Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Penyebab Ban Mobil Aus Sebelah, Spooring Bukan Satu-satunya Faktor
ilustrasi balancing dan spooring (hondasurabayacenter.com)
  • Ban aus sebelah dapat mengurangi daya cengkeram dan kestabilan, terutama di jalan basah, meski mobil masih terasa nyaman dikendarai.
  • Penyebabnya bukan hanya spooring, melainkan tekanan ban tidak sesuai, perubahan sudut roda, serta keausan komponen suspensi dan kemudi.
  • Beban tidak seimbang serta kebiasaan melewati jalan rusak juga mempercepat keausan; kondisi ekstrem atau mobil sulit dikendalikan perlu segera diperiksa di bengkel.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ban mobil yang aus sebelah sering dianggap sebagai masalah sepele karena kendaraan masih terasa nyaman saat dikendarai. Padahal, keausan yang gak merata dapat menjadi petunjuk adanya gangguan pada sistem kemudi, suspensi, atau kondisi ban itu sendiri. Jika dibiarkan terlalu lama, masalah tersebut berpotensi mengurangi daya cengkeram ban dan memengaruhi kestabilan kendaraan, terutama saat melaju di jalan basah.

Banyak pemilik mobil langsung menduga spooring sebagai penyebab utama ketika melihat salah satu sisi ban lebih cepat menipis. Padahal, penyebabnya bisa lebih beragam, mulai dari tekanan udara yang gak sesuai hingga komponen kaki-kaki yang mengalami keausan atau kerusakan. Supaya gak salah mengambil tindakan dan mengeluarkan biaya perbaikan yang kurang tepat, yuk kenali lima penyebab ban mobil aus sebelah berikut ini!

1. Tekanan udara ban gak sesuai rekomendasi

ilustrasi mengecek ban mobil (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Tekanan udara memiliki peran penting dalam menjaga bentuk bidang kontak ban dengan permukaan jalan. Jika tekanan terlalu rendah, bagian bahu ban cenderung menerima beban lebih besar, sedangkan tekanan berlebihan dapat membuat bagian tengah tapak lebih cepat aus. Namun, keausan yang hanya terjadi pada sisi dalam atau luar ban biasanya perlu diperiksa lebih lanjut karena tekanan udara bukan satu-satunya faktor yang memengaruhinya.

Pemeriksaan tekanan sebaiknya dilakukan saat ban dalam kondisi dingin menggunakan alat ukur yang akurat. Sesuaikan nilainya dengan rekomendasi pabrikan yang biasanya tercantum pada stiker di pilar pintu pengemudi atau buku manual kendaraan, bukan angka maksimum pada dinding ban. Kebiasaan memeriksa tekanan secara berkala membantu menjaga pola keausan tetap merata sekaligus mendukung kenyamanan dan efisiensi bahan bakar.

2. Sudut roda mengalami perubahan

ilustrasi mengganti ban mobil (pexels.com/Ron Lach)

Sudut roda yang gak sesuai spesifikasi dapat menyebabkan ban bergesekan dengan permukaan jalan pada pola yang keliru. Salah satu sudut yang berpengaruh adalah camber, yaitu kemiringan roda jika dilihat dari depan kendaraan. Ketika sudut ini terlalu positif atau negatif, beban kontak dapat lebih terkonsentrasi pada bahu luar atau sisi dalam ban sehingga salah satu bagian tapak lebih cepat menipis.

Benturan keras saat melewati lubang jalan atau menabrak tepi trotoar dapat mengubah geometri roda, terutama jika disertai kerusakan pada komponen kaki-kaki. Pemeriksaan wheel alignment atau penyelarasan sudut roda diperlukan untuk memastikan nilai camber, caster, dan toe sesuai spesifikasi pabrikan. Jika ditemukan penyimpangan, teknisi perlu menentukan apakah sudut roda cukup disetel atau terdapat komponen yang harus diperbaiki terlebih dahulu.

3. Komponen suspensi mengalami keausan

ilustrasi servis mobil (pexels.com/Artem Podrez)

Suspensi bertugas menjaga kontak ban dengan permukaan jalan sekaligus meredam guncangan selama kendaraan bergerak. Ketika shock absorber, bushing, atau komponen sambungan suspensi mengalami keausan, posisi dan gerakan roda dapat berubah secara gak semestinya. Akibatnya, tekanan pada permukaan ban menjadi kurang merata dan pola keausan tertentu dapat muncul lebih cepat.

Kerusakan suspensi juga dapat menimbulkan gejala lain, seperti bunyi ketukan saat melewati jalan bergelombang, kendaraan terasa limbung, atau ban menunjukkan pola aus bergelombang. Pemeriksaan perlu dilakukan secara menyeluruh karena menyetel sudut roda saja gak akan menyelesaikan masalah jika komponen suspensi masih bermasalah. Dengan memperbaiki sumber gangguan terlebih dahulu, kestabilan kendaraan dapat dipulihkan sekaligus mencegah keausan ban berulang.

4. Komponen kemudi atau sambungan roda bermasalah

ilustrasi mengemudi mobil (pexels.com/Wendy Wei)

Komponen kemudi seperti tie rod end dan sambungan bola atau ball joint membantu mempertahankan posisi roda sesuai arah kendali pengemudi. Ketika bagian tersebut aus atau memiliki kelonggaran berlebihan, sudut roda dapat berubah saat kendaraan bergerak maupun menerima beban. Kondisi ini berpotensi menimbulkan keausan tidak merata, terutama jika kelonggaran membuat pengaturan roda sulit dipertahankan.

Masalah pada komponen kemudi juga bisa ditandai oleh setir yang terasa kurang presisi, kendaraan cenderung menarik ke satu sisi, atau muncul bunyi ketika roda melewati permukaan jalan yang gak rata. Jika tanda tersebut muncul bersamaan dengan keausan ban sebelah, pemeriksaan di bengkel sebaiknya gak ditunda. Komponen yang rusak perlu diperbaiki atau diganti sesuai hasil pemeriksaan sebelum penyelarasan roda dilakukan kembali.

5. Beban kendaraan dan kebiasaan berkendara gak seimbang

ilustrasi membawa barang di mobil (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Beban kendaraan yang terlalu berat atau terus terkonsentrasi pada satu sisi dapat memengaruhi distribusi tekanan pada ban. Kondisi ini dapat mempercepat keausan apabila berlangsung berulang, terutama saat mobil sering membawa muatan berat atau digunakan melewati jalan dengan permukaan yang buruk. Meski begitu, keausan yang konsisten hanya pada sisi dalam atau luar ban tetap perlu ditelusuri karena distribusi beban bukan selalu penyebab utamanya.

Kebiasaan berkendara juga berpengaruh terhadap umur ban, terutama jika kendaraan sering melewati lubang, menghantam tepi jalan, atau melaju kencang saat menikung. Manuver tersebut dapat meningkatkan beban pada bagian tertentu dari tapak ban dan mempercepat kerusakan apabila dilakukan terus-menerus. Mengatur muatan sesuai kapasitas kendaraan, menjaga kecepatan saat melewati jalan rusak, dan memeriksa kondisi ban secara rutin menjadi langkah sederhana untuk mengurangi risiko keausan berlebihan.

Ban mobil yang aus sebelah gak selalu disebabkan oleh masalah spooring, sebab tekanan udara, suspensi, komponen kemudi, dan distribusi beban juga dapat berperan. Pola keausan pada tapak ban bisa menjadi petunjuk awal untuk menentukan bagian kendaraan yang perlu diperiksa lebih lanjut. Jika keausan terjadi secara ekstrem, terlihat lapisan ban rusak, atau kendaraan terasa sulit dikendalikan, segera periksakan mobil ke bengkel sebelum melanjutkan perjalanan jauh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorAgsa Tian

Related Article