3 Indikator yang Bikin Indonesia Swasembada Beras Sejak 2025

- RI mencapai swasembada beras sejak 2025
- Produksi beras lebih dari konsumsi, tanpa impor
Jakarta, IDN Times - Pemerintah menyatakan telah swasembada beras sejak 2025 dengan tak adanya impor untuk komoditas tersebut.
Sepanjang 2024, Indonesia tercatat masih melakukan impor beras sebanyak 4,52 juta ton menurut data Badan Pusat Statistik (BPS).
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, mengatakan, ada tiga indikator yang membuat Indonesia meraih swasembada beras pada 2025.
1. Tak ada impor hingga produksi melebihi konsumsi

Ketut mengatakan, swasembada beras Indonesia sudah sesuai dengan predikat yang ditetapkan Organisasi Pangan Dunia atau Food and Agriculture Organization (FAO).
"Pertama, kita tahun ini tidak melakukan importasi beras lagi. Kedua, produksi kita jauh melebihi daripada konsumsinya. Ketiga, stok Bulog pun juga relatif tinggi, lebih dari 3 juta ton. Artinya, tiga sisi ini yang menunjukkan kita bisa menyatakan bahwa posisi kita swasembada," kata Ketut dikutip dari keterangan resmi, Selasa (6/1/2025).
2. RI produksi lebih dari 34 juta ton beras sepanjang 2025

Ketut mengatakan, Indonesia memproduksi lebih dari 34 juta ton beras sepanjang 2025.
“Sementara kebutuhan kita kan hampir 31 juta ton. Kita punya surplus 3 juta ton. Itu saja sudah menandakan kita sudah swasembada," ujar Ketut.
3. Stok beras awal 2026 sebanyak 12,53 juta ton

Berkat surplus produksi terhadap konsumsi beras tersebut, kata dia, menjadikan stok beras pada awal tahun 2026 mencapai 12,529 juta ton.
Angka tersebut sudah termasuk stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) Perum Bulog yang sebesar 3,25 juta ton. Selebihnya tersebar di masyarakat hingga distributor.
"Persebarannya ada di masyarakat, ada di pedagang, ada di distributor. Dengan begitu, kita butuh selama setiap bulan itu sekitar 2,5 juta ton,” kata Ketut.
Ketut mengatakan, dengan stok beras di awal tahun itu, maka kebutuhan beras sebelum panen raya sudah terpenuhi.
“Jadi dengan 12,5 juta ton tadi, kekuatan kita sudah sangat kuat untuk menjaga ketahanan pangan. Belum lagi nanti Januari dan Februari produksi. Maret dan April panen raya. Ini menandakan kita di 2026 pun akan semakin kuat," ucap dia.



















