Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apindo Ungkap 3 Resep Komunikasi Publik Efektif

Chairperson of the Indonesian Employers’ Association (APINDO) Shinta Widjaja Kamdani dalam penghargaan Inspiring Newsmaker 2025 pada acara SAT 2026. (IDN Times/Herka Yanis)
Chairperson of the Indonesian Employers’ Association (APINDO) Shinta Widjaja Kamdani dalam penghargaan Inspiring Newsmaker 2025 pada acara SAT 2026. (IDN Times/Herka Yanis)
Intinya sih...
  • Apindo menegaskan pentingnya komunikasi publik yang terbuka, bertanggung jawab, dan berorientasi pada substansi.
  • Komunikasi publik efektif harus memenuhi tiga prinsip utama: explain, engage, dan empathy.
  • Pesan yang disampaikan harus tepat sasaran, relevan, kuat, dan dapat dipertanggungjawabkan secara profesional.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menegaskan pentingnya komunikasi publik yang terbuka, bertanggung jawab, dan berorientasi pada substansi. Komunikasi publik dinilai bukan sekadar menyampaikan pesan, melainkan strategi untuk membangun pemahaman sekaligus kepercayaan publik.

Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani menyampaikan, komunikasi publik yang efektif setidaknya harus memenuhi tiga prinsip utama, yakni explain, engage, dan empathy, yang dirangkum dalam konsep 3E.

“Yang pertama adalah explain. Kita harus menjelaskan sejelas-jelasnya. Penjelasan itu sangat penting, dan kita harus sadar saat berbicara di ruang publik, kita mewakili organisasi, bukan suara pribadi,” ujarnya saat menerima penghargaan Inspiring Newsmaker of The Year 2025 by IDN Times, Kamis (12/1/2025).

1. Perlunya pemahaman terhadap posisi dan peran sangat krusial

Chairperson of the Indonesian Employers’ Association (APINDO) Shinta Widjaja Kamdani dalam penghargaan Inspiring Newsmaker 2025 pada acara SAT 2026.
Chairperson of the Indonesian Employers’ Association (APINDO) Shinta Widjaja Kamdani dalam penghargaan Inspiring Newsmaker 2025 pada acara SAT 2026. (IDN Times/Herka Yanis)

Shinta menekankan, pemahaman terhadap posisi dan peran dalam komunikasi publik sangat krusial. Hal ini termasuk mengenali target audiens yang dituju, mengingat publik memiliki karakter dan saluran informasi yang beragam.

Pesan yang disampaikan, menurutnya, harus tepat sasaran dan relevan. Substansi komunikasi juga harus kuat serta dapat dipertanggungjawabkan secara profesional.

“Penjelasan yang baik harus didukung oleh fakta dan data. Di Apindo, kami sangat spesifik dengan itu, karena apa yang disampaikan harus bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.

2. Perlu keterlibatan aktif dengan para pemangku kepentingan

Chairperson of the Indonesian Employers’ Association (APINDO) Shinta Widjaja Kamdani dalam penghargaan Inspiring Newsmaker 2025 pada acara SAT 2026. (IDN Times/Herka Yanis)
Chairperson of the Indonesian Employers’ Association (APINDO) Shinta Widjaja Kamdani dalam penghargaan Inspiring Newsmaker 2025 pada acara SAT 2026. (IDN Times/Herka Yanis)

Elemen kedua dalam konsep 3E adalah engage, yakni keterlibatan aktif dengan para pemangku kepentingan. Komunikasi publik, kata Shinta, tidak cukup berhenti pada penjelasan, tetapi harus membangun interaksi dan dialog yang konstruktif.

Adapun elemen ketiga dan paling krusial adalah empathy. Komunikasi publik harus mampu membangun empati agar pesan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

“Pada akhirnya kita menyampaikan satu komunikasi itu we want to build sebuah empathy, jadi komunikasi publik itu tidak sesederhana kita cuma mau menyampaikan, kita baca, menghafalkan. Tapi kita juga harus mempertanggungjawabkan Apa yang kita sampaikan dan kadang-kadang itu tidak mudah,” beber Shinta.

3. Kritik akan selalu datang dan harus diterima

Shinta Kamdani di Kantor IDN Times (IDN Times/Shinta Kamdani)
Shinta Kamdani di Kantor IDN Times (IDN Times/Shinta Kamdani)

Shinta menambahkan, komunikasi publik bukanlah perkara sederhana. Kritik akan selalu muncul, baik ketika terlalu banyak berbicara maupun saat dinilai kurang menyampaikan pesan.

Namun, kritik tersebut harus diterima sebagai bagian dari proses pembelajaran dan perbaikan berkelanjutan. Menurutnya, tidak ada komunikasi yang sepenuhnya benar tanpa evaluasi.

“Tidak pernah ada yang benar sepenuhnya. Kita harus terbiasa menerima kritik untuk memperbaiki diri. Yang pasti, keseimbangan itu penting, dan di sinilah peran media membantu menakar sejauh mana kualitas komunikasi publik kita,” ujarnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ilyas Listianto Mujib
EditorIlyas Listianto Mujib
Follow Us

Latest in Business

See More

Trump Bakal Beri Tarif Dagang ke Negara yang Tolak AS Ambil Greenland

17 Jan 2026, 23:34 WIBBusiness