Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Buka Suara soal Rebalancing MSCI, Bos OJK: Bukan Cuma Indonesia

Buka Suara soal Rebalancing MSCI, Bos OJK: Bukan Cuma Indonesia
Anggota Dewan Komisioner Pengganti Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)
Intinya Sih
  • Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menegaskan rebalancing MSCI adalah proses rutin yang terjadi di banyak negara Asia Pasifik, bukan hanya di Indonesia.
  • OJK memandang rebalancing MSCI sebagai momentum untuk memperkuat pasar modal domestik melalui peningkatan likuiditas, free float, tata kelola emiten, dan perluasan basis investor.
  • OJK memastikan fundamental sektor keuangan Indonesia tetap kuat dan stabil, serta berkomitmen menjaga pasar modal yang sehat, transparan, dan menarik bagi investor jangka panjang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, merespons perubahan komposisi indeks saham yang dilakukan penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI). Menurutnya, rebalancing tersebut merupakan mekanisme review berkala yang terjadi hampir di seluruh pasar Asia Pasifik, bukan hanya di Indonesia.

Perempuan yang karib disapa Kiki itu menjelaskan, perubahan komposisi indeks MSCI didasarkan pada sejumlah parameter objektif seperti kapitalisasi pasar, free float, likuiditas, hingga dinamika harga saham. Oleh karena itu, keluarnya sejumlah emiten dari indeks dinilai sebagai bagian dari dinamika global pasar modal.

“Fenomena ini juga tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi terjadi di hampir seluruh pasar Asia Pasifik pada review kali ini,” ujar Kiki dalam pernyataan resminya, Kamis (14/5/2026).

1. Banyak negara terdampak rebalancing MSCI

msci adalah
Ilustrasi MSCI (Dok MSCI)

Kiki memaparkan, dalam MSCI Global Standard Index, sejumlah negara Asia juga mengalami keluarnya emiten dalam jumlah cukup besar. Jepang tercatat mengalami 14 emiten keluar, Taiwan 7 emiten, Malaysia 6 emiten, dan Korea Selatan 3 emiten.

Sementara itu, China meskipun menambah 22 emiten baru juga mengalami 24 emiten keluar dari indeks. Menurut Kiki, kondisi tersebut mencerminkan adanya penyesuaian alokasi portofolio global dan dinamika pasar yang terjadi secara luas di kawasan Asia Pasifik.

Dia pun menegaskan, perubahan tersebut bukan semata-mata disebabkan isu spesifik yang terjadi di pasar modal Indonesia.

2. OJK anggap rebalancing jadi pengingat memperkuat pasar modal

Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)

Meski begitu, Kiki mengatakan momentum rebalancing MSCI menjadi pengingat penting bagi Indonesia untuk terus memperkuat kualitas dan kedalaman pasar modal domestik.

Menurut dia, OJK bersama para pemangku kepentingan akan terus mendorong penguatan integritas pasar, peningkatan free float dan likuiditas saham, hingga memperluas basis investor.

Selain itu, OJK juga bakal memperkuat tata kelola emiten agar daya saing pasar modal Indonesia semakin kuat dan berkelanjutan.

“OJK bersama seluruh stakeholders akan terus mendorong penguatan market integrity, peningkatan free float, dan likuiditas, perluasan basis investor, serta penguatan governance emiten agar daya saing pasar modal Indonesia semakin kuat dan berkelanjutan,” tutur Kiki.

3. OJK pastikan fundamental sektor keuangan tetap kuat

OJK percepat reformasi pasar modal untuk perkuat likuiditas dan kepercayaan investor.
OJK percepat reformasi pasar modal untuk perkuat likuiditas dan kepercayaan investor. (ojk.go.id)

Kiki menegaskan, fundamental sektor jasa keuangan Indonesia masih resilien dan stabil di tengah volatilitas pasar maupun perubahan indeks global.

Dia menyebut, perubahan indeks global tidak akan mengubah komitmen OJK dalam membangun pasar modal yang sehat, transparan, dan kredibel bagi investor domestik maupun global.

“Ke depan, kami juga terus memperkuat koordinasi dengan BEI, SRO, dan seluruh pelaku pasar guna memastikan pasar modal Indonesia semakin attractive, liquid, dan investable dalam jangka panjang,” ujar Kiki.

Share Article
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah

Related Articles

See More