AS Mau Kenakan Tarif 100 Persen buat Furnitur, RI Bakal Nego Trump

- Pemerintah RI menyiapkan argumentasi kuat bahwa produk furnitur yang diekspor Indonesia tidak bersaing dengan produsen di AS dan menekankan peran industri furnitur Indonesia dalam menyerap tenaga kerja.
- Indonesia menegosiasi agar Trump menurunkan tarif 19 persen terhadap produk-produk seperti kopi, kelapa sawit, kakao, karet, serta produk lainnya yang tidak diproduksi di AS.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mau mengenakan tarif bea masuk resiprokal sebesar 100 persen atas ekspor produk furnitur dari Indonesia.
Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mari Elka Pangestu mengatakan pemerintah terkejut saat mendengar kabar tersebut. Mari mengatakan, pemerintah sedang berupaya menegosiasi AS untuk tidak menerapkan wacana tersebut.
"Kemarin dia baru umumkan mau kenakan 100 persen untuk furnitur misalnya. Kagetlah kita ya. Nah ini kita mau minta pengecualian. Jadi ini juga bagian dari yang terus kita akan negosiasi," kata Mari usai menjadi pembicara dalam Indonesia Summit 2025 by IDN Times di The Tribrata, Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Rabu (27/8/2025).
1. RI siapkan jurus buat bujuk AS tak kenakan tarif 100 persen

Mari mengatakan, dalam melakukan negosiasi, pemerintah harus menyiapkan argumentasi kuat. Salah satunya, fakta bahwa produk furnitur yang diekspor Indonesia memang tak diproduksi di AS, sehingga tak bersaing dengan produsen di Negeri Paman Sam itu.
"Nah jadi minta pengecualiannya itu harus berdasar. Berdasarkan apa? Ini kan tidak bersaing dengan produk Amerika. Dan gak mungkin ini produk di produksi di sana," ucap Mari.
Selain itu, pemerintah juga menekankan peran industri furnitur Indonesia yang menyerap banyak tenaga kerja.
"Sementara itu sangat penting buat kita, mengerjakan berapa banyak orang, berapa banyak petani, kita juga harus punya argumentasi," ujar Mari.
2. RI nego Trump buat turunkan tarif 19 persen pada sawit hingga karet

Selain itu, Indonesia juga menegosiasi agar Trump menurunkan tarif 19 persen terhadap produk-produk yang tidak diproduksi di AS. Misalnya seperti kopi, kelapa sawit, kakao, dan karet, serta produk lainnya.
"Untuk penurunan tarif, untuk yang 19 persen dengan kriteria tidak diproduksi di sana. Dia tidak memiliki secara natural di sana, dan tidak besar," tutur Mari.
3. RI juga minta tarif untuk alumunium dan produk otomotif diturunkan

Mari mengatakan, untuk produk dari sektor-sektor tertentu (sectoral tariff), dikenakan bea masuk sebesar 25 persen. Produknya antara lain alumunium, baja, dan produk otomotif.
Mari mengatakan, pemerintah juga akan terus melakukan negosiasi agar tarifnya bisa diturunkan lagi.
"Kalau untuk yang sektoral, ban mobil, dan beberapa produk aluminium dan steel (baja)," ucap Mari.