Benarkah Aroma Mobil Baru Bisa Mengancam Kesehatan?

- Kandungan senyawa kimia organik di dalam kabin
- Dampak kesehatan dan risiko jangka pendek
- Langkah mitigasi untuk mengurangi paparan polutan
Aroma khas yang tercium saat pertama kali memasuki kabin mobil baru sering kali dianggap sebagai simbol kemewahan dan kebanggaan bagi pemiliknya. Bagi banyak orang, wangi ini memberikan kepuasan psikologis yang menandakan keberhasilan dan kesegaran sebuah produk yang baru saja keluar dari garis produksi pabrik.
Namun, di balik keharuman yang memikat tersebut, terdapat fakta ilmiah yang jarang disadari oleh masyarakat luas mengenai asal-usul aroma tersebut. Partikel kimia yang melayang di udara kabin sebenarnya merupakan hasil dari pelepasan gas berbagai material interior yang berpotensi memberikan dampak tertentu bagi kondisi fisik manusia.
1. Kandungan senyawa kimia organik di dalam kabin

Wangi mobil baru bukanlah parfum yang sengaja disemprotkan oleh pabrikan, melainkan hasil dari proses yang disebut dengan outgassing atau penguapan senyawa kimia. Material seperti plastik, busa kursi, perekat karpet, kulit sintetis, dan pelapis dasbor melepaskan senyawa organik yang mudah menguap atau Volatile Organic Compounds (VOC). Beberapa zat yang sering ditemukan dalam proses ini antara lain benzena, toluena, dan formaldehida yang digunakan dalam proses manufaktur komponen interior.
Zat-zat kimia ini dilepaskan secara masif saat mobil masih berada dalam kondisi sangat baru. Konsentrasinya dapat meningkat berkali-kali lipat ketika kendaraan terparkir di bawah terik matahari, karena suhu panas mempercepat proses penguapan material padat menjadi gas. Meskipun bagi sebagian orang aroma ini terasa menyenangkan, secara teknis individu tersebut sedang menghirup campuran polutan kimia dalam ruang yang tertutup rapat dan sempit.
2. Dampak kesehatan dan risiko jangka pendek

Paparan terhadap konsentrasi VOC yang tinggi di dalam ruang kabin dapat memicu berbagai reaksi fisik, terutama bagi individu yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap zat kimia. Gejala yang paling umum ditemukan adalah sakit kepala, pusing, mual, hingga iritasi pada mata dan tenggorokan. Dalam beberapa kasus, pengemudi mungkin merasa cepat lelah atau mengalami gangguan konsentrasi akibat menghirup udara yang terkontaminasi zat sisa produksi tersebut selama perjalanan jauh.
Efek ini sering kali disebut sebagai "Sick Car Syndrome", di mana kualitas udara di dalam kendaraan jauh di bawah standar kesehatan udara luar ruangan. Meskipun dampak jangka panjangnya masih terus diteliti, paparan benzena dan formaldehida dalam durasi yang sangat lama secara teori berkaitan dengan risiko gangguan kesehatan yang lebih serius. Oleh karena itu, penting untuk tidak menganggap remeh reaksi tubuh yang muncul saat berada di dalam kendaraan yang masih baru.
3. Langkah mitigasi untuk mengurangi paparan polutan

Ada beberapa cara efektif yang bisa dilakukan untuk meminimalisir risiko kesehatan tanpa harus kehilangan kenyamanan berkendara. Langkah yang paling utama adalah dengan melakukan ventilasi udara secara maksimal; membuka semua jendela selama beberapa menit sebelum mulai berkendara sangat disarankan untuk membuang udara jenuh kimia yang terperangkap di dalam. Hindari memarkir mobil langsung di bawah sinar matahari dalam waktu lama, atau gunakan pelindung kaca depan guna menjaga suhu kabin tetap rendah.
Selain itu, sangat disarankan untuk tidak menggunakan pengharum ruangan tambahan pada mobil baru, karena hal tersebut justru akan menambah beban kimia di udara kabin. Seiring berjalannya waktu, biasanya setelah enam bulan hingga satu tahun, tingkat outgassing akan menurun secara alami karena sebagian besar zat kimia telah menguap sepenuhnya. Dengan pengelolaan sirkulasi udara yang baik, risiko kesehatan dapat ditekan seminimal mungkin hingga aroma tersebut hilang dengan sendirinya.


















