Leapmotor C10 Pakai Teknologi C2C, Apa Keunggulannya?

Leapmotor C10 menerapkan teknologi Cell-to-Chassis yang mengintegrasikan baterai langsung ke sasis, untuk mengoptimalkan ruang kabin dan membantu mengurangi bobot kendaraan.
Produsen mengklaim konstruksi C2C menghasilkan kekakuan torsional 42.500 Nm per derajat, menjadikan baterai sebagai bagian dari struktur bodi kendaraan.
C10 memakai baterai 69,9 kWh, motor 165 kW dan torsi 360 Nm berpenggerak roda belakang; jarak tempuh klaim NEDC mencapai 503 km.
Jakarta, IDN Times - Leapmotor C10 mengandalkan teknologi Cell-to-Chassis (C2C) sebagai salah satu pendekatan dalam pengembangan kendaraan listriknya.
Teknologi ini mengintegrasikan baterai langsung ke struktur sasis, sehingga komponen tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sumber energi, tetapi juga menjadi bagian dari struktur kendaraan.
Penerapan teknologi tersebut ditujukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan ruang sekaligus meningkatkan kekakuan struktur kendaraan. Pada Leapmotor C10, teknologi C2C diklaim menghasilkan kekakuan torsional hingga 42.500 Nm per derajat.
1. Baterai terintegrasi dengan struktur sasis

Buritan Leapmotor C10 (IDN Times/Fadhliansyah) Pada kendaraan listrik konvensional, baterai umumnya ditempatkan dalam satu paket yang dipasang pada struktur kendaraan. Sementara itu, pendekatan Cell-to-Chassis mengintegrasikan baterai langsung dengan struktur sasis.
Integrasi ini memungkinkan konstruksi kendaraan dirancang lebih menyatu. Leapmotor mengklaim pendekatan tersebut membantu mengurangi bobot kendaraan sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan ruang di dalam kabin.
Konsep ini menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan produsen kendaraan listrik untuk meningkatkan efisiensi desain tanpa hanya berfokus pada kapasitas baterai.
2. Diklaim meningkatkan kekakuan bodi

Spesifikasi Leapmotor C10 (IDN Times/Fadhliansyah) Leapmotor menyebut teknologi C2C pada C10 mampu menghasilkan kekakuan torsional sebesar 42.500 Nm per derajat. Angka tersebut menggambarkan kemampuan struktur kendaraan dalam menahan puntiran ketika menerima beban.
Kekakuan torsional merupakan salah satu aspek penting dalam konstruksi kendaraan karena berkaitan dengan kekuatan struktur bodi. Namun, angka tersebut tidak dengan sendirinya menggambarkan seluruh aspek kenyamanan atau pengendalian mobil.
Dengan mengintegrasikan baterai ke struktur sasis, Leapmotor berupaya menjadikan komponen utama kendaraan listrik tersebut sebagai bagian dari rancangan struktur secara keseluruhan.
3. Dipadukan dengan baterai 69,9 kWh

Layout kabin Leapmotor C10 (IDN Times/Fadhliansyah) Leapmotor C10 dibekali baterai berkapasitas 69,9 kWh dengan jarak tempuh yang diklaim mencapai 503 km berdasarkan pengujian NEDC. Motor listriknya menghasilkan tenaga maksimum 165 kW atau sekitar 224 dk, dengan torsi puncak 360 Nm.
Tenaga tersebut disalurkan ke roda belakang atau menggunakan sistem penggerak rear-wheel drive (RWD). Kombinasi baterai dan motor listrik tersebut menjadi bagian dari paket teknis C10, di samping penggunaan konstruksi C2C.
Meski begitu, jarak tempuh 503 km merupakan angka berdasarkan standar NEDC. Jarak yang dicapai dalam penggunaan sehari-hari dapat berbeda, bergantung pada kondisi jalan, kecepatan, gaya berkendara, dan penggunaan perangkat kelistrikan.






















