11 KRL buatan INKA Melaju di Rel Sebelum Juni 2026

- KAI mendapat PMN Rp5,3 triliun untuk pengadaan KRL baru.
- KAI ajukan pinjaman Rp3,69 triliun buat beli KRL baru.
- Green Line selalu padat, terutama rute Tanah Abang-Rangkasbitung.
Jakarta, IDN Times - Sebanyak 11 rangkaian kereta atau trainset KRL Jabodetabek yang diproduksi oleh PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA akan beroperasi sebelum Juni 2026. PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI sebelumnya sudah memesan 4 rangkaian kereta dari INKA, dan kini sudah beroperasi. Secara total, KAI memesan 16 rangkain kereta ke PT INKA.
“Kita harapkan dari 16 trainset ini sisa dari 11 trainset yang lainnya itu akan bisa kami operasikan sebelum bulan Juli tahun 2026 ini," kata Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XI DPR RI, di Jakarta, Senin (9/2/2026).
1. KAI dapat PMN Rp5,3 triliun buat pengadaan KRL baru

Untuk mengadakan sarana KRL baru, PT KAI membutuhkan dana Rp9,18 triliun. Saat ini, pemerintah memberikan dukungan melalui penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp5,3 triliun.
“Rencana penggunaannya adalah tentunya untuk pengadaan 16 trainset yang sudah kita luncurkan di tahun 2023, dan 4 dari 16 train set ini sudah kita operasikan, dan ada beberapa train set yang saat ini dalam masa uji dan segera kita operasikan,” ujar Bobby
2. KAI ajukan pinjaman Rp3,69 triliun buat beli KRL baru

Selain PMN, KAI juga mengeluarkan kas internal PT KAI Commuter atau KCI sebesar Rp190 miliar untuk pengadaan kereta baru. Lalu, KAI juga mengajukan kredit sindikasi dengan tenor 15 tahun senilai Rp3,69 triliun. Adapun pengadaan KRL baru dibutuhkan, karena sebanyak 908 armada KRL Jabodetabek saat ini sudah memasuki usia 34 hingga 41 tahun. Dengan begitu, maka perlu adanya konservasi terhadap KRL berusia puluhan tahun tersebut.
Lebih lanjut, Bobby mengatakan hal ini terjadi karena kereta yang usianya sudah lebih dari 30 tahun ini merupakan kereta bekas. Di mana sebanyak 780 unit merupakan kereta bekas impor dari JR East Jepang yang kini telah berusia 34–41 tahun. Tak hanya itu, ada 128 unit KRL bekas impor dari Tokyo Metro yang usianya 34-41 tahun.
Adapun kereta baru yang telah dioperasikan KAI hanya 180 kereta yang terdiri dari kereta CRRC Sifang itu ada 132 unit atau 11 train set, dan INKA sebanyak 48 unit atau 4 train set.
"Ini menggambarkan dua kondisi, di mana kalau tanpa pengadaan sarana. Kalau tanpa pengadaan sarana maka di tahun 2030 itu akan terjadi lonjakan sampai 630 persen. Sedangkan kalau dengan pengadaan sarana baru itu ada 156 persen," tutur dia
Bobby mengatakan kondisi kepadatan penumpang KRL pada jam sibuk sudah berada di level mengkhawatirkan. Sebab, dalam satu gerbong KRL pada peak hour, jumlah penumpang bisa mencapai sekitar 300 orang. Dia menggambarkan, dengan ukuran gerbong sekitar 3 x 20 meter atau 60 meter persegi, berarti setiap satu meter persegi ditempati oleh sekitar lima orang.
"Ini menggambarkan kondisi kepadatan penumpang pada KRL di stasiun yang mengakibatkan penurunan tingkat kenyamanan penumpang dan peningkatan risiko terhadap keamanan penumpang," kata Bobby.
3. Green Line selalu padat

KAI juga mencatatkan stasiun-stasiun dengan kepadatan tertinggi, antara lain Stasiun Bogor, Depok, dan Bekasi. Stasiun paling padat adalah Stasiun Sudirman, Manggarai, Tanah Abang, serta Stasiun Sudirman Baru. Namun, menurutnya lebih padat lagi stasiun di jalur hijau atau green line yang melayani rute Tanah Abang-Rangkasbitung.
"Yang paling padat itu adalah jalur yang kita sebut dengan Green Line, itu yang ke Rangkasbitung. Memang pada saat ini kereta yang ke sana itu masih headway-nya 10 sampai 15 menit, belum bisa kita perpendek headway-nya karena memang ada permasalahan sistem dari kelistrikan, elektrifikasinya, dan juga sistem dari signaling-nya," ucap Bobby.

















