Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bahlil Ungkap Ketahanan Energi Indonesia Terbaik Kedua di Dunia
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (IDN Times/Trio Hamdani)
  • Indonesia menempati posisi kedua dunia dalam ketahanan energi versi laporan JP Morgan, berkat produksi migas domestik, cadangan batu bara besar, dan potensi energi terbarukan yang melimpah.
  • Bahlil menyebut lifting minyak 2025 mencapai target 605 ribu barel per hari dan menemukan blok gas baru Geliga di Kalimantan Timur dengan cadangan 5 TCF untuk produksi 2028-2029.
  • Pemerintah menargetkan pengurangan impor BBM lewat penerapan biodiesel B50 mulai Juli 2026 serta substitusi LPG dengan DME dan CNG guna memperkuat kemandirian energi nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan Indonesia diakui sebagai negara dengan ketahanan energi terbaik kedua di dunia di tengah dinamika geopolitik global yang memicu ketidakpastian pasokan.

​Bahlil menekankan capaian tersebut menjadi landasan penting dalam menyukseskan program swasembada energi sebagai salah satu bidang strategis Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Dia juga mengatakan, ketahanan energi berperan penting untuk menjaga stabilitas ekonomi serta pertahanan negara. Hal tersebut disampaikan Bahlil saat memberikan arahan pada Apel Komandan Satuan TNI Tahun 2026 di Bogor, Rabu (29/4/2026).

"Kita harus bersyukur di bawah kepemimpinan Presiden Bapak Prabowo Subianto yang notabenenya adalah alumni TNI, Indonesia dinilai oleh JP Morgan itu menjadi negara terbaik kedua di dunia yang mempunyai ketahanan energi," kata Bahlil dalam keterangan tertulis.

1. RI peringkat dua versi JP Morgan

ilustrasi pemandangan kilang Pertamina. (dok. Pertamina)

Bahlil menjelaskan, capaian tersebut merujuk laporan Eye on the Market dari JP Morgan Asset Management. Laporan itu menganalisis 52 negara konsumen energi terbesar yang mencakup 82 persen konsumsi energi global. Indonesia berada di posisi kedua, di bawah Afrika Selatan dan di atas Tiongkok.

Menurutnya, ketahanan energi Indonesia didukung oleh produksi minyak dan gas bumi (migas) domestik yang cukup besar. Selain itu, cadangan dan produksi batu bara yang masih mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri turut menjadi faktor penopang.

Potensi energi baru dan terbarukan yang tersebar di berbagai wilayah juga disebut berkontribusi terhadap kemandirian energi nasional.

2. Lifting migas dan temuan blok migas baru

Potret proyek RDMP di Balikpapan. (Dok. Pertamina)

Bahlil juga menyampaikan ketahanan energi dari subsektor migas ditopang oleh realisasi lifting minyak pada 2025 yang mencapai target APBN sebesar 605 ribu barel per hari (bph). Untuk 2026, target tersebut dinaikkan menjadi 610 ribu bph.

Pemerintah, lanjutnya, mendorong peningkatan produksi melalui pemanfaatan teknologi lanjutan, pengaktifan kembali sumur idle, serta eksplorasi di wilayah Indonesia Timur.

"Satu tahun setengah kita melakukan eksplorasi, kita dapat lagi gas di Kalimantan Timur, namanya Geliga. Itu 5 TCF, 5 triliun mm. Dengan mendapatkan 300 juta kondensat, ekuivalen dengan 375 juta barel minyak. Ini akan produksi di 2028-2029," jelasnya.

3. Target kurangi impor BBM dan LPG

potret kapal tanker Pertamina (pertamina-pis.com)

Selain migas, pemerintah juga berupaya menekan impor bahan bakar minyak (BBM) melalui pengembangan biodiesel 50 persen (B50) yang ditargetkan mulai berlaku secara nasional pada 1 Juli 2026. Itu akan berdampak pada penurunan impor BBM.

"Kebutuhan kita, BBM solar, pada tahun 2026, itu kita butuh kurang lebih sekitar 40 juta kiloliter. Dari 40 juta kiloliter ini, kita dengan B40 dan B50, Alhamdulillah mulai tahun 2026, tidak lagi kita melakukan impor solar pertama sejak Republik ini berdiri. Dari solar kita sudah tidak impor," ujar Bahlil.

Upaya serupa juga dilakukan untuk mengurangi impor LPG dengan mengkaji substitusi seperti Dimetil Eter (DME) dan Compressed Natural Gas (CNG). CNG telah digunakan di berbagai sektor, termasuk perhotelan, restoran, serta sejumlah stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG), dengan pasokan dari dalam negeri.

Editorial Team