Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Saham Maskapai Asia-Pasifik Anjlok akibat Perang di Timur Tengah

Saham Maskapai Asia-Pasifik Anjlok akibat Perang di Timur Tengah
Ilustrasi pesawat (freepik.com/onlyyouqj)
Intinya Sih
  • Saham maskapai Asia-Pasifik anjlok tajam setelah serangan militer AS dan Israel ke Iran memicu kepanikan investor serta kekhawatiran terhadap stabilitas jalur udara dan pasokan energi global.
  • Penutupan ruang udara di Timur Tengah melumpuhkan bandara utama seperti Dubai dan Doha, menyebabkan ribuan penerbangan dibatalkan serta penumpang terdampar di berbagai negara.
  • Harga minyak dunia melonjak hingga 10 persen, meningkatkan biaya bahan bakar avtur dan menekan keuangan maskapai, sementara pemerintah diminta segera menstabilkan sektor energi dan transportasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pasar saham di kawasan Asia-Pasifik mengalami guncangan hebat pada Senin (2/3/2026), yang ditandai dengan jatuhnya nilai saham maskapai penerbangan secara signifikan. Kondisi ini dipicu oleh serangan militer skala besar yang diluncurkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap berbagai sasaran strategis di Iran.

Situasi tersebut memicu kepanikan investor di pusat-pusat keuangan utama, mulai dari Hong Kong, Sydney, hingga China, karena kekhawatiran mendalam terhadap stabilitas jalur transportasi udara dan keberlanjutan pasokan energi dunia. Disrupsi militer ini memaksa otoritas terkait untuk segera menutup pusat-pusat transit udara tersibuk di wilayah Timur Tengah, yang berdampak pada lumpuhnya konektivitas global. Akibat kebijakan tersebut, ribuan jadwal penerbangan terpaksa dibatalkan sehingga menelantarkan puluhan ribu penumpang di berbagai negara.

1. Saham maskapai penerbangan Asia Pasifik jatuh akibat eskalasi konflik di Timur Tengah

Ilustrasi Qantas Airways. (pexels.com/Josh Withers)
Ilustrasi Qantas Airways. (pexels.com/Josh Withers)

Saham maskapai penerbangan di kawasan Asia-Pasifik mengalami penurunan tajam pada perdagangan Senin (2/3/2026) menyusul pecahnya konflik militer di Timur Tengah. Saham maskapai nasional Australia, Qantas Airways, memimpin kejatuhan sektor ini dengan anjlok sebesar 10,4 persen ke level 8,92 dolar Australia (Rp106,7 ribu) per saham, yang merupakan titik terendah dalam sepuluh bulan terakhir. Penurunan serupa juga dialami oleh maskapai besar lainnya seperti Cathay Pacific, Singapore Airlines, dan Japan Airlines yang seluruhnya mencatatkan penyusutan nilai pasar di atas 5 persen.

Volatilitas ekstrem di pasar saham saat ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap risiko kerusakan aset dan potensi hilangnya pendapatan dari rute internasional yang melewati wilayah konflik. Situasi semakin tidak menentu setelah munculnya laporan mengenai wafatnya pemimpin tertinggi Iran yang dikhawatirkan akan memperburuk stabilitas politik di kawasan tersebut.

"Besarnya skala pusat transit saat ini mengakibatkan ratusan ribu orang telantar di berbagai belahan dunia tanpa kepastian jadwal, yang akhirnya memicu efek domino yang sangat luas bagi seluruh jaringan maskapai global," kata analis penerbangan John Strickland, dilansir Fine Day Radio.

Sentimen negatif ini turut berdampak secara sistemik ke maskapai regional lainnya, termasuk Virgin Australia yang sahamnya merosot 3,5 persen dan Air New Zealand yang menyentuh level terendah sejak April tahun lalu. Di bursa saham Jepang, para investor melakukan aksi jual besar-besaran karena mengkhawatirkan dampak langsung kenaikan biaya energi terhadap margin laba bersih perusahaan penerbangan.

2. Penutupan ruang udara Timur Tengah lumpuhkan penerbangan global dan bandara Dubai

pesawat maskapai penerbangan Cathay Pacific (unsplash.com/rstarg)
pesawat maskapai penerbangan Cathay Pacific (unsplash.com/rstarg)

Penutupan ruang udara secara mendadak di Iran, Irak, dan Israel, serta pembatasan ketat di beberapa negara Teluk, telah melumpuhkan operasional Bandara Internasional Dubai dan Bandara Internasional Hamad di Doha. Situasi ini mengakibatkan pembatalan massal lebih dari 1.500 jadwal penerbangan, atau mencakup sekitar 40 persen dari total lalu lintas harian di kawasan tersebut.

Bandara Internasional Dubai bahkan dilaporkan mengalami kerusakan fisik akibat serangan balasan, yang memicu penangguhan seluruh aktivitas penerbangan komersial dan menyebabkan puluhan ribu penumpang transit terdampar di terminal yang kini berstatus darurat. Menanggapi krisis tersebut, pihak maskapai memprioritaskan keamanan operasional di tengah ketidakpastian konflik.

"Keselamatan pelanggan dan staf kami adalah prioritas utama Grup Singapore Airlines, sehingga kami akan terus memantau situasi di Timur Tengah secara saksama dan menyesuaikan jalur penerbangan sesuai kebutuhan demi menjamin keamanan seluruh operasional armada kami," kata juru bicara Singapore Airlines, dilansir Business Times.

Saat ini, maskapai internasional harus menempuh jalur alternatif yang jauh lebih panjang melalui wilayah udara Afrika atau Arab Saudi bagian selatan. Hal ini menambah waktu tempuh penerbangan selama berjam-jam dan meningkatkan konsumsi bahan bakar secara signifikan, sehingga memaksa maskapai melakukan penjadwalan ulang harian dengan biaya logistik yang sangat tinggi.

3. Harga minyak mentah dunia melonjak tajam picu krisis biaya penerbangan global

Serangan Amerika Serikat ke fasilitas nuklir Iran memicu kekhawatiran lonjakan harga minyak dunia. Investor bersiap menghadapi gejolak pasar dan meningkatnya risiko inflasi global.
Serangan Amerika Serikat ke fasilitas nuklir Iran memicu kekhawatiran lonjakan harga minyak dunia. Investor bersiap menghadapi gejolak pasar dan meningkatnya risiko inflasi global.

Harga minyak mentah dunia jenis Brent melonjak tajam hingga 10 persen ke kisaran 80 dolar AS (Rp1,34 juta) per barel pada Senin (2/3/2026), segera setelah serangan udara dilaporkan. Kenaikan mendadak ini memicu kekhawatiran bahwa gangguan pasokan melalui Selat Hormuz dapat mendorong harga energi melampaui level 100 dolar AS (Rp1,68 juta) per barel dalam waktu dekat.

Lonjakan biaya bahan bakar avtur menjadi ancaman finansial serius bagi maskapai penerbangan global karena energi merupakan komponen biaya operasional terbesar. Sementara itu, pasar modal mulai mengantisipasi kenaikan inflasi global. Peningkatan harga energi yang tidak terkendali juga diperkirakan akan segera berdampak pada kenaikan tarif tiket pesawat dan biaya tambahan bahan bakar bagi konsumen.

Selain sektor penumpang, gangguan rantai pasok kargo udara melalui hub Dubai juga mengancam distribusi barang teknologi tinggi dan perangkat medis lintas benua. Situasi ini mendesak pemerintah di berbagai negara, untuk segera merumuskan kebijakan intervensi ekonomi guna menstabilkan harga energi dan menjaga ketahanan industri transportasi nasional dari dampak konflik di Timur Tengah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More