakan suasana monoton yang menurunkan kewaspadaan; pengemudi perlu mengenali tanda lelah dan berhenti beristirahat di tempat aman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Mengemudi malam bisa bikin cepat lelah walau jalan sepi. Mata harus bekerja keras melihat jalan dengan lampu. Lampu mobil lain juga bisa bikin silau. Tubuh mulai ingin tidur saat malam. Jalan yang sepi bisa bikin bosan dan kurang fokus. Kalau mengantuk, pengemudi harus berhenti di tempat aman dan istirahat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mengemudi malam hari sering terasa lebih melelahkan dibandingkan berkendara pada siang hari. Padahal, jalanan mungkin lebih lengang, lalu lintas lebih lancar, dan waktu perjalanan bahkan bisa lebih singkat. Anehnya, tubuh justru terasa cepat lelah setelah beberapa puluh kilometer.

Rasa lelah tersebut bukan hanya disebabkan oleh lamanya perjalanan. Kondisi cahaya, ritme biologis tubuh, hingga cara mata bekerja saat melihat jalan pada malam hari ikut memengaruhi tingkat kelelahan pengemudi. Karena itu, perjalanan malam tetap membutuhkan perhatian ekstra meskipun jalan tidak padat.

1. Mata bekerja lebih keras melihat jalan

Ilustrasi sopir sedang istirahat (Pexels/Sergi Montaner)

Saat malam, jumlah cahaya yang masuk ke mata jauh lebih sedikit dibandingkan siang hari. Pengemudi mengandalkan lampu depan kendaraan untuk melihat marka jalan, kendaraan lain, pejalan kaki, serta objek di sekitar jalan. Kondisi ini membuat mata harus terus menyesuaikan diri dengan perubahan tingkat pencahayaan.

Situasinya semakin menantang ketika berpapasan dengan kendaraan dari arah berlawanan. Sorotan lampu depan yang terlalu terang dapat menyebabkan silau dan membuat mata membutuhkan waktu untuk kembali menyesuaikan diri setelah cahaya tersebut lewat. Proses melihat dan menyesuaikan fokus secara terus-menerus dapat membuat mata terasa lebih cepat lelah, terutama jika perjalanan berlangsung lama.

2. Tubuh punya ritme yang mulai menurun

ilustrasi sopir yang taksadar sambil menyetir (freepik.com/user18526052)

Mengemudi pada malam hari juga bertepatan dengan waktu ketika tubuh secara alami mulai bersiap untuk beristirahat. Ritme sirkadian mengatur berbagai fungsi tubuh, termasuk pola tidur dan bangun. Ketika waktu sudah mendekati jam tidur, rasa kantuk dapat muncul meskipun tubuh sebelumnya masih aktif sepanjang hari.

Kondisi ini berbeda dengan perjalanan pada siang hari ketika tubuh umumnya berada dalam fase aktif. Pengemudi yang sudah bekerja sejak pagi kemudian berkendara pada malam hari harus menghadapi kombinasi kelelahan fisik, aktivitas mental, dan dorongan biologis untuk tidur. Jalan yang sepi bahkan dapat membuat kondisi tersebut terasa lebih berat karena rangsangan visual yang diterima lebih sedikit.

3. Jalan sepi bukan berarti lebih aman dari lelah

Ilustrasi lampu mobil bagian depan menyala dengan terang di malam hari (pexels.com/Borta)

Jalan yang lengang memang mengurangi kepadatan lalu lintas, tetapi bukan berarti pengemudi otomatis terbebas dari kelelahan. Ketika jumlah kendaraan dan objek bergerak lebih sedikit, suasana berkendara bisa menjadi monoton. Dalam perjalanan panjang, kondisi monoton tersebut dapat membuat kewaspadaan menurun secara perlahan.

Karena itu, pengemudi perlu memperhatikan tanda-tanda kelelahan seperti sering menguap, mata terasa berat, sulit mempertahankan fokus, atau tidak mengingat beberapa bagian perjalanan. Jika gejala tersebut mulai muncul, jangan memaksakan diri untuk terus mengemudi. Berhenti di tempat aman, beristirahat, minum air, atau berganti pengemudi bila memungkinkan jauh lebih penting daripada mengejar waktu tiba. Perjalanan malam yang lancar tetap membutuhkan tubuh dalam kondisi cukup bugar agar konsentrasi dan kemampuan mengambil keputusan tetap terjaga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article