Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Alasan Utama Mengapa Banyak Orang Mulai Menyerah dari Dunia Kerja

5 Alasan Utama Mengapa Banyak Orang Mulai Menyerah dari Dunia Kerja
ilustrasi karier, dunia kerja (magnific.com/pressfoto)
  • Persaingan kerja makin ketat akibat PHK dan banyaknya kandidat, membuat pencari kerja menghabiskan waktu panjang untuk lamaran serta wawancara tanpa hasil yang diharapkan.
  • Proses rekrutmen berkepanjangan, penolakan, minimnya respons perusahaan, dan tekanan finansial dapat menguras kesehatan mental; survei Resume Genius mencatat 49 persen responden terdampak negatif.
  • Keterbatasan pekerjaan fleksibel, masa menganggur yang panjang, serta keinginan beralih karier mendorong sebagian orang mengambil jeda untuk menata strategi atau menempuh pendidikan baru.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Mencari pekerjaan seharusnya menjadi jalan untuk mendapatkan penghasilan sekaligus membangun masa depan. Namun bagi sebagian orang, proses tersebut justru terasa semakin melelahkan karena persaingan kerja yang ketat dan lamanya proses rekrutmen.

Sudah mengirim banyak lamaran, mengikuti wawancara, tapi hasilnya tetap belum sesuai harapan bisa membuat seseorang kehilangan semangat. Kondisi tersebut bahkan membuat sebagian pencari kerja memilih berhenti mencari pekerjaan untuk sementara waktu. Lantas, apa saja alasan utama yang membuat banyak orang mulai menyerah dari dunia kerja?

  1. 1. Persaingan mencari kerja semakin ketat

    ilustrasi loker, lowongan kerja, cari kerja, pencari kerja, job seeker, pengangguran
    ilustrasi loker, lowongan kerja, cari kerja, pencari kerja, job seeker, pengangguran (magnific.com/jcomp)

    Salah satu alasan seseorang berhenti mencari pekerjaan adalah persaingan yang semakin terasa berat. Ketika banyak perusahaan melakukan PHK, jumlah orang yang masuk ke pasar kerja juga ikut bertambah. Alhasil, satu posisi bisa diperebutkan oleh banyak kandidat dengan pengalaman dan kemampuan yang hampir sama. Situasi seperti ini tentu bisa membuatmu merasa peluang untuk mendapatkan pekerjaan semakin kecil.

    Dilansir CNBC, Dan Coda merupakan salah satu pencari kerja yang akhirnya memilih berhenti setelah berbulan-bulan mencari pekerjaan. Setelah terkena PHK pada Desember 2025, ia menghabiskan lebih dari 300 jam untuk mencari lowongan, mengirim puluhan lamaran, dan mengikuti beberapa tahap wawancara. Namun, usaha tersebut gak membawanya mendapatkan pekerjaan yang diinginkan sehingga ia memutuskan berhenti mencari kerja untuk sementara.

  2. 2. Proses mencari kerja menguras kesehatan mental

    ilustrasi stres (pexels.com/Timur Weber)
    ilustrasi stres (pexels.com/Timur Weber)

    Mencari pekerjaan bukan hanya soal mengirim CV lalu menunggu panggilan. Kamu juga harus menghadapi penolakan, gak mendapatkan balasan dari perusahaan, mengikuti wawancara berulang kali, dan memikirkan kondisi keuangan selama belum memiliki penghasilan.

    Kalau proses tersebut berlangsung berbulan-bulan, tekanan yang dirasakan tentu bisa semakin berat. Gak mengherankan apabila sebagian pencari kerja akhirnya merasa kehabisan energi untuk terus mencoba.

    Berdasarkan survei Resume Genius Job Seeker Insights Report 2026 terhadap pencari kerja di Amerika Serikat, sekitar 49 persen responden mengatakan proses mencari pekerjaan berdampak negatif terhadap kesehatan mental mereka. Penolakan menjadi salah satu sumber tekanan terbesar, disusul gak mendapat kabar dari perusahaan, tekanan finansial, dan kesulitan mempertahankan motivasi.

    Carl Van Horn dari Heldrich Center for Workforce Development di Rutgers University juga menilai kehilangan pekerjaan dapat menjadi salah satu pengalaman yang sangat berat bagi seseorang. Artinya, rasa lelah secara mental setelah berkali-kali gagal mendapatkan pekerjaan bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele.

  3. 3. Pekerjaan yang sesuai kebutuhan semakin sulit ditemukan

    ilustrasi work from home, WFH, kerja remote
    ilustrasi work from home, WFH, kerja remote (pexels.com/Vitaly Gariev)

    Gak semua orang bisa menerima sembarang pekerjaan hanya karena membutuhkan penghasilan. Kamu mungkin membutuhkan pekerjaan dengan jam kerja fleksibel karena harus mengurus anak, membutuhkan sistem kerja remote, atau memiliki kondisi tertentu yang membuat pekerjaan kantor penuh waktu kurang cocok.

    Masalahnya, kesempatan mendapatkan pekerjaan dengan fleksibilitas tersebut bisa semakin terbatas ketika persaingan meningkat. Akhirnya, seseorang bisa tetap ingin bekerja tapi kesulitan menemukan posisi yang sesuai dengan kehidupannya.

    Ekonom Heather Long dari Navy Federal Credit Union menyoroti bahwa sebagian orangtua dengan anak kecil dan penyandang disabilitas dapat menghadapi tantangan ketika kesempatan kerja remote maupun fleksibel semakin sulit didapatkan. Kondisi tersebut membuat pencarian pekerjaan bukan hanya bergantung pada kemampuan seseorang, tapi juga pada tersedianya posisi yang sesuai dengan kebutuhannya. Kalau pilihan yang tersedia terus gak cocok, kamu mungkin memilih mengambil jeda daripada memaksakan diri masuk ke pekerjaan yang justru membuat kehidupan semakin sulit.

  4. 4. Menganggur terlalu lama bisa membuat pencarian makin berat

    ilustrasi CV, resume, HRD, loker, lamaran
    ilustrasi CV, resume, HRD, loker, lamaran (magnific.com/DC Studio)

    Lamanya seseorang menganggur juga menjadi persoalan tersendiri. Berdasarkan data U.S. Bureau of Labor Statistics, pada Juni 2026 terdapat lebih dari 1,9 juta orang di Amerika Serikat yang sudah menganggur selama lebih dari enam bulan meskipun masih mencari pekerjaan.

    Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian pencari kerja memang harus menghadapi proses yang panjang sebelum mendapatkan kesempatan baru. Kondisi pasar kerja dengan perekrutan rendah tapi tetap adanya PHK juga dapat membuat situasi semakin sulit.

    Masalahnya gak berhenti sampai di sana karena semakin lama seseorang mencari pekerjaan, semakin besar pula kemungkinan munculnya celah dalam riwayat karier. Perusahaan juga terkadang mempertanyakan adanya jeda pekerjaan ketika melihat CV kandidat.

    Situasi tersebut dapat membuat pencari kerja merasa berada dalam lingkaran yang melelahkan karena sulit mendapatkan pekerjaan sekaligus harus menjelaskan alasan menganggur cukup lama. Pada akhirnya, sebagian orang memilih berhenti mencari kerja sementara untuk memulihkan diri atau menentukan strategi baru.

  5. 5. Ingin mengubah arah karier

    ilustrasi rumah sakit, nakes, resepsionis
    ilustrasi rumah sakit, nakes, resepsionis (pexels.com/Cedric Fauntleroy)

    Berhenti mencari pekerjaan gak selalu berarti seseorang benar-benar menyerah untuk bekerja, lho. Ada juga orang yang memanfaatkan masa tersebut untuk mengevaluasi kembali karier dan mencari bidang yang dianggap lebih menjanjikan.

    Ketika pekerjaan di industri lama semakin sulit ditemukan, mengambil pendidikan tambahan bisa menjadi salah satu pilihan untuk membuka peluang baru. Langkah tersebut memang membutuhkan waktu, tapi dapat memberikan kesempatan bagi seseorang untuk memulai jalur karier yang berbeda.

    Salah satu contohnya adalah Celine Wang yang sebelumnya bekerja sebagai digital designer. Dilansir CNBC, setelah merasa stagnan dan mengalami sulitnya mencari pekerjaan baru, ia memutuskan beralih ke bidang kesehatan dan mengikuti program pendidikan untuk menjadi dental hygienist.

    Pilihan tersebut juga didukung oleh kondisi industri kesehatan yang masih menunjukkan permintaan tenaga kerja relatif kuat. Indeed's 2026 jobs report bahkan menyebut pekerjaan di bidang kesehatan sebagai salah satu fondasi karier yang relatif stabil pada 2026 karena permintaannya tetap tinggi.

    Fenomena orang yang berhenti mencari pekerjaan ternyata gak selalu bisa dianggap sebagai bentuk kemalasan. Persaingan yang semakin ketat, tekanan mental, terbatasnya pekerjaan fleksibel, lamanya masa menganggur, hingga keinginan mengubah arah karier bisa membuat seseorang memilih mengambil jeda dari dunia kerja.

    Bagi sebagian orang, keputusan tersebut justru menjadi kesempatan untuk memulihkan energi sekaligus memikirkan kembali tujuan hidupnya. Kalau kamu sedang berada dalam kondisi serupa, mengambil jeda boleh saja selama tetap mempertimbangkan kondisi finansial dan rencana jangka panjang. Dengan begitu, berhenti sejenak dari dunia kerja bisa menjadi langkah untuk menemukan arah baru, bukan sekadar tanda bahwa kamu sudah menyerah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More