Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

BI Ungkap 7 Langkah Jaga Rupiah, Intervensi Besar Digencarkan

BI Ungkap 7 Langkah Jaga Rupiah, Intervensi Besar Digencarkan
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo. (IDN Times/Vadhia Lidyana)
Intinya Sih
  • Bank Indonesia menyiapkan tujuh langkah strategis, termasuk intervensi agresif di pasar valas dan penyesuaian suku bunga, untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan ekonomi global.
  • Perry Warjiyo menegaskan cadangan devisa kuat menjadi modal utama BI, disertai kebijakan menarik investasi asing melalui SRBI serta pembatasan transaksi valas spekulatif guna mengendalikan volatilitas rupiah.
  • BI memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional lewat skema LCT dan memperkuat pengawasan transaksi valas bersama OJK agar aktivitas keuangan tetap transparan dan terkontrol.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) menyiapkan tujuh langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global dan tren kenaikan suku bunga di berbagai negara.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, bank sentral akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, intervensi pasar, hingga pengawasan transaksi valuta asing (valas). Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Langkah pertama dilakukan melalui intervensi agresif di pasar valuta asing. Intervensi dilakukan di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dalam negeri, serta Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.

"Kami melakukan intervensi dalam jumlah besar untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dari gejolak global," ujar Perry dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR RI, Rabu (10/6/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat ke level Rp17.944 per dolar AS atau naik 0,63 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

1. Cadangan devisa kuat dan kenaikan suku bunga jadi andalan

Ilustrasi Cadangan Devisa (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi Cadangan Devisa (IDN Times/Arief Rahmat)

Perry menegaskan ruang intervensi BI masih sangat memadai karena ditopang cadangan devisa yang kuat. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 mencapai 144,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.626 triliun.

Meski turun dari posisi April 2026 sebesar 146,2 miliar dolar AS, level tersebut masih setara lebih dari enam bulan kebutuhan impor dan berada di atas standar kecukupan internasional.

"Kami yakinkan bahwa cadangan devisa kita lebih dari cukup, 6 bulan impor, termasuk juga pakai ukuran-ukuran standar internasional," bebernya.

Selain intervensi pasar, BI juga menyesuaikan kebijakan suku bunga sejalan dengan tren global. Dalam dua bulan terakhir, BI telah menaikkan BI Rate masing-masing sebesar 50 basis poin dan 25 basis poin.

Kebijakan tersebut ditujukan untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik, mendukung arus modal masuk, serta mengendalikan inflasi.

2. BI jaga likuiditas dan perketat transaksi valas spekulatif

Ilustrasi Obligasi/Surat Berharga (IDN Times/Aditya Pratama)
Ilustrasi Obligasi/Surat Berharga (IDN Times/Aditya Pratama)

Langkah berikutnya adalah menarik kembali investasi portofolio asing melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Selain menawarkan imbal hasil yang kompetitif, BI juga memberikan insentif berupa penurunan biaya swap lindung nilai bagi investor asing.

Di sisi lain, BI bersama pemerintah menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan. Salah satunya melalui pengaktifan kembali fasilitas lelang repo dengan tenor tiga bulan hingga satu tahun.

Melalui fasilitas tersebut, perbankan dapat memperoleh likuiditas dengan menjaminkan Surat Berharga Negara (SBN), SRBI, maupun instrumen lainnya.

"Dengan underlying SBN, SRBI maupun yang lain datang bisa datang ke Bank Indonesia kami akan penuhi kebutuhan likuiditasnya sehingga kami yakin bahwa pertumbuhan uang primer tetap akan double digit di atas 10 persen. Seperti kami tunjukkan di Maret 11,8 dan kemarin juga di bulan Mei 14,8," tegasnya.

Selain itu, BI memperketat transaksi valas yang bersifat spekulatif. Batas pembelian dolar AS tanpa underlying kini diturunkan menjadi 25.000 dolar AS per pelaku per bulan.

"Transaksi yang memiliki underlying tetap diperbolehkan. Kebijakan tersebut ditujukan untuk mengurangi aktivitas spekulatif yang berpotensi meningkatkan volatilitas nilai tukar," katanya.

3. Perluas transaksi mata uang lokal dan perkuat pengawasan

ilustrasi obligasi (unsplash.com/Viacheslav Bublyk)
ilustrasi obligasi (unsplash.com/Viacheslav Bublyk)

BI juga terus memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi internasional. Strategi ini dilakukan melalui pendalaman pasar valas domestik dan penguatan skema Local Currency Transaction (LCT).

Saat ini transaksi yuan-rupiah telah dilakukan langsung di pasar domestik dan terhubung dengan pasar keuangan Hong Kong serta China daratan. BI juga mendorong transaksi yen-rupiah bersama Jepang.

"Local currency transaction penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi Yuan dengan Indonesia sangat besar tahun lalu lebih dari 25 miliar per tahun. Data sekarang (tahun ini saja) per bulan mendekati 4 miliar dan ini kami gunakan untuk pengembangan transaksi Yuan dan Rupiah di dalam negeri yang terhubung dengan Hongkong dan Mainland," ucapnya.

Langkah terakhir adalah memperkuat pengawasan transaksi valas yang dilakukan perbankan maupun korporasi. Dalam pelaksanaannya, BI bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memastikan seluruh transaksi memiliki underlying yang jelas.

Perry mengatakan pengawasan dilakukan secara langsung ke perbankan guna memastikan aktivitas transaksi berjalan sesuai ketentuan dan tidak digunakan untuk tujuan spekulatif.

Melalui tujuh langkah tersebut, BI optimistis stabilitas rupiah tetap terjaga meski tekanan global masih membayangi perekonomian dunia. Kebijakan tersebut juga diharapkan mampu menjaga kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ilyas Listianto Mujib
EditorIlyas Listianto Mujib

Related Articles

See More