4 Sektor yang Paling Berisiko untuk Investasi Tahun Ini Menurut Ahli

- Properti (Real Estate): Tertekan beban refinancing
- Perbankan dan keuangan: Margin tertekan saat suku bunga turun
- Energi: Ancaman kelebihan pasokan global
Sektor apa saja yang sebaiknya dihindari investor tahun ini? Jawabannya sangat dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi, mulai dari arah kebijakan suku bunga, pertumbuhan ekonomi global, hingga dinamika geopolitik. Meski pasar saham mencatat kinerja impresif pada 2025 setelah awal tahun yang bergejolak, tidak semua sektor menikmati performa serupa.
Beberapa sektor justru tertinggal jauh dari kinerja pasar secara keseluruhan dan berpotensi menghadapi tekanan lanjutan pada 2026. Investor perlu lebih selektif agar tidak terjebak di sektor yang prospeknya melemah. Berikut 4 sektor yang paling berisiko untuk investasi tahun ini menurut ahli, dikutip dari GOBankingRates.
Table of Content
1. Properti (Real Estate): Tertekan beban refinancing

Sektor properti menjadi salah satu yang paling rentan saat ini. Tekanan terbesar datang dari jatuh tempo pembiayaan ulang (refinancing) dalam skala besar. Triliunan dolar AS kredit properti komersial akan jatuh tempo dalam dua tahun ke depan, memaksa perusahaan melakukan refinancing dengan bunga yang jauh lebih tinggi dibanding era suku bunga rendah.
Dampaknya, arus kas tergerus, risiko gagal bayar meningkat, dan potensi pemotongan dividen semakin besar. Selain itu, tingkat hunian gedung perkantoran yang masih tinggi serta permintaan yang lesu di beberapa segmen properti memperlemah fundamental sektor ini.
2. Perbankan dan keuangan: Margin tertekan saat suku bunga turun

Saham perbankan cenderung kurang optimal ketika suku bunga mulai turun. Penurunan suku bunga membuat margin bunga bersih (net interest margin) menyempit karena imbal hasil pinjaman turun lebih cepat dibanding biaya dana yang dibayarkan kepada nasabah.
Akibatnya, profitabilitas bank dapat tertekan dalam jangka menengah hingga panjang. Kondisi ini berpotensi menekan kinerja saham-saham sektor keuangan, terutama jika perlambatan ekonomi turut menghambat permintaan kredit.
3. Energi: Ancaman kelebihan pasokan global

Sektor energi menghadapi tantangan struktural berupa potensi kelebihan pasokan minyak di pasar global. Proyeksi menunjukkan produksi minyak dunia bisa melampaui permintaan dalam beberapa tahun ke depan, yang berisiko menekan harga minyak.
Jika harga energi melemah, ruang perusahaan energi untuk meningkatkan arus kas, membagikan dividen, atau melakukan pembelian kembali saham (buyback) menjadi terbatas. Kondisi ini membuat prospek imbal hasil saham energi kurang menarik dibanding sektor lain.
4. Konsumen siklis (Consumer Discretionary): Daya beli melemah

Sektor barang konsumsi non-primer berisiko terdampak perlambatan belanja masyarakat. Tanda-tanda perlambatan pertumbuhan upah dan menipisnya tabungan rumah tangga membuat konsumen mulai mengerem pengeluaran untuk barang dan jasa non-esensial.
Ketergantungan pada kartu kredit dan utang konsumtif juga membatasi kemampuan belanja di masa depan. Jika tren ini berlanjut, pendapatan perusahaan di sektor ini dapat tertekan, yang berujung pada kinerja saham yang kurang menggembirakan.
Pada akhirnya, memahami kondisi makro dan risiko tiap sektor jauh lebih penting daripada sekadar ikut tren pasar. Dengan riset yang matang dan strategi yang disiplin, investor bisa menghindari jebakan sektor bermasalah dan memposisikan portofolio untuk peluang yang lebih sehat ke depan.


















