Mengenal Barang Veblen: Saat Harga Mahal Justru Makin Laris

- Barang Veblen menantang hukum ekonomi dasar karena permintaannya justru meningkat saat harga naik, didorong oleh nilai eksklusivitas dan simbol status sosial yang melekat.
- Perbedaan utama dengan barang Giffen terletak pada sifatnya: Veblen adalah barang mewah penanda status, sedangkan Giffen merupakan kebutuhan pokok tanpa alternatif yang jelas.
- Kepemilikan barang Veblen memberi kepuasan psikologis dan rasa bangga, di mana harga tinggi menciptakan persepsi kualitas serta memperkuat citra eksklusif melalui strategi pemasaran dan kelangkaan.
Jakarta, IDN Times - Dalam ilmu ekonomi dasar, kita memahami minat pembeli biasanya akan menurun saat harga sebuah barang melonjak. Namun, aturan ini tidak berlaku bagi barang Veblen.
Fenomena tersebut justru menunjukkan kondisi sebaliknya, di mana permintaan pasar akan meningkat seiring dengan naiknya harga karena adanya nilai eksklusivitas dan simbol status sosial yang kuat.
Secara teknis, barang Veblen memiliki kurva permintaan yang menanjak ke atas. Hal ini sangat kontras dengan hukum permintaan umum yang memiliki kurva menurun.
Dilansir Investopedia, istilah tersebut sendiri diambil dari nama ekonom asal Amerika Serikat (AS) Thorstein Veblen, sosok yang memopulerkan konsep "konsumsi mencolok" atau conspicuous consumption.
1. Eksklusivitas melawan hukum ekonomi dasar

Barang Veblen tetap diburu meski harganya selangit karena daya tarik gengsinya. Bagi masyarakat yang mementingkan status, produk yang harganya semakin sulit dijangkau oleh konsumen rata-rata justru dianggap semakin menarik untuk dimiliki.
Sebaliknya, jika harga barang tersebut diturunkan, nilai eksklusivitasnya dianggap luntur dan daya tariknya bagi kaum jetset bisa menurun. Akibatnya, permintaan keseluruhan justru berisiko merosot saat harganya menjadi lebih murah.
Meski tidak ada standar nominal pasti, barang Veblen biasanya memiliki selisih harga yang sangat kontras dengan produk serupa.
Sebagai contoh, jam tangan standar bisa didapatkan dengan harga di bawah 100 dolar AS, namun sebuah jam tangan baru bisa dikategorikan barang Veblen jika label harganya menyentuh angka ribuan hingga jutaan dolar.
2. Perbedaan antara barang veblen dan barang giffen

Sering kali orang menyamakan barang Veblen dengan barang Giffen karena keduanya memiliki kurva permintaan yang sama-sama menanjak. Namun, kedua jenis barang ini memiliki perbedaan kasta yang sangat tajam.
Barang Veblen: Merupakan barang mewah yang menunjukkan status sosial, seperti perhiasan desainer, mobil mewah, kapal pesiar, hingga parfum dari selebritas papan atas. Barang ini sangat mudah ditemukan di butik kelas atas.
Barang Giffen: Merupakan barang kebutuhan pokok yang tidak memiliki pengganti, seperti beras, gandum, atau kentang. Permintaannya naik saat harga melonjak hanya karena konsumen tidak punya pilihan lain untuk bertahan hidup.
Berbeda dengan barang Veblen yang umum di pasar barang mewah, keberadaan barang Giffen secara nyata masih sering diperdebatkan oleh para ekonom karena sifatnya yang sangat langka.
3. Kepuasan di balik harga premium

Berbagai riset menunjukkan membeli barang Veblen memberikan kepuasan psikologis yang lebih besar bagi pemiliknya. Ada perasaan bangga saat memiliki sesuatu yang berkualitas tinggi dan tidak bisa dibeli oleh sembarang orang.
Banyak konsumen yang menganggap harga mahal tersebut sebanding dengan rasa penting dan eksklusif yang mereka dapatkan.
Selain itu, harga tinggi sering kali membentuk persepsi kualitas barang tersebut pasti lebih baik, meski pada kenyataannya mungkin diproduksi di pabrik yang sama dengan barang biasa. Strategi pemasaran dan kekuatan identitas mereklah yang membuat konsumen rela membayar lebih.
Faktor kelangkaan juga memegang peranan penting, terutama dalam dunia seni. Lukisan karya maestro yang sudah wafat seperti Pablo Picasso bisa terjual jutaan dolar bukan sekadar karena nilai seninya, melainkan karena jumlahnya yang sangat terbatas dan tidak bisa diproduksi lagi.


















