10 Merek Makanan-Minuman Ini Disangka Brand Luar padahal Asli Indonesia

- J.Co Donuts & Coffee, brand lokal dengan konsep internasional
- SilverQueen, cokelat premium asli Indonesia yang diekspor ke berbagai negara
- CFC, restoran cepat saji lokal yang berhasil menyesuaikan dengan preferensi konsumen Indonesia
Banyak merek makanan yang beredar luas di Indonesia kerap disangka berasal dari luar negeri oleh konsumen. Anggapan tersebut muncul karena penggunaan nama berbahasa asing, konsep gerai modern, serta kemasan yang mengusung standar internasional, padahal sejumlah merek tersebut justru lahir, berkembang, dan diproduksi oleh perusahaan lokal Indonesia.
Strategi branding yang kuat membuat produk-produk ini mampu bersaing dengan brand global, bahkan menembus pasar internasional. Tak sedikit konsumen yang baru menyadari fakta tersebut setelah mencari informasi lebih jauh. Lantas, merek makanan ini disangka brand luar negeri apa saja yang ternyata asli Indonesia?
1. J.Co Donuts & Coffee tampil seperti brand Amerika

J.Co Donuts & Coffee kerap dianggap sebagai merek asal Amerika Serikat (AS) karena hampir seluruh elemen branding-nya menggunakan bahasa Inggris dan mengadopsi gaya gerai modern ala kafe internasional. Mulai dari nama menu, desain interior, hingga konsep dapur terbuka, semuanya dirancang untuk memberi pengalaman yang terasa global. Persepsi sebagai brand luar negeri pun makin kuat karena J.Co banyak ditemui di pusat perbelanjaan besar dan kawasan urban.
Padahal, J.Co merupakan merek lokal Indonesia yang didirikan oleh Johnny Andrean, pengusaha nasional yang sebelumnya sukses membangun jaringan salon dan bisnis waralaba. Ide J.Co muncul setelah ia mempelajari industri donat di AS, lalu mengadaptasinya ke pasar Indonesia. Gerai pertamanya dibuka di Supermal Karawaci dan langsung mendapat sambutan positif hingga akhirnya berekspansi ke berbagai negara.
2. SilverQueen sering dikira cokelat impor

SilverQueen sudah lama dikenal sebagai cokelat favorit lintas generasi di Indonesia, tetapi tidak sedikit konsumen yang mengira merek ini merupakan produk impor. Kualitas rasa yang konsisten, kemasan elegan, serta posisinya sebagai cokelat premium membuat SilverQueen kerap disejajarkan dengan brand cokelat luar negeri. Anggapan ini semakin kuat karena SilverQueen sering dijadikan hadiah untuk momen spesial.
Faktanya, SilverQueen adalah merek cokelat lokal yang diproduksi di Garut, Jawa Barat. Brand ini dikembangkan oleh PT Petra Foods dan telah hadir sejak dekade 1950-an. Dengan ciri khas cokelat berpadu kacang mede, SilverQueen berhasil menembus pasar internasional dan diekspor ke berbagai negara Asia, tanpa meninggalkan identitasnya sebagai produk asli Indonesia.
3. CFC disangka restoran cepat saji asing

Nama California Fried Chicken membuat banyak orang mengira CFC berasal dari AS. Penggunaan kata “California” dan konsep restoran cepat saji identik dengan jaringan internasional turut membentuk persepsi tersebut. Apalagi, industri ayam goreng cepat saji selama ini memang didominasi merek luar negeri.
Padahal, CFC merupakan brand lokal yang dikelola oleh PT Pioneerindo Gourmet International Tbk. Awalnya, perusahaan ini memang bekerja sama dengan waralaba asing sebelum akhirnya berdiri mandiri dan mengembangkan merek sendiri. Sejak saat itu, CFC fokus menyesuaikan menu, rasa, dan harga dengan preferensi konsumen Indonesia, hingga menjadi salah satu restoran cepat saji lokal paling dikenal.
4. Solaria terlihat seperti restoran internasional

Solaria sering disalahartikan sebagai restoran luar negeri karena namanya terdengar global dan tidak secara eksplisit mencerminkan identitas lokal. Konsep restoran yang modern serta pilihan menu Asia, seperti Jepang dan China, membuat banyak orang mengira Solaria merupakan franchise asing. Persepsi tersebut makin kuat karena gerainya tersebar di berbagai pusat perbelanjaan besar.
Kenyataannya, Solaria adalah brand lokal milik Aliuyanto yang berawal dari usaha sederhana. Sejak berdiri pada pertengahan 1990-an, Solaria berkembang pesat dan berhasil bertahan melewati krisis ekonomi. Hingga kini, Solaria dikenal sebagai restoran keluarga dengan harga terjangkau dan menu yang disesuaikan dengan selera masyarakat Indonesia.
5. Holland Bakery dikira milik Belanda

Penggunaan nama “Holland” membuat Holland Bakery kerap diasosiasikan dengan Belanda. Ditambah lagi, identitas visual dan konsep toko rotinya terkesan klasik ala Eropa. Tak heran jika banyak konsumen mengira Holland Bakery merupakan merek roti impor.
Faktanya, Holland Bakery sepenuhnya dimiliki dan dikembangkan oleh perusahaan Indonesia, PT Mustika Cita Rasa. Berdiri sejak 1978, brand ini menjadi pelopor toko roti modern di Indonesia. Dengan ratusan gerai yang tersebar di berbagai kota, Holland Bakery justru menjadi salah satu simbol kesuksesan merek roti lokal.
6. Richeese Factory dianggap brand luar karena konsepnya

Richeese Factory kerap disangka sebagai merek luar negeri karena hampir seluruh identitas mereknya menggunakan bahasa Inggris. Nama brand, konsep restoran cepat saji, hingga visual gerai yang modern membuatnya terlihat seperti jaringan internasional. Banyak konsumen mengira Richeese Factory berasal dari Amerika atau Eropa.
Padahal, Richeese Factory merupakan brand lokal Indonesia yang berada di bawah naungan PT Kaldu Sari Nabati atau Nabati Group. Merek ini dikenal sebagai pelopor restoran cepat saji dengan saus keju sebagai menu utama, dipadukan dengan ayam goreng pedas bertingkat. Konsep unik tersebut berhasil membedakan Richeese Factory dari kompetitor dan mendorong ekspansi hingga ke luar negeri.
7. La Fonte terdengar seperti pasta Italia

Nama La Fonte kerap membuat konsumen mengira produk ini berasal dari Italia. Penggunaan bahasa asing dan fokus pada produk pasta semakin menguatkan kesan sebagai merek Eropa. Tak sedikit orang yang menganggap La Fonte sebagai produk impor premium.
Faktanya, La Fonte adalah merek lokal yang diproduksi oleh PT Bogasari Flour Mills, anak usaha PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Merek ini hadir untuk memberikan pengalaman memasak pasta ala Italia dengan harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat Indonesia. Selain pasta kering, La Fonte juga mengembangkan saus siap pakai dan pasta instan untuk kebutuhan sehari-hari.
8. HokBen identik dengan restoran Jepang

HokBen sering dianggap sebagai restoran cepat saji asal Jepang karena menu dan konsep penyajiannya. Penggunaan nama Hoka Hoka Bento, yang terdengar sangat Jepang, membuat banyak orang mengira brand ini merupakan franchise asing. Identitas visual dan pilihan menu khas Jepang semakin memperkuat persepsi tersebut.
Padahal, HokBen merupakan brand lokal Indonesia yang didirikan di Jakarta pada 1985. Restoran ini dikelola oleh PT Eka Bogainti dan dikembangkan dengan menyesuaikan selera masyarakat Indonesia. Meski mengusung konsep Jepang, HokBen tetap berkomitmen menyajikan makanan halal dan terjangkau bagi konsumen lokal.
9. Equil terlihat seperti air mineral Eropa

Kemasan botol kaca dan penggunaan bahasa Inggris membuat Equil tampak seperti air mineral impor dari Eropa. Produk ini sering ditemui di hotel berbintang dan restoran premium, sehingga citranya semakin eksklusif. Banyak konsumen tidak menyangka Equil merupakan produk lokal.
Faktanya, Equil adalah air mineral alami asli Indonesia yang bersumber dari mata air di kaki Gunung Salak, Jawa Barat. Merek ini memposisikan diri sebagai air minum premium dengan kualitas tinggi dan standar internasional. Strategi tersebut membuat Equil mampu bersaing dengan produk impor di segmen pasar atas.
10. Greenfields dikira produk susu luar negeri

Nama Greenfields kerap membuat produk susu ini terdengar seperti brand asing. Dibandingkan merek susu lokal lain yang menggunakan nama berbahasa Indonesia, Greenfields memang tampil lebih internasional. Hal ini membuat banyak konsumen mengira produk tersebut diimpor.
Padahal, Greenfields merupakan produk susu asli Indonesia yang diproduksi di Malang, Jawa Timur. Brand ini mengelola peternakan sendiri untuk menjaga kualitas bahan baku. Meski telah diekspor ke berbagai negara, Greenfields tetap menjadi contoh sukses merek lokal dengan standar global.
Deretan merek di atas membuktikan produk lokal Indonesia mampu bersaing secara global. Strategi branding modern membuat banyak di antaranya disangka sebagai brand luar negeri. Pada akhirnya, kualitas dan konsistensi menjadi kunci utama kesuksesan merek-merek lokal tersebut.


















