Penyebab Mobil Bersiul Saat Kecepatan Tinggi, Peredam Bukan Solusi!

Kebisingan kabin sering kali menjadi keluhan utama bagi pemilik kendaraan di Indonesia saat melintasi jalan tol atau rute antarkota. Respon yang paling umum dilakukan adalah memasang lapisan peredam aspal atau busa tambahan di seluruh bagian lantai dan pintu dengan harapan suara bising akan hilang seketika.
Namun, penambahan bobot melalui material peredam sering kali gagal mengatasi masalah suara siulan atau desis yang menusuk telinga pada kecepatan tinggi. Hal ini terjadi karena sumber kebisingan tersebut bukan berasal dari gesekan ban semata, melainkan dari fenomena aeroakustik atau bagaimana cara sebuah mobil membelah aliran udara.
1. Dinamika aliran udara dan desain pilar A

Pada kecepatan di atas 80 km/jam, udara yang menabrak bagian depan mobil tidak lagi mengalir dengan halus, melainkan menciptakan turbulensi di area-area tertentu. Pilar A, yaitu tiang penyangga kaca depan, merupakan salah satu area paling kritis yang sering menjadi sumber suara desis. Jika desain pilar ini memiliki sudut yang terlalu tajam atau terdapat celah kecil pada karet pelipit kaca, udara akan terperangkap dan menciptakan pusaran energi yang menghasilkan suara frekuensi tinggi.
Kualitas pengerjaan atau fit and finish pada bagian eksterior sangat menentukan seberapa tenang kabin sebuah kendaraan. Celah yang tidak presisi antara kaca depan dan atap mobil dapat bertindak seperti lubang pada instrumen musik tiup, yang menghasilkan suara dengung konstan saat terpapar angin kencang. Dalam kondisi ini, setebal apa pun peredam yang dipasang di bagian dalam pintu tidak akan mampu membendung suara yang dihasilkan langsung oleh turbulensi udara di permukaan kaca depan.
2. Efek desain spion dan perangkat eksterior terhadap siulan angin

Spion samping merupakan komponen eksterior yang paling menonjol dan paling sering mengganggu aliran udara aerodinamis. Desain spion yang tidak melalui uji terowongan angin (wind tunnel) yang baik akan menciptakan hambatan udara besar dan suara siulan (wind noise). Tekanan udara yang menabrak batok spion akan dialirkan kembali ke arah jendela samping, sehingga suara bising terasa sangat dekat dengan telinga pengemudi maupun penumpang depan.
Selain spion, komponen yang sering terlupakan seperti bilah penyapu kaca (wiper) dan celah kap mesin juga memegang peranan penting. Wiper yang posisinya terlalu tinggi di atas garis kap mesin akan memicu turbulensi tambahan tepat di bawah kaca depan. Beberapa produsen mobil mewah kini menyembunyikan posisi wiper di bawah garis kap mesin semata-mata untuk mengurangi gangguan aeroakustik ini. Memahami bahwa suara bising bisa berasal dari bentuk luar spion memberikan perspektif baru bahwa solusi masalah suara tidak selalu berada di dalam kabin.
3. Batasan peredam suara dan solusi desain yang efektif

Peredam suara berbahan aspal atau butil pada dasarnya berfungsi untuk meredam getaran struktur logam (vibration damping) dan kebisingan frekuensi rendah dari ban atau mesin. Namun, suara angin adalah polutan suara frekuensi tinggi yang merambat melalui udara dan celah-celah sempit. Membanjiri mobil dengan lapisan peredam berat hanya akan menambah konsumsi bahan bakar tanpa menyentuh akar permasalahan yang terletak pada desain aerodinamika luar kendaraan.
Solusi yang lebih efektif untuk mengurangi kebisingan aeroakustik adalah dengan memastikan seluruh karet pintu dan jendela dalam kondisi kedap sempurna tanpa ada celah udara sekecil pun. Selain itu, pemasangan aksesori tambahan seperti talang air atau deflektor yang tidak presisi justru sering kali menjadi penyebab utama munculnya suara siulan baru. Memahami konsep aeroakustik membantu pemilik kendaraan untuk lebih teliti dalam melihat desain kendaraan dan tidak hanya mengandalkan peredam tambahan sebagai solusi universal untuk segala jenis kebisingan.



![[QUIZ] Pilih Vespa Klasik Ini, Kami Tebak Kamu Tipe Alpha, Beta, atau Omega](https://image.idntimes.com/post/20251219/upload_0abec96225f86cce0a2ffc9e3d016612_d6f1c34a-5333-4544-9023-250dee3bdbc1.jpg)














