AS Tagih Janji Investasi Jepang Senilai Rp9.063 Triliun di Negaranya

- Jepang membatalkan kunjungan ke AS untuk diskusi tarif dagang
- Jepang setuju investasi senilai Rp9.063 triliun di AS, termasuk investasi SoftBank Group kepada Intel
- Jepang memprioritaskan negosiasi soal ekspor kendaraan ke AS, terutama dalam sektor otomotif
Jakarta, IDN Times - Negosiator perdagangan Jepang, Ryosei Akazawa membatalkan kunjungannya ke Amerika Serikat (AS) pada Kamis (28/9/2025). Kedatangannya untuk berdiskusi soal kesepakatan dagang antara AS dan Jepang.
Pada akhir Juli, AS dan Jepang sudah menyetujui penurunan tarif dagang dari awalnya 25 persen menjadi 15 persen. Padahal, AS dan Jepang selama ini dikenal sebagai salah satu sekutu dan rekan dagang utama.
1. Jepang sebut butuh diskusi lebih lanjut dengan AS

Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Yoshimasa Hayashi mengatakan, perjalanan Akazawa tersebut dibatalkan karena harus ada koordinasi lebih lanjut dalam masalah teknis menyusul ketetapan tarif AS.
“Dalam koordinasi dengan AS karena ini menjadi terang bahwa poin tertentu dibutuhkan untuk diskusi teknikal. Perjalanan ini dibatalkan dan ini memang diputuskan untuk melanjutkannya dalam tingkatan administratif,” terangnya, dikutip dari CNBC.
Hayashi meminta AS untuk mengubah ketetapan dari Presiden AS, Donald Trump terkait dengan tarif mobil dan suku cadang kendaraan dari Jepang sesegera mungkin.
2. Lutnick sebut Jepang setujui investasi senilai Rp9.063 triliun
Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick menyebut, perwakilan Jepang akan menyetujui investasi di AS senilai 550 miliar dolar AS (Rp9.063 triliun) pekan ini.
“Kesepakatan dengan Jepang yang akan diumumkan pekan ini senilai Rp9.063 triliun kepada Donald Trump. Investasi itu dapat digunakan untuk mengembangkan produk manufaktur semikonduktor, antibiotik, dan logam tanah jarang,” ungkapnya.
Di samping ini, perusahaan Jepang, SoftBank Group sudah menginvestasikan sebesar 2 miliar dolar AS (Rp32,9 triliun) kepada Intel. Namun, investasi tersebut tidak termasuk dalam paket investasi kali ini untuk menurunkan tarif resiprokal.
3. Jepang memprioritaskan negosiasi soal ekspor kendaraan ke AS

Pada awal Agustus, Akazawa menyebut bahwa Jepang akan memprioritaskan sektor otomotif dalam negosiasi dengan AS untuk menurunkan tarif resiprokal.
“Tidak ada titik dalam menetapkan sebuah perjanjian perdagangan dengan AS tanpa sebuah kesepakatan soal tarif resprokal di sektor otomotif,” tuturnya, dikutip dari The Street.
Sementara itu, pasar otomotif AS menjadi salah satu yang terpenting bagi Jepang. Negara Asia Timur itu sudah mengekspor mobil senilai 40,76 miliar dolar AS (Rp672,5 triliun) pada 2024.
Tak hanya mengekspor, perusahaan otomotif Jepang juga sudah berinvestasi dan membangun pabrik di AS. Pabrikan mobil Jepang sudah memproduksi 3,28 juta mobil di AS pada 2024.