Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cara Gen Z Mengambil Keputusan Pembelian, Gak Lagi Soal Harga
ilustrasi membeli barang secara online (pexels.com/Marcial Comeron)
  • Gen Z lebih percaya pada pengalaman nyata pengguna dibanding iklan, menjadikan ulasan dan konten autentik sebagai dasar utama dalam menentukan keputusan pembelian.
  • Pertimbangan Gen Z berfokus pada nilai dan manfaat produk, bukan sekadar harga termurah, dengan membandingkan berbagai sumber informasi sebelum membeli.
  • Identitas dan nilai brand turut memengaruhi pilihan Gen Z; transparansi serta konsistensi perusahaan terhadap isu sosial dan lingkungan meningkatkan kepercayaan konsumen muda.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Cara Gen Z mengambil keputusan pembelian menjadi topik yang semakin menarik dibahas pada 2026. Hal ini  dikarena generasi ini kini mendominasi pasar konsumen muda, sementara kebiasaan mereka dalam memilih produk sering kali berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.

Ketika sebuah produk viral muncul di media sosial, siapa yang memengaruhi pilihan mereka, apa yang membuat mereka yakin untuk membeli, serta bagaimana proses pertimbangannya ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar melihat harga. Simak ulasannya berikut ini.

1. Gen Z lebih percaya pengalaman nyata dibanding iklan

ilustrasi review pengguna lain (pexels.com/Anna Shvets)

Sebelum memutuskan membeli suatu produk, Gen Z cenderung mencari pengalaman pengguna lain terlebih dahulu. Kebiasaan tersebut terlihat dari aktivitas membaca kolom ulasan, menonton video penggunaan produk, hingga memeriksa komentar konsumen yang pernah mencoba produk serupa. Informasi semacam itu dianggap lebih meyakinkan karena berasal dari pengalaman langsung, bukan materi promosi yang telah disusun oleh brand.

Kepercayaan terhadap pengalaman nyata muncul karena Gen Z tumbuh di tengah banjir informasi digital. Situasi tersebut membuat mereka terbiasa mempertanyakan setiap klaim yang beredar di internet. Sebuah produk mungkin memiliki kampanye pemasaran yang besar, tetapi hal itu belum tentu cukup untuk membuat mereka segera melakukan transaksi apabila ulasan pengguna menunjukkan pengalaman yang berbeda.

Konten yang memperlihatkan penggunaan produk secara apa adanya juga lebih mudah menarik perhatian mereka. Video yang menunjukkan kelebihan sekaligus kekurangan produk sering kali dianggap lebih jujur dibandingkan konten yang hanya menampilkan sisi positif. Akibatnya, keputusan pembelian lebih banyak dipengaruhi persepsi mengenai keaslian informasi daripada seberapa sering sebuah produk muncul dalam iklan.

2. Pertimbangan nilai produk lebih penting daripada harga termurah

ilustrasi nilai produk (pexels.com/Ivan S)

Banyak orang masih menganggap konsumen muda selalu mencari produk paling murah. Kenyataannya, Gen Zjustru lebih sering membandingkan manfaat yang diperoleh dengan harga yang harus dibayar. Produk dengan harga lebih tinggi tetap memiliki peluang dipilih apabila menawarkan kualitas, ketahanan, atau pengalaman penggunaan yang dianggap sepadan.

Proses perbandingan tersebut biasanya dilakukan melalui berbagai platform sekaligus. Marketplace digunakan untuk membandingkan harga, media sosial dimanfaatkan untuk melihat pengalaman pengguna, sedangkan mesin pencari membantu menemukan informasi tambahan mengenai spesifikasi maupun reputasi produk. Kebiasaan ini membuat keputusan pembelian berlangsung lebih terukur karena didasarkan pada banyak sumber informasi.

Pertimbangan semacam itu juga menjelaskan mengapa sejumlah produk premium tetap diminati oleh konsumen muda. Fokus utama mereka bukan sekadar menghemat pengeluaran, melainkan memastikan bahwa uang yang dikeluarkan memberikan manfaat yang sesuai dengan kebutuhan. Pola pikir tersebut membuat Gen Z menjadi kelompok konsumen yang cukup selektif ketika menentukan pilihan.

3. Nilai dan identitas brand ikut memengaruhi pilihan

ilustrasi brand (pexels.com/AI25.Studio Studio)

Selain mempertimbangkan fungsi produk, Gen Z sering kali memperhatikan identitas sebuah brand. Mereka ingin mengetahui bagaimana perusahaan berkomunikasi dengan konsumennya, nilai apa yang diusung, serta apakah pesan yang disampaikan sesuai dengan tindakan yang dilakukan. Konsistensi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan kepercayaan.

Perhatian terhadap identitas brand semakin terlihat ketika isu sosial dan lingkungan menjadi bagian dari percakapan sehari-hari di ruang digital. Banyak konsumen muda mulai memperhatikan bagaimana sebuah perusahaan menjalankan bisnisnya, mulai dari proses produksi hingga komitmen terhadap berbagai isu yang mereka anggap penting. Faktor tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap keputusan pembelian meskipun bukan satu-satunya alasan.

Brand yang mampu menunjukkan transparansi biasanya memperoleh respons lebih positif. Informasi produk yang jelas, komunikasi yang terbuka, serta kemampuan menjawab pertanyaan konsumen secara jujur membantu membangun hubungan yang lebih kuat. Hubungan tersebut kemudian menjadi salah satu alasan mengapa konsumen bersedia kembali melakukan pembelian di masa mendatang.

Di tengah derasnya arus informasi digital, memahami cara generasi muda berpikir menjadi semakin penting karena keputusan yang mereka ambil hari ini kerap mencerminkan arah perubahan sosial pada masa mendatang. Pembahasan mengenai fenomena tersebut juga semakin relevan ketika teknologi, budaya internet, dan algoritma memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan sehari-hari.

Jika tertarik melihat isu ini dari perspektif yang lebih luas, Diskusi tema "THE NEW INFLUENCE: What Shapes Millennial and Gen Z Lifestyles in Digital Era" akan hadir dalam sesi The Next Us: Indonesia’s Leap in the Algorithmic Age pada Indonesia Summit 2026, 17–18 Juni di The Tribrata Darmawangsa, Jakarta — Dapatkan tiketnya di bit.ly/IS_26.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article