Bogor, IDN Times - Isu ketahanan pangan kembali menjadi sorotan tajam. Direktur Southeast Asian Regional Centre for Tropical Biology (Seameo Biotrop), Edi Santosa, mengungkap fakta mengenai kualitas beras yang disimpan terlalu lama di gudang. Menurutnya, manajemen stok yang buruk bisa membuat beras kehilangan nutrisi hingga tak layak konsumsi.
Edi menyoroti besarnya stok cadangan pangan, termasuk sisa impor yang justru berisiko menjadi beban jika tidak dikelola dengan teknologi dan distribusi yang tepat.
Banyak yang tidak menyadari bahwa beras adalah "benda hidup" yang memiliki masa kebugaran terbatas. Edi menjelaskan bahwa jika proses pengeringan dan penyimpanan tidak optimal, kualitas beras akan anjlok hanya dalam hitungan bulan.
"Jika disimpan, dalam empat bulan warnanya sudah berubah dari putih menjadi agak kuning. Perubahan warna itu menandai kualitasnya sudah turun. Makin lama disimpan, 'tenaganya' makin habis, tinggal tepung dan seratnya saja," ujar Edi kepada IDN Times, Rabu (25/2/2026).
Biotrop Ungkap Beras Lebih 4 Bulan Tak Layak Makan

Intinya sih...
Skema paket bundling dan penggunaan dua warna tote bagKPPG BGN Bogor menerapkan sistem Paket Bundling dan Take-Away selama libur sekolah dan Lebaran. Penerima manfaat wajib membawa kembali kantong yang diterima sehari sebelumnya sebagai syarat mendapatkan paket berikutnya.
Standar menu Ramadan, bebas menu pedas dan cepat basiBGN menginstruksikan SPPG untuk menyajikan menu yang aman secara ketahanan pangan. Rekomendasi menu meliputi telur asin, abon, dendeng kering, buah-buahan, serta kurma.
Operasional 100 SPPG untuk 250 Ribu penerima di Kota BogorHingga saat ini, sudah ada 100 SPPG yang telah
1. Risiko stok melimpah tapi tak layak konsumsi
Edi mengemukakan, estimasi dari Perpadi (2025), jika stok di gudang bisa mencapai angka fantastis hingga 8 juta ton, karena stok surplus dari hasil panen dari petani nasional dua tahun ini, bisa menopang baik gizi masyarakat.
Hal itu disebabkan, rata-rata penduduk Indonesia mengonsumsi beras medium sebanyak 60 persen dan 40 persen beras premium. Namun, angka besar ini menjadi bumerang jika kualitas pengadaan di awal (inequality) tidak dijaga, seperti kadar air yang terlalu tinggi saat masuk penggilingan.
"Kalau kualitas turun terlalu jauh, bisa jadi beras tersebut tidak layak dikonsumsi. Misalnya, umurnya sudah lebih dari dua tahun, ditambah lagi kualitas saat masuk ke gudang mungkin tidak sesuai standar," tambahnya.
2. Teka-teki nasib beras impor lama di gudang
Salah satu poin krusial yang disoroti adalah keberadaan stok impor lama yang diduga masih tersisa. Edi mengingatkan pentingnya transparansi dan percepatan penyaluran stok impor agar tidak mubazir dan habis dimakan hama gudang.
"Seingat saya ada impor tahun 2023-2024 menjelang pemilu, yang sebagian mungkin masih ada di gudang dan mulai dikeluarkan. Ini penting untuk segera disalurkan. Kita jadi tidak mendapatkan manfaat optimal (jika terlalu lama disimpan)," tegas Edi.
3. Perlu pembenahan infrastruktur
Edi berpandangan, untuk menjamin masyarakat mengonsumsi beras segar maksimal empat bulan setelah panen, Biotrop menyarankan pembenahan infrastruktur.
Menyimpan dalam bentuk gabah dinilai jauh lebih awet daripada menyimpan dalam bentuk beras, asalkan fasilitas pengeringan dekat dengan lahan sawah.
Selain itu, efisiensi rantai logistik menjadi kunci. Edi mencontohkan distribusi ke Kalimantan Timur yang seharusnya bisa mengambil dari Sulawesi Tengah yang lebih dekat, daripada harus mendatangkan dari Jawa Timur atau Kalimantan Selatan.
Menurut dia, dari prediksi Perpadi tentang konsumsi beras masyarakat saat ini didominasi oleh beras medium sekitar 60 persen dan beras premium 40 persen. "Data ini menjadi pengingat bahwa mayoritas masyarakat sangat bergantung pada kestabilan kualitas beras di pasar," katanya.