ilustrasi deflasi (freepik.com/starline)
Liquidity trap terjadi ketika konsumen, investor, dan pelaku usaha secara bersamaan memilih menimbun uang tunai, sehingga perekonomian menjadi kurang responsif terhadap kebijakan yang bertujuan mendorong aktivitas ekonomi.
Beberapa karakteristik utama dari kondisi ini antara lain suku bunga berada di level sangat rendah atau mendekati nol persen, perekonomian berada dalam fase resesi, tingkat tabungan pribadi relatif tinggi, inflasi rendah atau terjadi deflasi, serta kebijakan moneter ekspansif yang tidak berjalan efektif.
Jepang tercatat mengalami liquidity trap sejak awal 1990-an. Kondisi ini ditandai dengan penurunan suku bunga yang agresif, namun tidak diikuti peningkatan investasi. Sepanjang dekade 1990-an, perekonomian Jepang juga dibayangi deflasi, bahkan hingga 2022 negara tersebut masih menerapkan suku bunga negatif sebesar -0,1 persen.
Tekanan ekonomi turut tercermin di pasar saham. Indeks saham utama Jepang, Nikkei 225, merosot tajam dari puncaknya di atas 38.000 pada Desember 1989.
Hingga awal 2023, indeks tersebut masih berada jauh di bawah level tertingginya. Nikkei 225 sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa tahun di atas 29.000 pada Agustus 2022, sebelum kembali melemah ke kisaran 27.500 sekitar sebulan kemudian.
Bank sentral Jepang sebelumnya telah menurunkan suku bunga hingga level 0 persen. Namun demikian, investasi, konsumsi, dan inflasi tetap bergerak terbatas selama beberapa tahun setelah puncak krisis, mencerminkan sulitnya perekonomian keluar dari jeratan liquidity trap.