Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
CEK FAKTA: Benarkah Indonesia Sangat Kaya Seperti Klaim Prabowo?
Presiden Prabowo Subianto menghadiri Puncak Peringatan Hari Koperasi ke-79, di Indonesia Arena, Jakarta, Minggu (12/6/2026). (IDN Times/M. Ilman Nafian)
  • Ekonom Wijayanto Samirin menilai klaim Prabowo soal Indonesia sangat kaya tidak sepenuhnya benar karena nilai cadangan terbukti SDA hanya sekitar 3 triliun dolar AS.
  • Wijayanto menjelaskan bahwa setelah dikurangi biaya eksploitasi dan pemrosesan, nilai kekayaan per kapita Indonesia tergolong kecil sehingga tidak bisa diandalkan untuk kemakmuran nasional.
  • Presiden Prabowo tetap menegaskan keyakinannya bahwa Indonesia kaya dan berkomitmen agar hasil kekayaan serta pembangunan dapat dinikmati masyarakat hingga ke tingkat daerah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Presiden Prabowo bilang Indonesia itu sangat kaya. Tapi Pak Wijayanto, seorang guru ekonomi, bilang kekayaan dari batu bara, minyak, gas, nikel, dan tembaga tidak sebanyak itu. Katanya uangnya kecil kalau dibagi ke semua orang. Sekarang Prabowo mau supaya kekayaan Indonesia bisa dinikmati rakyat di desa dan kota.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ekonom sekaligus dosen Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, meluruskan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut Indonesia merupakan negara yang sangat kaya.

Menurut dia, jika diukur dari nilai cadangan terbukti (proven reserve) sumber daya alam (SDA) utama, kekayaan Indonesia tidak sebesar yang banyak dipersepsikan.

"Faktanya kita miskin. Nilai total proven reserve SDA terpenting kita (batu bara, minyak, gas, nikel dan tembaga) hanya sekitar 3 triliun dolar AS, atau setara dengan 10.700 dolar AS per-kapita (Rp190 juta per-kapita)," kata dia dalam keterangan tertulis, Senin (13/7/2026).

1. Nilai cadangan SDA dinilai tidak cukup untuk andalkan kemakmuran

Ilustrasi sumber daya alam (Unsplash.com/Dominik Vanyi)

Wijayanto mengatakan, jika sekitar 50 persen dari nilai cadangan terbukti tersebut digunakan untuk biaya eksploitasi dan pemrosesan, maka nilai yang tersisa hanya sekitar Rp95 juta per kapita.

"Jika diasumsikan 50 persen habis untuk biaya eksploitasi dan pemrosesan, nilai tersebut hanya Rp95 juta per-kapita," ujarnya.

Menurut dia, angka tersebut masih tergolong kecil dan jauh lebih rendah dibandingkan puluhan negara lain. Karena itu, dia menilai ketergantungan pada sumber daya alam saja tidak dapat menjadi jalan untuk mencapai kemakmuran.

"Sangat kecil dan jauh lebih rendah dari puluhan negara lain. Mengandalkan SDA untuk makmur jelas tidak mungkin," kata Wijayanto.

2. Prabowo sebut Indonesia sangat kaya

Presiden Prabowo Subianto saat memperingati Hari Koperasi di Senayan, Jakarta, Minggu (12/7/2026). (IDN Times/M. Ilman Nafian)

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia merupakan negara yang sangat kaya. Menurut dia, setelah menjabat sebagai presiden, dirinya semakin memahami besarnya kekayaan yang dimiliki Indonesia.

Namun, Prabowo juga mengatakan dirinya prihatin karena sebagian kekayaan Indonesia telah dicuri dan dibawa ke luar negeri. Itu disampaikan pada Peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 Tahun 2026, Minggu (12/7/2026).

"Kita memahami bahwa negara kita sangat kaya. Sesudah saya dilantik dalam minggu-minggu pertama saya jadi presiden, saya sadar betapa kayanya bangsa Indonesia," tuturnya.

3. Prabowo ingin kekayaan kembali dinikmati rakyat

ilustrasi perusahaan pertambangan (pexels.com/Tom Fisk)

Prabowo juga menyatakan, pemerintah ingin membangun perekonomian dari desa, kecamatan, hingga kabupaten agar perputaran uang tetap berada di daerah.

Orang nomor satu di Indonesia itu menegaskan, pemerintah berupaya mengembalikan manfaat kekayaan Indonesia kepada masyarakat sehingga hasil pembangunan dapat dirasakan lebih luas oleh rakyat.

"Indonesia kaya, Indonesia akan bangkit, dan Indonesia akan mampu memperkuat semua kekuatan di Republik Indonesia ini," ujar Prabowo.

Topics

Editorial Team

Related Article