Baca Peluang Tren WNI ke LN, Begini Strategi Bisnis Layanan Visa

- Pendampingan pengurusan visa ditawarkan untuk mengurangi kesalahan administratif dan ketidaksesuaian dokumen.
- Mekanisme pengecekan berlapis diterapkan untuk menekan risiko penolakan akibat kesalahan administrasi.
- Perusahaan melakukan transformasi layanan dan identitas usaha seiring kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus berkembang.
Jakarta, IDN Times - Mobilitas masyarakat Indonesia ke luar negeri terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Perjalanan untuk keperluan wisata, pendidikan, hingga pekerjaan disebut kian menjadi bagian dari gaya hidup sebagian warga.
Namun, di balik tren tersebut, proses pengurusan visa masih kerap dipersepsikan rumit dan menyita waktu. Persyaratan administrasi yang berlapis, perbedaan aturan antarnegara, hingga kewajiban datang langsung ke kota tertentu dinilai masih menjadi tantangan bagi calon pelancong.
Kondisi itu membuat sebagian pemohon visa gagal, meski sebenarnya memenuhi kriteria yang dibutuhkan. Pemilik WEPOSE Travel Services, Surya Purnawan mengatakan kegagalan pengurusan visa sering kali bukan disebabkan oleh kelayakan pemohon.
"Kami melihat banyak klien yang sebenarnya layak mendapatkan visa, namun gagal karena proses yang tidak dipersiapkan dengan benar," kata dia dalam keterangan tertulis, Kamis (8/1/2026).
1. Pendampingan jadi salah satu pendekatan yang ditawarkan

Pelaku usaha jasa perjalanan kemudian mencoba merespons persoalan tersebut melalui layanan pendampingan pengurusan visa. Pendampingan itu mencakup konsultasi awal hingga proses pengajuan ke kedutaan, dengan tujuan mengurangi kesalahan administratif dan ketidaksesuaian dokumen.
Surya menyebut layanan yang mereka jalankan diarahkan untuk membantu klien memahami kebutuhan dokumen dan tahapan teknis secara lebih terstruktur. Layanan tersebut mencakup pengurusan berbagai jenis visa, mulai dari visa wisata, bisnis, pendidikan, kerja, hingga visa jangka panjang dan transit ke puluhan negara tujuan.
Pengalaman menangani pengurusan visa lintas negara dinilai membuat penyedia layanan lebih memahami perbedaan regulasi antarkedutaan serta potensi risiko yang bisa muncul selama proses pengajuan.
2. Proses berlapis untuk menekan kesalahan administratif

Untuk menekan risiko penolakan akibat kesalahan administrasi, pihaknya menerapkan mekanisme pengecekan berlapis sebelum dokumen diajukan ke kedutaan. Dalam praktiknya, dokumen klien diperiksa oleh lebih dari satu pihak dengan fungsi yang berbeda, mulai dari pemeriksaan kelengkapan hingga analisis kecocokan data.
Selain itu, pendekatan transparansi juga mulai ditekankan sejak awal proses. Klien disebut mendapatkan penjelasan terkait peluang pengajuan visa, potensi kendala, serta estimasi biaya sebelum memutuskan melanjutkan permohonan.
3. Transformasi layanan seiring kebutuhan mobilitas

Seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat, penyedia jasa juga melakukan penyesuaian model layanan dan identitas usaha. WEPOSE, yang sebelumnya beroperasi dengan nama POSE Travel Services, melakukan perubahan identitas dan sistem kerja setelah lebih dari tujuh tahun beroperasi.
Perusahaan tersebut kini memiliki kantor di Jakarta dan Surabaya. Kehadiran cabang di Jawa Timur ditujukan untuk mengurangi kebutuhan klien melakukan perjalanan ke Jakarta hanya untuk mengurus dokumen administratif.
Surya menyampaikan transformasi itu dilakukan untuk menyesuaikan layanan dengan kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus berkembang. Menurutnya, pendekatan yang lebih terstruktur diharapkan dapat membantu klien menghadapi proses pengurusan visa yang selama ini dianggap kompleks.
"Klien tidak perlu menghadapi kerumitan itu sendirian,” kata Surya.


















