9 Rule of Thumb dalam Mengambil Keputusan Finansial Sehari-hari

- Pedoman finansial praktis mencakup pembagian penghasilan 50/30/20, menabung di awal, dan zero-based budgeting agar setiap pemasukan memiliki tujuan serta pengeluaran lebih terkendali.
- Perencanaan jangka panjang dapat dibantu dengan Rule of 72 untuk estimasi investasi, dana darurat beberapa bulan biaya hidup, serta risiko investasi yang disesuaikan dengan tujuan dan profil risiko.
- Pembelian impulsif, kendaraan, dan kartu kredit perlu dibatasi melalui pertimbangan harga, aturan 20/4/10, serta pembayaran tagihan penuh tepat waktu tanpa menganggap limit sebagai pendapatan.
Mengambil keputusan finansial tidak selalu harus dilakukan dengan perhitungan yang rumit. Dalam kehidupan sehari-hari, kamu bisa menggunakan pedoman sederhana agar lebih mudah menentukan prioritas, mengendalikan pengeluaran, hingga menyiapkan masa depan. Pedoman semacam ini dikenal sebagai rule of thumb, yaitu acuan praktis yang membantu seseorang membuat keputusan berdasarkan prinsip yang mudah diterapkan.
Meski begitu, setiap aturan tetap perlu disesuaikan dengan pendapatan, kebutuhan, tanggungan, dan tujuan finansial masing-masing. Lantas, apa saja rule of thumb yang bisa membantu kamu mengambil keputusan finansial dengan lebih bijak? Simak sembilan pedoman berikut yang dapat menjadi titik awal dalam mengatur keuangan.
1. Bagi penghasilan dengan prinsip 50/30/20 agar anggaran lebih terarah

ilustrasi menghitung uang (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com) Salah satu rule of thumb dalam mengambil keputusan finansial yang cukup populer adalah metode 50/30/20. Prinsipnya, sekitar 50 persen pendapatan dialokasikan untuk kebutuhan utama, 30 persen untuk keinginan, sedangkan 20 persen digunakan untuk tabungan, investasi, atau pembayaran utang. Pembagian tersebut memberikan gambaran sederhana mengenai bagaimana penghasilan dapat digunakan tanpa mengabaikan kebutuhan masa kini maupun rencana jangka panjang.
Kebutuhan utama dapat mencakup biaya tempat tinggal, makanan, transportasi, tagihan, dan pengeluaran wajib lainnya. Sementara itu, pos keinginan dapat digunakan untuk hiburan, makan di luar, hobi, atau aktivitas lain yang tidak bersifat wajib. Angka tersebut tidak perlu dianggap sebagai ketentuan mutlak karena seseorang dengan pendapatan dan kondisi berbeda mungkin membutuhkan proporsi yang berbeda pula.
2. Hitung potensi pelipatan investasi menggunakan Rule of 72

ilustrasi menghitung (pexels.com/Polina Tankilevitch) Ketika mempertimbangkan investasi, kamu mungkin ingin mengetahui berapa lama aset berpotensi mencapai nilai dua kali lipat. Rule of 72 dapat digunakan sebagai cara sederhana untuk membuat perkiraan tersebut dengan membagi angka 72 menggunakan estimasi tingkat imbal hasil tahunan. Sebagai contoh, investasi dengan asumsi imbal hasil 8 persen per tahun membutuhkan waktu sekitar sembilan tahun untuk berlipat ganda secara teoritis.
Perhitungan ini tentu hanya berupa pendekatan dan bukan jaminan bahwa investasi akan benar-benar tumbuh sesuai angka tersebut. Hasil investasi dapat berubah karena kondisi pasar, biaya investasi, pajak, dan berbagai faktor lainnya. Meski demikian, aturan ini membantu kamu memahami bahwa tingkat imbal hasil dan lamanya waktu berinvestasi sama-sama berperan dalam membangun aset.
3. Sisihkan uang di awal supaya tabungan tidak bergantung pada sisa pengeluaran

ilustrasi menyisahkan uang (pexels.com/Defrino Maasy) Banyak orang baru berencana menabung setelah seluruh kebutuhan dan keinginan selama sebulan terpenuhi. Masalahnya, cara tersebut sering membuat uang habis lebih dulu sehingga jumlah yang bisa disimpan menjadi tidak konsisten. Prinsip pay yourself first menawarkan pendekatan berbeda dengan menjadikan tabungan atau investasi sebagai prioritas segera setelah menerima penghasilan.
Kamu dapat menentukan persentase tertentu dari pendapatan untuk langsung dipindahkan ke rekening tabungan atau instrumen investasi. Cara ini akan lebih mudah dilakukan apabila transfer dibuat otomatis sehingga kamu tidak perlu mengandalkan niat setiap bulan. Dengan kebiasaan tersebut, keputusan untuk menyisihkan uang menjadi bagian dari sistem keuangan, bukan sekadar pilihan yang dilakukan ketika masih ada sisa dana.
4. Berikan tujuan dalam setiap pemasukan agar pengeluaran lebih mudah dikendalikan

ilustrasi menghitung uang (pexels.com/olia danilevich) Selain menggunakan pembagian persentase, kamu juga bisa membuat anggaran yang memberikan fungsi kepada setiap rupiah yang masuk. Pendekatan ini sering disebut zero-based budgeting karena seluruh pendapatan sudah direncanakan untuk kebutuhan tertentu, mulai dari biaya rutin, tabungan, investasi, dana darurat, hingga hiburan. Tujuannya bukan membuat saldo rekening menjadi nol, melainkan memastikan tidak ada uang yang mengalir tanpa rencana.
Sistem tersebut dapat membantu kamu mengetahui ke mana penghasilan pergi setiap bulan. Jika ada pos pengeluaran yang ternyata kurang penting, alokasinya dapat dialihkan untuk kebutuhan yang lebih mendesak atau tujuan finansial lainnya. Dengan begitu, keputusan belanja tidak lagi semata-mata didasarkan pada keinginan sesaat, tetapi mengikuti rencana yang sudah dibuat sebelumnya.
5. Bangun dana darurat hingga mampu menutup biaya hidup beberapa bulan

ilustrasi menabung (pexels.com/Tima Miroshnichenko) Dana darurat merupakan salah satu fondasi penting sebelum kamu terlalu agresif mengejar tujuan finansial lainnya. Pedoman yang sering digunakan adalah menyediakan dana setara beberapa bulan biaya hidup, dengan enam bulan sebagai salah satu acuan yang cukup umum. Dana tersebut dapat digunakan ketika terjadi kondisi tidak terduga seperti kehilangan pekerjaan, kebutuhan kesehatan, atau pengeluaran mendesak.
Jumlah idealnya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang. Seseorang dengan penghasilan tidak tetap atau memiliki banyak tanggungan mungkin membutuhkan cadangan yang lebih besar dibandingkan orang dengan kondisi finansial yang lebih stabil. Karena itu, kamu bisa membangun dana darurat secara bertahap dengan menyisihkan sejumlah uang secara rutin hingga mencapai target yang dirasa memadai.
6. Sesuaikan risiko investasi dengan usia dan kemampuan menghadapi fluktuasi

ilustrasi investasi (pexels.com/Anna Nekrashevich) Usia dapat menjadi salah satu pertimbangan ketika kamu menentukan seberapa besar risiko yang ingin diambil dalam investasi. Salah satu pedoman klasik menggunakan usia sebagai gambaran kasar untuk menentukan porsi aset yang lebih stabil, meskipun penerapannya tidak bisa dilepaskan dari kondisi finansial dan profil risiko setiap individu. Investor yang masih memiliki waktu panjang sebelum membutuhkan dananya biasanya mempunyai ruang lebih besar untuk menghadapi naik turunnya nilai investasi.
Sebaliknya, semakin dekat dengan tujuan penggunaan dana, kebutuhan menjaga kestabilan aset biasanya menjadi semakin penting. Namun, usia saja tidak cukup untuk menentukan komposisi portofolio karena pendapatan, tujuan investasi, kebutuhan likuiditas, dan toleransi risiko juga harus diperhitungkan. Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, kamu dapat menghindari keputusan investasi yang terlalu berisiko hanya karena mengikuti angka dari sebuah aturan.
7. Terapkan aturan sederhana agar pembelian tidak berubah menjadi impulsif

ilustrasi belanja (pexels.com/Max Fischer) Sebelum membeli barang yang tidak termasuk kebutuhan utama, cobalah memperkirakan terlebih dahulu berapa harga yang menurutmu pantas untuk barang tersebut. Setelah itu, baru lihat harga sebenarnya dan bandingkan dengan perkiraan awal. Pendekatan seperti price tag rule dapat membuat proses belanja lebih reflektif sehingga kamu tidak langsung terpengaruh oleh tampilan produk, promosi, atau diskon.
Kamu juga bisa menerapkan prinsip 7 items in, 1 out untuk mengontrol kebiasaan konsumsi. Sederhananya, ketika barang baru terus masuk ke rumah, sebagian barang lama yang sudah tidak digunakan dapat dijual, diberikan, atau didonasikan. Selain membantu mengurangi penumpukan barang, kebiasaan ini dapat membuat kamu berpikir lebih matang sebelum membeli sesuatu yang manfaatnya belum tentu bertahan lama.
8. Gunakan batas 20/4/10 sebagai pertimbangan sebelum membeli kendaraan

ilustrasi beli sepeda motor (freepik.com/prostooleh) Kendaraan dapat menjadi komitmen finansial yang cukup besar karena biaya yang dikeluarkan bukan hanya harga pembelian. Selain cicilan, kamu perlu memperhitungkan uang muka, asuransi, bahan bakar, perawatan, pajak, dan berbagai biaya operasional lainnya. Karena itu, keputusan membeli kendaraan sebaiknya tidak hanya didasarkan pada kemampuan membayar uang muka atau cicilan bulanan.
Salah satu pedoman yang dapat digunakan sebagai titik awal adalah aturan 20/4/10. Prinsip ini menyarankan uang muka sekitar 20 persen, tenor pembiayaan maksimal empat tahun, serta total biaya kendaraan sekitar maksimal 10 persen dari pendapatan bulanan. Angka tersebut bukan aturan mutlak, tetapi dapat membantu kamu menilai apakah pembelian kendaraan berpotensi mengganggu kebutuhan pokok dan tujuan finansial lain.
9. Manfaatkan fasilitas kartu kredit tanpa menjadikannya alasan untuk berutang

ilustrasi kartu kredit (freepik.com/freepik) Kartu kredit dapat memberikan kemudahan dalam transaksi dan terkadang menawarkan manfaat seperti poin, cashback, atau program promosi. Namun, berbagai fasilitas tersebut baru benar-benar berguna jika penggunaannya tetap berada dalam batas anggaran yang sudah kamu tentukan. Jangan menjadikan limit kartu kredit sebagai ukuran kemampuan belanja karena limit bukanlah tambahan pendapatan.
Salah satu kebiasaan yang dapat diterapkan adalah menggunakan kartu kredit hanya untuk transaksi yang memang sudah masuk dalam rencana pengeluaran. Usahakan membayar tagihan secara penuh dan tepat waktu agar bunga maupun biaya tambahan tidak menggerus kondisi keuangan. Dengan penggunaan yang disiplin, kartu kredit dapat menjadi alat pembayaran yang membantu, bukan sumber masalah finansial baru.
Pada akhirnya, rule of thumb dalam mengambil keputusan finansial berfungsi sebagai panduan awal, bukan aturan yang harus diterapkan secara kaku. Kamu tetap perlu menyesuaikannya dengan kondisi pendapatan, kebutuhan, tujuan, dan tingkat risiko yang sanggup ditanggung. Semakin konsisten menggunakan pedoman tersebut sebagai dasar evaluasi, semakin terarah pula kebiasaan finansial yang kamu bangun.




















