Rupiah Keok Lagi Pagi Ini, Dolar AS Makin Perkasa

- Rupiah melemah 54 poin atau 0,30 persen ke level Rp18.119 per dolar AS pada awal perdagangan Senin, dipicu tekanan eksternal dan sentimen global.
- Tensi geopolitik di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak dunia yang menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sepanjang hari.
- Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 63 persen, sementara rupiah diproyeksi bergerak di kisaran Rp18.000–Rp18.150 per dolar AS.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah tercatat melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam mengawali perdagangan awal pekan, Senin (13/7/2026).
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.24 WIB, mata uang Garuda terpantau melemah sebesar 54 poin atau 0,30 persen ke level Rp18.119 per dolar AS dibandingkan dengan penutupan perdagangan Jumat (10/7/2026).
1. Tensi geopolitik Timur Tengah picu lonjakan harga minyak dunia
Pengamat pasar uang, Lukman Leong, memperkirakan rupiah akan melemah terhadap dolar AS sepanjang hari ini. Pelemahan tersebut terjadi di tengah kembali meningkatnya ketegangan politik atau tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Situasi konflik yang memanas di wilayah tersebut dinilai menjadi penyebab utama terjadinya lonjakan pada harga minyak mentah dunia, yang pada akhirnya ikut menekan pergerakan rupiah.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah kembali meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang menyebabkan lonjakan pada harga minyak mentah dunia," kata dia.
2. Pasar taruhan suku bunga AS naik dan inflasi masih tinggi
Sementara itu, pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan para pelaku pasar pekan ini terlihat terus meningkatkan prediksi mereka terkait kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Fed) pada 2026.
Berdasarkan data dari CME Fedwatch Tool, pasar saat ini memperkirakan adanya peluang sebesar 63 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga mereka pada pertemuan pada September 2026 mendatang.
"Pasar terlihat terus meningkatkan taruhan mereka pada kenaikan suku bunga Fed pada 2026 pekan ini," ujar dia.
Ibrahim menyebutkan jumlah klaim tunjangan pengangguran di AS turun minggu lalu, menunjukkan pasar tenaga kerja dalam mode perekrutan dan pemecatan yang sama-sama lambat.
Di sisi lain, Presiden Federal Reserve New York, John Williams, menyatakan inflasi di AS masih terlalu tinggi. Dia menambahkan, The Fed saat ini aktif membahas berbagai skenario inflasi dan tetap berkomitmen untuk mengembalikannya ke target dua persen.
3. Rupiah diproyeksi bergerak di kisaran Rp18.000 hingg Rp18.150
Terkait dengan proyeksi pergerakan mata uang hari ini, Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak melemah dengan rentang harian yang berada di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.150 per dolar AS.
Sementara, Ibrahim memproyeksikan rupiah ditutup melemah di rentang Rp18.060 hingga Rp18.110 per dolar AS, sedangkan pergerakan sepekan ini diprediksi berada di level Rp17.870 sampai Rp18.300 per dolar AS.




















