Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

3 Kesalahan Perawatan Sepeda Motor, Bisa Memicu Kerusakan Mesin

3 Kesalahan Perawatan Sepeda Motor, Bisa Memicu Kerusakan Mesin
ilustrasi bengkel motor (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Intinya Sih
  • Menggeber mesin setelah mencuci motor bisa memicu kerusakan akibat perbedaan suhu logam dan risiko air tersedot ke ruang bakar atau sensor.
  • Menyemprot lubang oli dengan angin kompresor berpotensi mencampurkan uap air ke dalam oli, menurunkan kualitas pelumasan, dan menyebabkan baret pada komponen mesin.
  • Memasang busi racing pada motor harian dapat menimbulkan penumpukan karbon, membuat mesin sulit dinyalakan, serta meningkatkan konsumsi bahan bakar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Melakukan perawatan secara mandiri atau membawa kendaraan ke bengkel merupakan rutinitas wajib bagi setiap pemilik sepeda motor demi menjaga performa tetap optimal. Namun, banyak kebiasaan yang selama ini dianggap sebagai langkah pemeliharaan yang baik ternyata justru menyimpan risiko kerusakan serius pada komponen internal mesin.

Kurangnya literasi teknis sering kali membuat pemilik motor terjebak dalam mitos otomotif yang merugikan. Bukannya mendapatkan mesin yang lebih awet dan bertenaga, tindakan yang salah dalam menangani detail kecil justru bisa mempercepat keausan komponen, memicu korosi, hingga menyebabkan mesin mengalami kegagalan fungsi total di tengah jalan.

1. Bahaya menggeber mesin secara berlebihan setelah mencuci kendaraan

Ilustrasi menancap gas motor (pexels.com/Gera Cejas)
Ilustrasi menancap gas motor (pexels.com/Gera Cejas)

Kebiasaan menyalakan mesin lalu menarik tuas gas sedalam mungkin atau "menggeber" motor sesaat setelah dicuci sering dilakukan dengan alasan untuk mempercepat penguapan air. Banyak yang mengira bahwa suhu panas yang dihasilkan secara instan akan mengeringkan sela-sela mesin dan knalpot agar terhindar dari karat. Padahal, tindakan ini sangat berisiko karena saat motor dicuci, suhu logam mesin menurun drastis dan sering kali air masih terjebak di area sensor elektrikal atau sambungan kabel.

Menggeber mesin dalam kondisi suhu yang belum stabil dapat memicu pemuaian logam yang tidak merata secara mendadak atau thermal shock. Selain itu, jika ada air yang tidak sengaja masuk ke area filter udara atau lubang knalpot, tarikan gas yang tinggi dapat menyedot sisa air tersebut masuk ke ruang bakar atau merusak sensor oksigen. Cara yang lebih bijak adalah dengan membiarkan mesin menyala dalam kondisi idling atau stasioner selama beberapa menit sambil menyeka sisa air menggunakan kain mikrofiber yang kering.

2. Risiko kontaminasi air akibat menyemprotkan angin kompresor ke lubang oli

ilustrasi menggas motor (unsplash.com/Baptiste DAVID)
ilustrasi menggas motor (unsplash.com/Baptiste DAVID)

Kesalahan yang sangat umum ditemukan di bengkel-bengkel umum adalah penggunaan udara bertekanan tinggi dari kompresor untuk meniup lubang pengisian oli saat proses kuras. Tujuannya memang terdengar logis, yakni agar sisa-sisa oli lama keluar lebih cepat dan bersih. Namun, udara yang keluar dari tangki kompresor sebenarnya mengandung kadar uap air yang sangat tinggi akibat proses kondensasi di dalam tangki yang jarang dikuras.

Ketika udara lembap tersebut disemprotkan ke dalam mesin, uap air akan menempel pada dinding karter dan bercampur dengan oli baru yang akan dituangkan. Percampuran air dan oli ini menciptakan fenomena emulsi yang merusak kemampuan pelumasan oli, bahkan dalam kasus parah bisa mengubah warna oli menjadi keputihan seperti susu. Selain itu, tekanan angin yang kuat justru berpotensi menerbangkan kotoran atau gram besi yang sudah mengendap di bawah untuk kembali naik ke sela-sela gir atau noken as, yang berisiko menyebabkan baret pada komponen presisi.

3. Ketidakcocokan penggunaan busi racing pada mesin motor harian

Jangan tancap gas motor listrik di kecepatan tinggi secara tiba-tiba (unsplash.com/JavyGo)
Jangan tancap gas motor listrik di kecepatan tinggi secara tiba-tiba (unsplash.com/JavyGo)

Banyak pemilik motor mengganti busi standar dengan jenis "racing" karena tergiur klaim peningkatan tenaga dan pengapian yang lebih besar. Padahal, busi racing dirancang khusus untuk mesin dengan kompresi sangat tinggi yang bekerja pada putaran mesin belasan ribu RPM secara terus-menerus. Busi jenis ini biasanya memiliki tingkat panas (heat range) yang tinggi atau disebut sebagai busi dingin, yang fungsinya membuang panas lebih cepat agar tidak terjadi overheat pada mesin balap.

Jika busi dingin ini dipasang pada motor harian yang sering terjebak kemacetan atau hanya digunakan untuk kecepatan rendah, suhu pada ujung busi tidak akan pernah mencapai titik pembersihan mandiri (self-cleaning temperature). Akibatnya, kerak karbon akan menumpuk dengan sangat cepat di ujung busi atau terjadi carbon fouling. Hal ini membuat motor menjadi sangat sulit dinyalakan di pagi hari, mesin sering tersendat (brebet), dan konsumsi bahan bakar justru menjadi jauh lebih boros. Menggunakan busi yang sesuai dengan kode spesifikasi pabrikan adalah kunci utama agar pembakaran tetap sempurna dan mesin tetap panjang umur.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More