ilustrasi wanita berpikir (pexels.com/Pavel Danilyuk)
Konsep bond vigilantism tidak sepenuhnya diterima kalangan ekonom. Kritikus seperti Paul Krugman dan Adam Tooze menilai bukti mengenai keberadaan aksi terkoordinasi bond vigilantes masih terbatas.
Menurut pandangan tersebut, kenaikan imbal hasil obligasi belum tentu mencerminkan aksi kolektif investor untuk memberi tekanan terhadap pemerintah, melainkan bisa menjadi respons normal terhadap perubahan kondisi ekonomi dan arah kebijakan.
Perdebatan ini juga berkaitan dengan dampak lebih luas terhadap masyarakat. Kenaikan suku bunga akibat lonjakan yield dapat membuat biaya kredit perumahan, kartu kredit, dan pinjaman lainnya menjadi lebih mahal.
Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga dapat meningkatkan pendapatan bunga bagi pemegang obligasi maupun nasabah yang menyimpan dana dalam instrumen berbunga.
Analisis terhadap aksi jual obligasi pada 1980-an menunjukkan bahwa perilaku investor dapat dijelaskan melalui dua pendekatan. Pertama, narasi vigilante yang melihat investor bertindak untuk memberi tekanan terhadap pembuat kebijakan. Kedua, narasi pasar yang menilai investor hanya melakukan penyesuaian portofolio berdasarkan situasi fiskal dan moneter.
Sejumlah pengamat juga menilai koordinasi besar-besaran antar investor obligasi sulit dilakukan karena membutuhkan kepentingan dan waktu yang sejalan. Selain itu, aksi jual obligasi dalam skala besar juga memiliki biaya tinggi karena investor harus melepaskan potensi pendapatan bunga yang dimiliki.