Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Cetak Rekor Terus-Menerus, Begini Proyeksi Harga Emas ke Depan

Cetak Rekor Terus-Menerus, Begini Proyeksi Harga Emas ke Depan
Petugas menunjukkan emas Antam di Butik Emas Logam Mulia Antam Denpasar Bali, Kamis (9/9/2021). ANTARA FOTO/Nyoman Hendra
Intinya sih...
  • Reposisi investor dorong harga emas melesat: Kombinasi reposisi investor, ketidakpastian geopolitik, dan kebutuhan menjaga ketahanan portofolio mendorong kenaikan harga emas. Harga emas global melonjak lebih dari 500 dolar AS dalam 30 hari terakhir.
  • Sentimen global jadi risiko utama emas: Faktor seperti membaiknya sentimen risiko global dan kenaikan suku bunga dapat memperlambat momentum emas. Tanda-tanda ke arah tersebut belum cukup kuat sehingga posisi emas masih relatif kokoh.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Harga emas global memasuki fase historis setelah menembus rekor tertinggi di level 5 ribu dolar AS per troy ons atau sekitar Rp84,9 juta. Kenaikan ikut mendorong harga emas batangan di Indonesia hingga menembus Rp3 juta per gram.

Menanggapi lonjakan tersebut, Senior Markets Strategist & Head of Public Policy (Americas) di World Gold Council, Joseph Cavatoni menilai, kenaikan harga emas tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipicu oleh perubahan strategi investor dan tingginya ketidakpastian global.

1. Reposisi investor dorong harga emas melesat

Cetak Rekor Terus-Menerus, Begini Proyeksi Harga Emas ke Depan
Ilustrasi emas, logam mulia (IDN Times/Sunariyah)

Cavatoni menjelaskan, kenaikan emas ke level 5 ribu dolar AS mencerminkan kombinasi reposisi investor, ketidakpastian geopolitik yang masih berlanjut, serta kebutuhan menjaga ketahanan portofolio.

"Investor yang sebelumnya memiliki alokasi emas rendah kini meninjau kembali asumsi mereka, dan realokasi inilah yang mendorong harga naik lebih cepat dibandingkan yang diperkirakan oleh banyak model valuasi tradisional," katanya dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (29/1/2026).

Dalam 30 hari terakhir saja, harga emas global tercatat melonjak lebih dari 500 dolar AS. Lonjakan tersebut dinilai bukan sekadar spekulasi berlebihan, melainkan mencerminkan perubahan sentimen pasar yang sangat cepat.

Meski begitu, reli harga emas juga dibarengi peningkatan volatilitas jangka pendek, menandakan pasar masih beradaptasi dengan era harga emas yang lebih tinggi secara struktural.

2. Sentimen global jadi risiko utama emas

Cetak Rekor Terus-Menerus, Begini Proyeksi Harga Emas ke Depan
ilustrasi logam mulia emas (pexels.com/Zlaťáky.cz)

Cavatoni menilai, ada sejumlah faktor yang berpotensi menahan laju kenaikan. Risiko terbesar datang dari membaiknya sentimen risiko global secara signifikan, terutama jika pertumbuhan ekonomi menguat tanpa diiringi ketegangan geopolitik.

"Kepastian jalur pertumbuhan, berkurangnya ketidakpastian, serta pulihnya kepercayaan terhadap koordinasi kebijakan dapat mengurangi urgensi kepemilikan aset defensif," paparnya.

Kenaikan suku bunga, penguatan dolar AS, atau pergeseran berkelanjutan kembali ke aset berisiko juga berpotensi memperlambat momentum emas. Namun, hingga kini, tanda-tanda ke arah tersebut dinilai belum cukup kuat sehingga posisi emas masih relatif kokoh.

3. Emas diproyeksi tetap kuat pada 2026

Cetak Rekor Terus-Menerus, Begini Proyeksi Harga Emas ke Depan
Warga mencari informasi ketersediaan emas Antam di Butik Emas Logam Mulia Antam kompleks DP Mall, Semarang, Jawa Tengah, Senin (14/4/2025). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Apabila kondisi saat ini bertahan, mulai dari tingginya ketidakpastian, dinamika kebijakan yang disruptif, hingga kebutuhan diversifikasi portofolio, harga emas berpeluang tetap berada di atas rekor sebelumnya dan terus menguji level baru pada 2026.

Meski demikian, dia menekankan kecepatan kenaikan harga tetap menjadi faktor penting. Kenaikan yang berlangsung secara bertahap dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan lonjakan tajam dalam waktu singkat.

"Koreksi jangka pendek atau fase konsolidasi adalah hal yang wajar dan justru dapat memperkuat fondasi harga emas yang lebih tinggi dalam jangka panjang," ujar Cavatoni.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More

RI Disebut Boros hingga Rp9.334 Triliun dari Sistem Pangan, Kok Bisa?

29 Jan 2026, 07:05 WIBBusiness