Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Berawal dari Pembinaan, Keripik Sawi Angkat Ekonomi Petani Magelang

Berawal dari Pembinaan, Keripik Sawi Angkat Ekonomi Petani Magelang
Keripik sawi putih Kraukk produksi petani Desa Sumberejo, Magelang, Jawa Tengah. (dok. Gapoktan Sumberejo)
Intinya sih...
  • Gapoktan Sumberejo mendapat pembinaan dari Indonesia Financial Group (IFG) untuk menciptakan produk bernilai tambah dari sawi putih yang terbuang.
  • Produksi keripik sawi putih dengan merek Kraukk berhasil meningkatkan pendapatan petani hingga 2-3 kali lipat dari harga sebelumnya.
  • Kraukk masih membutuhkan pemasaran yang lebih masif, termasuk penjualan online dan akses ke ekspedisi untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah kerap kali menelan kerugian akibat hasil panen yang terbuang.

Hampir di setiap panen, para petani sawi putih di Desa Sumberejo menelan kerugian karena banyak yang tak terjual di pasar. Kondisi itu memaksa para petani untuk tidak memanen sebagian hasil tanamnya, karena penyerapan yang rendah tak cukup menutupi biaya yang dibutuhkan untuk panen.

Alhasil, sebagian hasil panennya didiamkan di kebun sampai membusuk, dan menjadi pupuk kompos di kebun masing-masing.

“Ya memang kalau sawi itu pas overproduksi, itu mau dijual itu, biaya untuk panen enggak nyampe, jadi enggak cukup gitu. Makanya mereka, para petani di Sumberjo, di Ngablak itu dibiarkan di lahan saja,” ucap Siyono, Ketua Gapoktan Sumberejo kepada IDN Times, dikutip Sabtu, (3/1/2025).

1. Dapat pembinaan untuk ciptakan produk bernilai tambah

Berawal dari Pembinaan, Keripik Sawi Angkat Ekonomi Petani Magelang
Proses produksi keripik sawi putih Kraukk oleh petani Desa Sumberejo, Magelang, Jawa Tengah. (dok. Gapoktan Sumberejo)

Selain tak terserap secara optimal, harga sawi putih di tingkat petani juga sangat rendah, yakni Rp1.000 per kilogram (kg). Kemudian, datanglah Indonesia Financial Group (IFG) yang memberikan pembinaan UMKM melalui kegiatan Tanggung Jawab Lingkungan dan Sosial (TJSL).

Siyono mengatakan, Gapoktan Sumberejo mendapat bantuan dalam bentuk pembinaan, pembiayaan, dan sebagainya untuk meningkatkan nilai tambah dari sawi putih yang dipanen, dan sawi putih yang terbuang. Dari pembinaan yang diberikan, muncul ide pembuatan keripik sawi putih dengan merek bernama Kraukk.

“Kami mengajukan (ke IFG) itu, tentang potensi di kami adalah keripik sawi yang mau diolah itu. Karena apa? Karena keluarnya tadi sampah yang terbuang terlalu banyak ketika overproduksi di pertanian kami. Mereka oke itu,” tutur Siyono.

2. Tingkatkan pendapatan petani hingga 3 kali lipat

Berawal dari Pembinaan, Keripik Sawi Angkat Ekonomi Petani Magelang
Keripik sawi putih Kraukk produksi petani Desa Sumberejo, Magelang, Jawa Tengah. (dok. Gapoktan Sumberejo)

Produksi Kraukk sudah berjalan sejak 2022. Bisnis itu terbukti meningkatkan pendapatan para petani hingga 2-3 kali lipat, dan juga mengurangi kerugian dari sawi yang biasanya terbuang.

“Biasanya petani itu menjual dengan harga Rp1.000 per kilogram (kg). Itu kita menyerap dari mereka petani-petani, ya walaupun baru sebagian petani itu, bisa 2-3 kali lipat untuk bahan digoreng itu,” kata Siyono.

3. Butuh pemasaran yang lebih masif

Berawal dari Pembinaan, Keripik Sawi Angkat Ekonomi Petani Magelang
Proses produksi keripik sawi putih Kraukk oleh petani Desa Sumberejo, Magelang, Jawa Tengah. (dok. Gapoktan Sumberejo)

Siyono mengatakan, saat ini penjualan Kraukk masih dilakukan secara langsung alias offline, dan belum memiliki saluran penjualan online. Selain kemampuan dan pemahaman tim produksi mengenai mekanisme penjualan online yang masih terbatas, Siyono mengatakan, terbatasnya akses ke ekspedisi juga menjadi kendala.

“Untuk aksesnya ke desa kami, ke wilayah kami tuh, J&T, JNE itu sangat lumayan jauh. Selama ini kita kirim ada yang ke luar kota, mungkin kemarin ada yang, saya tahu kan anak-anak yang dulunya KKN di Sumberejo, ada yang dari NTT, Sulawesi, Papua, dan Jakarta juga itu kita kirim lewat Kantor Pos,” tutur Siyono.

Siyono juga mengatakan, tim produksi Kraukk masih harus belajar lebih banyak soal cara memasarkan produk. Menanggapi hal itu, Fitrah Eliba dari Tim TJSL IFG mengatakan, pihaknya masih akan terus memberikan pembinaan untuk mendorong pertumbuhan bisnis Kraukk.

“Rencana nanti kami akan adakan pelatihan untuk penjualan online, sertifikasi UMKM, pelatihan pemasaran produk. Kita lihat kebutuhan dari mereka apa,” ucap Fitrah.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More

Harga Perak Hari Ini, Sabtu 3 Januari 2026: Menguat

03 Jan 2026, 09:08 WIBBusiness