Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Anggota DPR: Defisit APBN-Tekanan Fiskal Alarm Serius Stabilitas Ekonomi

Anggota DPR: Defisit APBN-Tekanan Fiskal Alarm Serius Stabilitas Ekonomi
Anggota Komisi XI DPR RI Eric Hermawan soroti tekanan fiskal di tengah ketidakpastian global. (Dok. DPR RI)
Intinya Sih
  • Eric Hermawan menyoroti defisit APBN Rp135,7 triliun dan kontraksi penerimaan Rp94,3 triliun sebagai tanda tekanan fiskal serius yang mengancam stabilitas ekonomi nasional.
  • Ia memperingatkan risiko inflasi hingga hiperinflasi akibat ekspansi fiskal Rp200 triliun tanpa transmisi efektif ke sektor riil, serta bahaya pertumbuhan ekonomi berbasis utang.
  • Eric menekankan perlunya pengelolaan fiskal yang prudent dan adaptif, termasuk menjaga keseimbangan Transfer ke Daerah agar tidak menimbulkan ketimpangan pembangunan dan guncangan fiskal lokal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Anggota Komisi XI DPR RI, Eric Hermawan, kembali menyoroti tekanan fiskal yang semakin dalam pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kondisi ini menjadi sinyal serius bagi keberlanjutan ekonomi nasional.

Dalam dua bulan pertama tahun anggaran, defisit APBN telah mencapai Rp135,7 triliun, diiringi kontraksi penerimaan negara sebesar Rp94,3 triliun.

Eric mengatakan kondisi ini mencerminkan terjadinya tekanan likuiditas yang signifikan di tengah ketidakpastian global dan pelemahan fundamental ekonomi domestik.

1. Struktur pengelolaan fiskal tak seimbang

Anggota DPR: Defisit APBN dan Tekanan Fiskal Alarm Serius Stabilitas Ekonomi
Anggota Komisi XI dari Fraksi Partai Golkar DPR RI, Eric Hermawan soroti pelebaran defisit APBN 2025. (Dok. Fraksi Golkar).

Eric menilai fenomena ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan struktural dalam pengelolaan fiskal. “Defisit yang melebar dalam waktu singkat menunjukkan bahwa kapasitas fiskal kita sedang tertekan. Ini bukan hanya persoalan siklus, tetapi sudah mengarah pada tekanan struktural yang harus segera direspons secara komprehensif,” ujarnya, Minggu (5/4/2026).

Menurut Eric, salah satu indikator yang paling mengkhawatirkan adalah lonjakan rasio beban bunga utang terhadap penerimaan negara, khususnya pajak. Dengan rasio yang telah memasuki kategori sangat rentan, sebagian besar pendapatan negara terserap untuk membayar bunga utang, bukan untuk belanja produktif.

Hal ini berimplikasi pada semakin sempitnya fiscal space pemerintah dalam menjalankan fungsi alokasi dan distribusi. “Ketika APBN lebih banyak terserap untuk debt servicing, maka ruang untuk investasi publik menjadi terbatas. Ini berisiko menekan pertumbuhan jangka panjang,” kata Legislator Golkar itu.

2. Wanti-wanti ancaman hiperinflasi imbas ekspansi fiskal Rp200 triliun

Anggota DPR: Defisit APBN dan Tekanan Fiskal Alarm Serius Stabilitas Ekonomi
Anggota Komisi XI dari Fraksi Partai Golkar DPR RI, Eric Hermawan soroti pelebaran defisit APBN 2025. (Dok. Fraksi Golkar).

Eric turut menyoroti strategi pemerintah terkait ekspansi fiskal melalui stimulus dan intervensi likuiditas, termasuk penempatan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun pada perbankan nasional.

Ia menekankan, kebijakan ini harus diiringi dengan transmisi yang efektif ke sektor riil. Tanpa itu, peningkatan jumlah uang beredar berpotensi menciptakan tekanan inflasi yang bersifat struktural.

"Jika ekspansi likuiditas tidak diimbangi dengan peningkatan output, maka kita menghadapi risiko demand-pull inflation bahkan potensi hiperinflasi dalam skenario ekstrem,” jelasnya.

Eric juga mengkritisi orientasi kebijakan yang terlalu menekankan pencapaian target pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan kualitas pertumbuhan. Ia menyebut fenomena debt-fueled growth sebagai risiko nyata yang dapat membebani APBN di masa depan.

“Pertumbuhan yang didorong oleh utang bersifat semu dan tidak berkelanjutan. Yang kita butuhkan adalah pertumbuhan berbasis produktivitas dan penguatan sektor riil,” ujarnya.

3. Ingatkan kebijakan fiskal harus dikelola secara prudent

Anggota DPR: Defisit APBN dan Tekanan Fiskal Alarm Serius Stabilitas Ekonomi
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (IDN Times/Aditya Pratama)

Adapun, dalam konteks APBN 2026, Eric turut menyoroti penurunan signifikan Transfer ke Daerah (TKD) sebagai bentuk konsolidasi fiskal yang berpotensi menimbulkan fiscal shock di tingkat daerah. Menurut dia, penurunan ini dapat mengurangi kapasitas daerah dalam menyediakan layanan publik dan menghambat inovasi ekonomi lokal.

“Sentralisasi belanja harus diimbangi dengan penguatan peran daerah. Jika tidak, maka akan terjadi ketimpangan dalam distribusi pembangunan,” katanya.

Selain itu, ia menekankan bahwa asumsi makro ekonomi seperti target pertumbuhan 5,4 persen, nilai tukar rupiah, serta harga komoditas harus disusun secara realistis dan adaptif terhadap dinamika global. Deviasi terhadap asumsi tersebut dapat berdampak langsung pada postur APBN, baik dari sisi penerimaan maupun belanja negara.

Oleh karena itu, kata Eric, kredibilitas kebijakan fiskal sangat bergantung pada akurasi perencanaan dan disiplin dalam implementasi. Dia menegaskan pentingnya transformasi pengelolaan fiskal menuju pendekatan yang lebih prudent, adaptif, dan berbasis risiko. Ia mendorong optimalisasi instrumen investasi di luar APBN untuk menjaga keberlanjutan pembiayaan pembangunan.

Menurut Eric, kalau dilihat dari kondisi sekarang, isu-isu seperti defisit APBN, penempatan dana Rp200 triliun di perbankan, hingga penurunan TKD masih sangat relevan. Defisit menunjukkan ruang fiskal yang makin sempit, penempatan dana perlu dipastikan benar-benar mengalir ke sektor riil agar tidak memicu inflasi, dan penurunan TKD bisa berdampak langsung pada kemampuan daerah dalam menjalankan pembangunan.

"Karena itu, kebijakan fiskal harus benar-benar dijalankan dengan hati-hati dan tepat sasaran agar tetap menjaga stabilitas ekonomi nasional," kata dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya
Follow Us

Latest in Business

See More