Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Waspada Penipuan Meningkat saat Periode Pencairan THR!

Waspada Penipuan Meningkat saat Periode Pencairan THR!
Chief Operating Officer VIDA, Victor Indajang. (dok. VIDA)
Intinya Sih
  • VIDA merilis whitepaper yang menyoroti lonjakan penipuan digital saat periode pencairan THR dan gaji, ketika aktivitas transaksi masyarakat meningkat tajam dan dimanfaatkan pelaku scam.
  • Komdigi mencatat lebih dari 1.700 laporan scam harian, mayoritas melalui aplikasi pesan dan media sosial, dengan kerugian publik mencapai Rp9,1 triliun akibat berbagai modus penipuan digital.
  • Kampanye ‘Jangan Asal Klik’ mengajak masyarakat berhenti sejenak sebelum membuka tautan atau dokumen mencurigakan serta selalu verifikasi permintaan transfer untuk mencegah pencurian data saat pencairan THR.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - VIDA, penyedia solusi digital identity dan fraud prevention meluncurkan whitepaper bertajuk “VIDA 2026 SEA Digital Identity Fraud Outlook". Salah satu fokus dalam whitepaper itu adalah bagaimana lonjakan penipuan atau scam kerap terjadi pada periode pencairan dana secara massal, khususnya saat momen pencairan tunjangan hari raya (THR).

Pada momen ini, aktivitas pembayaran digital masyarakat meningkat tajam, sehingga menciptakan kondisi ‘ramai transaksi’ yang kerap dimanfaatkan pelaku untuk menyusupkan modus penipuan yang terlihat meyakinkan.

1. Ada pola berulang yang meningkatkan risiko penipuan

Waspada Penipuan Meningkat saat Periode Pencairan THR!
ilustrasi penipuan (IDN Times/Aditya Pratama)

Di luar periode THR, whitepaper itu juga menyoroti pola berulang yang disebut payday pulse, yaitu peningkatan risiko yang muncul hampir setiap bulan pada rentang 25–28, selaras dengan periode pencairan gaji. Pola itu memperkuat temuan bahwa scam semakin terjadwal dan mengikuti momentum nasional.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Komdigi RI, Teguh Afriyadi mengatakan, tren penipuan saat ini sangat dipengaruhi momentum dan kerap dipicu kebiasaan pengguna yang kurang melakukan verifikasi.

“Setidaknya ada sekitar 1.700 laporan terkait scam setiap hari. Polanya meningkat dan sangat bergantung momentum—biasanya menjelang Lebaran, Natal, dan libur sekolah. Salah satu pemicunya adalah kebiasaan masyarakat yang terlalu cepat percaya tanpa verifikasi kebenarannya,” ujar Teguh dikutip Sabtu, (14/3/2026).

2. Verifikasi penting buat hindari penipuan

Waspada Penipuan Meningkat saat Periode Pencairan THR!
ilustrasi penipuan (IDN Times/Aditya Pratama)

Komdigi juga mencatat penipuan kerap terjadi melalui aplikasi pesan dan media sosial. Berdasarkan data CekRekening.id, pada periode 2017–31 Oktober 2025, total laporan aduan terkait nomor rekening bank dan nomor e-wallet yang terindikasi digunakan dalam penipuan paling banyak muncul melalui aplikasi pesan, dengan akumulasi 396.691 laporan.

Sementara itu, kasus yang terjadi di media sosial berada di urutan berikutnya dengan total 281.050 laporan. Temuan ini menunjukkan bahwa pelaku kerap memanfaatkan kanal yang paling dekat dengan keseharian masyarakat, sehingga pesan, tautan, maupun dokumen yang terlihat wajar dan mendesak lebih mudah dipercaya.

Kondisi tersebut kerap terjadi karena masih adanya kecenderungan sebagian masyarakat untuk langsung merespons tanpa verifikasi saat menerima pesan, tautan, atau dokumen. Oleh sebab itu, VIDA menggelar kampanye “Jangan Asal Klik” yang tujuannya mengajak masyarakat untuk berhenti sejenak dan mengecek apakah link maupun dokumen yang dibagikan terindikasi mencurigakan sebelum mengambil tindakan.

Chief Operating Officer VIDA, Victor Indajang menambahkan, penipuan digital kini tidak lagi dilakukan secara individual, melainkan semakin terorganisir dan berkembang layaknya sebuah industri. Karena itu, menurutnya, garda utama perlindungan tetap dimulai dari kesadaran Kampanye “Jangan Asal Klik” selaras dengan peringatan dari Komdigi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bank Indonesia (BI) terkait peningkatan modus penipuan dokumen digital, impersonasi, serta social engineering berbasis AI.

Data OJK juga mengungkap, kerugian masyarakat akibat penipuan digital mencapai sekitar Rp9,1 triliun berdasarkan lebih dari 400 ribu laporan selama November 2024 hingga akhir 2025, dengan modus mulai dari phishing, investasi bodong, hingga penyalahgunaan dokumen digital yang tampak resmi.

“Kami percaya kesadaran publik adalah fondasi keamanan dan kepercayaan di ekosistem digital. Edukasi perlu dimulai dari diri sendiri dengan memahami tanda-tanda penipuan, menyadari risikonya, dan berpikir dua hingga tiga kali sebelum mengeklik tautan,” ujar Victor.

3. Tips menghindari penipuan saat masa pencairan THR

Waspada Penipuan Meningkat saat Periode Pencairan THR!
ilustrasi penipuan (IDN Times/Aditya Pratama)

Dalam konteks Ramadan, kampanye “Jangan Asal Klik", menekankan keamanan digital juga merupakan bagian dari menjaga amanah di bulan suci. VIDA mengajak masyarakat membangun kebiasaan digital yang lebih aman, dengan berbagai langkah berikut:

  • Jangan klik link dari pesan tidak dikenal, apalagi yang menciptakan rasa panik.
  • Jangan bagikan OTP, PIN, atau kode verifikasi dalam bentuk apa pun.
  • Waspadai file APK atau dokumen yang meminta instalasi aplikasi tambahan.
  • Verifikasi ulang setiap permintaan transfer dana, meski mengatasnamakan orang terdekat.

Sejalan dengan itu, Victor juga menekankan kebiasaan verifikasi adalah langkah sederhana yang dampaknya besar, terutama pada periode pencairan THR.

“Di periode pencairan THR, satu tautan palsu yang terlihat meyakinkan bisa memicu account takeover atau pencurian data dalam hitungan detik. Siapa pun bisa terjerat,” kata Victor.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More