Mudik Lebaran sering kali menjadi ajang pembuktian kesuksesan bagi banyak perantau yang kembali ke kampung halaman setelah setahun bekerja keras di kota besar. Tanpa disadari, keinginan untuk berbagi kebahagiaan sering kali bergeser menjadi perilaku pamer atau flexing yang dapat melukai perasaan orang lain serta merusak makna suci Idul Fitri. Flexing yang paling umum ketika mudik adalah memamerkan mobil.
Menampilkan kemewahan secara berlebihan bukan hanya menciptakan jarak sosial dengan kerabat di desa, tetapi juga menjauhkan diri dari esensi silaturahmi yang tulus. Menjaga sikap agar tetap membumi memerlukan kesadaran diri yang tinggi agar setiap interaksi yang terjalin didasari oleh rasa kasih sayang, bukan sekadar haus akan pengakuan dan pujian dari lingkungan sekitar.
