Mobil Hybrid Jarang Digunakan Justru Lebih Cepat Rusak?

- Dampak degradasi pada baterai traksi tegangan tinggi
- Penurunan kualitas bahan bakar dan pelumasan mesin
- Risiko kegagalan pada baterai 12 volt konvensional
Mobil berteknologi hibrida sering kali dianggap sebagai solusi paling efisien untuk mobilitas modern yang ramah lingkungan. Namun, banyak pemilik yang berasumsi bahwa dengan membatasi penggunaan kendaraan, maka usia pakai komponen mesin dan baterai akan menjadi lebih panjang dan awet.
Realitanya, mobil hybrid memiliki karakteristik mekanis yang jauh berbeda dibandingkan kendaraan bermesin bensin konvensional. Membiarkan kendaraan ini terparkir terlalu lama di dalam garasi tanpa aktivitas pemanasan yang rutin justru dapat memicu serangkaian masalah teknis yang berdampak buruk pada performa jangka panjang.
1. Dampak degradasi pada baterai traksi tegangan tinggi

Baterai traksi atau baterai Lithium-ion yang menjadi jantung penggerak mobil hybrid sangat bergantung pada siklus pengisian dan pengosongan daya secara teratur. Ketika mobil dibiarkan mati dalam waktu yang sangat lama, tingkat pengisian daya atau State of Charge (SoC) akan menurun secara alami akibat fenomena self-discharge. Jika daya baterai turun hingga di bawah ambang batas minimum, sel-sel di dalamnya dapat mengalami kerusakan permanen yang tidak bisa diperbaiki hanya dengan pengisian daya biasa.
Kondisi baterai yang dibiarkan benar-benar kosong dalam waktu lama sering kali menjadi penyebab utama sistem hybrid terkunci atau gagal diaktifkan. Penggantian unit baterai traksi merupakan komponen termahal dalam perawatan mobil jenis ini, sehingga membiarkan mobil menganggur tanpa pengoperasian sama saja dengan mempercepat risiko pengeluaran biaya perbaikan yang sangat besar di masa mendatang.
2. Penurunan kualitas bahan bakar dan pelumasan mesin

Meskipun memiliki motor listrik, mobil hybrid tetap mengandalkan mesin pembakaran internal (Internal Combustion Engine). Bahan bakar bensin yang mengendap terlalu lama di dalam tangki akan mengalami proses oksidasi yang dapat membentuk residu lengket atau "gum". Endapan ini berisiko menyumbat injektor dan saluran bahan bakar saat mesin mencoba dihidupkan kembali setelah sekian lama tidak digunakan.
Selain masalah bahan bakar, sistem pelumasan juga akan terpengaruh karena oli akan mengalir turun sepenuhnya ke bagian bawah mesin (oil pan). Saat mobil jarang dinyalakan, bagian atas mesin tidak mendapatkan lapisan pelindung oli yang cukup, sehingga gesekan metal-ke-metal yang kasar akan terjadi pada detik-detik pertama saat mesin akhirnya dinyalakan. Aktivitas pemanasan mesin secara periodik sangat diperlukan agar sirkulasi oli tetap terjaga dan seluruh komponen internal tetap terlumasi dengan sempurna.
3. Risiko kegagalan pada baterai 12 volt konvensional

Banyak pemilik lupa bahwa mobil hybrid masih menggunakan baterai 12 volt standar untuk menghidupkan sistem komputer dan lampu. Baterai kecil ini justru sering kali menjadi komponen pertama yang mati jika mobil jarang dikendarai. Karena sistem pengisian baterai 12 volt pada mobil hybrid berbeda dengan mobil biasa yang menggunakan alternator, baterai ini hanya akan terisi secara optimal ketika sistem hybrid berada dalam posisi "Ready" atau saat mobil berjalan.
Kegagalan pada baterai 12 volt ini akan menyebabkan seluruh sistem elektronik mobil lumpuh, meskipun baterai traksi besar masih memiliki daya. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk menjalankan kendaraan setidaknya satu kali dalam seminggu selama minimal 20 hingga 30 menit. Langkah ini bertujuan untuk memastikan sistem manajemen energi dapat menyeimbangkan daya pada kedua jenis baterai dan menjaga seluruh komponen mekanis tetap berada dalam suhu kerja yang ideal.


















