Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rupiah Terus Tertekan Imbas Tensi Timur Tengah dan Eropa Timur Memanas

Rupiah Terus Tertekan Imbas Tensi Timur Tengah dan Eropa Timur Memanas
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
Intinya Sih
  • Nilai tukar rupiah melemah akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur, mendorong investor beralih ke aset aman seperti dolar AS.
  • Konflik antara Amerika Serikat dan Iran, serta serangan Rusia ke Kiev, memperkuat kekhawatiran pasar global dan menambah tekanan pada mata uang negara berkembang.
  • Ketegangan di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dunia hingga mendekati 96 dolar AS per barel, menambah beban inflasi dan tekanan terhadap rupiah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan seiring meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur. Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi menilai konflik yang makin memanas membuat pelaku pasar beralih ke aset safe haven seperti dolar AS.

Menurut Ibrahim, situasi di Timur Tengah kini semakin mengkhawatirkan setelah Amerika Serikat disebut melakukan serangan terhadap instalasi militer di Iran Selatan. Kondisi itu diperparah dengan ancaman balasan dari Iran yang berpotensi memperluas konflik di kawasan.

“Geopolitik di Timur Tengah semakin memanas, di mana Amerika melakukan penyerangan terhadap instalasi yang ada di Iran Selatan. Kemungkinan besar akan mendapat balasan setimpal dari pasukan Iran,” ujar Ibrahim dalam pernyataan resminya kepada awak media, di Jakarta, Kamis (28/5/2026).

1. Konflik Timur Tengah bikin pasar global waswas

Rupiah Terus Tertekan Imbas Tensi Timur Tengah dan Eropa Timur Memanas
ilustrasi konflik di Timur Tengah (pexels.com/Ahmed akacha)

Ibrahim juga menyoroti pernyataan Presiden AS Donald Trump yang disebut mengancam Oman. Padahal, Oman selama ini dikenal sebagai negara mediator perdamaian antara Iran dan AS.

Menurut Ibrahim, AS juga disebut sedang mempersiapkan perang skala besar dengan Iran. Bahkan, kapal-kapal perang AS dilaporkan sudah berada di Israel untuk memperkuat posisi menghadapi potensi konflik lanjutan.

“Artinya, kemungkinan besar jeda waktu gencatan senjata ini akan digunakan Amerika dan Israel untuk memperkuat posisinya untuk melakukan serangan besar-besaran terhadap Iran,” kata dia.

2. Ketegangan Rusia-Ukraina ikut dorong dolar AS

Rupiah Terus Tertekan Imbas Tensi Timur Tengah dan Eropa Timur Memanas
ilustrasi perang Rusia-Ukraina (commons.wikimedia.org/Ministry of Defense of Ukraine)

Bukan hanya Timur Tengah, konflik Rusia dan Ukraina juga dinilai memperbesar tekanan terhadap pasar keuangan global. Ibrahim menyebut serangan besar Rusia ke Kiev membuat tensi geopolitik Eropa Timur meningkat tajam.

“Kiev sudah hancur lebur oleh penyerangan Rusia. Ukraina meminta bantuan Amerika untuk misil Patriot dan meminta bantuan NATO untuk misil-misil canggih guna melawan Rusia,” ujar dia.

Situasi tersebut membuat investor global cenderung mengalihkan dana ke dolar AS yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian global. Dampaknya, mata uang negara berkembang mengalami tekanan, termasuk rupiah.

Ibrahim menilai, kombinasi konflik Timur Tengah dan Eropa Timur menjadi faktor utama meningkatnya volatilitas di pasar keuangan dunia dalam beberapa waktu terakhir.

3. Harga minyak melonjak akibat ancaman di Selat Hormuz

Ilustrasi harga minyak naik
Ilustrasi harga minyak naik (IDN Times/Arief Rahmat)

Selain menekan rupiah, konflik geopolitik juga memicu kenaikan harga minyak dunia. Ibrahim mengatakan ketegangan di kawasan Selat Hormuz membuat pasar khawatir terhadap gangguan distribusi energi global.

“Nah ini yang kemungkinan besar akan membuat ketegangan tersebut di Selat Hormuz yang akan memicu harga minyak naik,” ujarnya.

Ibrahim menyebut harga minyak WTI kini sudah kembali melonjak hingga mendekati 96 dolar AS per barel akibat meningkatnya risiko geopolitik.

“Ketegangan di Eropa maupun di Timur Tengah ini membuat harga minyak kembali di atas 92 bahkan sekarang di 96 untuk WTI,” kata dia.

Kenaikan harga minyak tersebut turut menambah tekanan terhadap rupiah karena meningkatkan kekhawatiran inflasi dan beban impor energi Indonesia.

Sebagai informasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali tertekan dalam mengawali perdagangan Kamis (28/5/2026) setelah sempat melewati libur Idul Adha.

Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.13 WIB, mata uang Garuda bergerak melemah 55,50 poin atau sekitar 0,31 persen ke level Rp17.856 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Adapun jelang penutupan perdagangan hari ini, rupiah masih melemah 44,5 poin atau minus 0,25 persen ke level Rp17.845 per dolar AS.

Share Article
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati

Related Articles

See More