Sentimen negatif bagi rupiah juga datang dari kebijakan moneter di AS. Presiden The Fed wilayah Minneapolis, Neel Kashkari menegaskan, fokus utama bank sentral saat ini telah bergeser kembali pada penanganan inflasi yang tinggi, ketimbang mengkhawatirkan kondisi pasar tenaga kerja yang memburuk.
Pergeseran fokus langsung memicu respons dari para pelaku pasar. Berdasarkan survei terbaru, sebanyak 52,3 persen ekonom memproyeksikan bahwa The Fed kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga acuan di level tinggi hingga akhir tahun, bahkan terbuka peluang untuk menaikkannya satu kali lagi.
"Indikasi ini yang membuat dolar kembali terjadi gap up ya. Pembukaan pasar tadi jam 6 pagi dolar terjadi gap up kenaikan yang cukup signifikan," ujar Ibrahim.