Antam-IBC-Huayou Siapkan Studi Ekosistem Baterai Terintegrasi

- Antam memegang peran hulu dalam pengelolaan sumber daya mineral untuk mendukung industri baterai di Indonesia.
- Huayou melihat posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok baterai global dan berkomitmen mendukung pengembangan industri baterai di Indonesia.
- Target kapasitas proyek ekosistem baterai terintegrasi mencapai 20 GWh dengan nilai investasi 5-6 miliar dolar AS, serta penerapan prinsip tata kelola dan keberlanjutan dalam pengembangan proyek.
Jakarta, IDN Times - PT Aneka Tambang Tbk (Antam), Indonesia Battery Corporation (IBC), dan Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. menandatangani Framework Agreement (FA) untuk mempercepat pengembangan ekosistem baterai terintegrasi di Indonesia.
Kerja sama tersebut turut melibatkan HYD Investment Limited, konsorsium Huayou dengan EVE Energy Co., Ltd., serta PT Daaz Bara Lestari Tbk. Kolaborasi itu mencakup pengembangan rantai pasok baterai dari hulu hingga hilir, mulai dari pengelolaan sumber daya nikel, pengolahan dan pemurnian, hingga produksi baterai.
Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif menyampaikan, kerja sama tersebut ditujukan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam industri baterai terintegrasi global. Dia menyatakan, pengembangan industri diarahkan agar Indonesia tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku.
"IBC dibentuk untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi menjadi pusat industri baterai terintegrasi yang berdaya saing global dan berkelanjutan," kata dia, Jumat (30/1/2026).
1. Antam pegang peran hulu

Dari sisi hulu, Antam menegaskan perannya sebagai penyedia bahan baku strategis. Direktur Utama Antam Untung Budiharto menyampaikan, kerja sama itu sejalan dengan mandat perusahaan dalam mendorong hilirisasi mineral di dalam negeri.
Dia mengatakan, sinergi dengan IBC dan mitra global diperlukan untuk memastikan pengelolaan sumber daya mineral memberi nilai tambah di dalam negeri serta mendukung pengembangan industri baterai.
"Melalui sinergi dengan IBC dan mitra global seperti Huayou, kami berkomitmen mendukung pengembangan ekosistem baterai terintegrasi yang berkelanjutan, berdaya saing, dan sejalan dengan kepentingan strategis nasional,” ujar Untung.
2. Huayou melihat posisi strategis Indonesia

Presiden Direktur Huayou Chen Xuehua menilai Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok baterai global, baik dari sisi ketersediaan sumber daya maupun arah kebijakan industrialisasi. Menurutnya, kerja sama tersebut diarahkan untuk mendukung pengembangan industri baterai di Indonesia melalui dukungan teknologi dan pengalaman industri.
"Melalui kerja sama ini, kami berkomitmen menghadirkan teknologi, pengalaman industri, serta praktik keberlanjutan global untuk mendukung pengembangan ekosistem baterai terintegrasi di Indonesia,” ujar Chairman Huayou.
3. Target kapasitas proyek hingga 20 GWh

Ekosistem baterai terintegrasi yang direncanakan akan dirinci lebih lanjut melalui studi kelayakan (feasibility study) bersama. Proyek itu memiliki potensi kapasitas produksi hingga 20 gigawatt hour (GWh) dengan nilai investasi diperkirakan mencapai 5-6 miliar dolar AS.
Framework Agreement tersebut menjadi dasar penyusunan studi kelayakan dan perjanjian lanjutan yang akan dilakukan secara bertahap, dengan Antam, IBC, dan Huayou menyepakati penerapan prinsip tata kelola dan keberlanjutan dalam pengembangan proyek.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, proyek tersebut awalnya dikembangkan bersama LG, namun pemerintah memutuskan melanjutkan pengembangan dengan mitra lain agar agenda hilirisasi tetap berjalan.
“Ini adalah bagian dari negosiasi yang cukup panjang sekali sejak saya masih Kepala BKPM/Menteri Investasi. Waktu itu adalah bagaimana kita mendorong pembangunan realisasi dan membangun ekosistem baterai mobil yang terintegrasi,” kata Bahlil.
















