ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)
Di sisi lain, penjaminan simpanan koperasi berpotensi memberikan sejumlah manfaat. Kebijakan tersebut dapat meningkatkan perlindungan anggota, memperkuat kepercayaan terhadap koperasi, serta mengurangi risiko rush ketika koperasi menghadapi masalah.
Dalam jangka panjang, penjaminan juga dapat mendukung inklusi keuangan karena masyarakat memperoleh perlindungan ketika menyimpan dana pada koperasi yang memenuhi persyaratan.
Namun, Irman mengingatkan adanya risiko moral hazard jika penjaminan diterapkan sebelum tata kelola dan pengawasan diperkuat.
"Anggota koperasi berpotensi menjadi kurang sensitif dalam membedakan koperasi yang sehat dan berisiko karena merasa simpanannya telah dijamin," bebernya.
Di sisi lain, pengelola koperasi dapat terdorong menawarkan imbal hasil lebih tinggi atau mengambil risiko aset yang lebih besar karena akses pendanaan menjadi lebih mudah.
Dari sisi LPS, dampak kebijakan tersebut juga tidak hanya berkaitan dengan likuiditas. LPS memang berpotensi memperoleh tambahan premi dari peserta baru, sehingga penambahan cakupan penjaminan tidak serta-merta mengurangi likuiditas LPS.
Namun, LPS juga akan menghadapi contingent liability dan tail risk baru dari sektor koperasi yang memiliki karakteristik risiko, tata kelola, serta kualitas data yang berbeda dengan perbankan.
"Besarnya risiko akan bergantung pada berapa besar simpanan yang dijamin, coverage limit, probability of failure, recovery value ketika koperasi gagal, serta kemungkinan beberapa koperasi mengalami masalah secara bersamaan," ujar Irman.
Menurut dia, apabila cakupan penjaminan terlalu luas sementara premi dan standar prudensial tidak mencerminkan profil risiko, potensi klaim saat terjadi tekanan dapat meningkat dan menambah beban sumber daya LPS.