China Targetkan Nilai Sektor Jasa Capai Rp252,36 Kuadriliun pada 2030

- Pemerintah China menargetkan nilai output sektor jasa melampaui Rp252,36 kuadriliun pada 2030, dengan fokus pada konsumsi domestik, inovasi teknologi, dan reformasi kelembagaan.
- Inisiatif 'AI Plus' digulirkan untuk modernisasi layanan produksi melalui integrasi kecerdasan buatan di riset, logistik, dan perangkat lunak guna meningkatkan produktivitas serta daya saing global.
- China memperluas akses pasar jasa dengan melonggarkan regulasi di bidang telekomunikasi, bioteknologi, dan rumah sakit asing demi menciptakan iklim bisnis yang lebih terbuka dan kompetitif.
Jakarta, IDN Times - Dewan Negara China pada Selasa (21/4/2026) merilis pedoman kebijakan baru untuk memperluas dan meningkatkan kualitas sektor jasa secara nasional. Pemerintah menetapkan target agar total nilai output sektor jasa melampaui 100 triliun yuan (Rp252,36 kuadriliun) pada 2030.
Kebijakan ini menandai langkah Beijing untuk menggeser fokus pertumbuhan ekonominya, dari yang sebelumnya didorong oleh investasi infrastruktur menjadi lebih berbasis pada konsumsi domestik dan inovasi teknologi. Rencana jangka panjang tersebut menggarisbawahi pertumbuhan sektor jasa akan digerakkan oleh permintaan pasar, reformasi kelembagaan, inovasi teknologi, dan keterbukaan terhadap pasar global.
Melalui penyelarasan mekanisme pasar dan kebijakan pemerintah, China berupaya mengatasi berbagai hambatan regulasi. Langkah strategis ini juga bertujuan menciptakan lapangan kerja berkualitas dan menjadikan konsumsi masyarakat sebagai mesin utama penggerak ekonomi di masa depan.
Table of Content
1. China perbarui layanan produksi dengan teknologi kecerdasan buatan
Untuk mencapai target Rp252,36 kuadriliun pada 2030, China memprioritaskan modernisasi layanan produksi agar lebih spesifik dan berdaya saing di pasar global. Hal ini diwujudkan melalui inisiatif "AI Plus" yang mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan ke sektor-sektor seperti penelitian dan pengembangan, logistik, serta layanan perangkat lunak.
Rencana ini mencakup penggunaan alat pemrograman pintar, pemanfaatan model bahasa besar (large language models) dan agen cerdas, serta pembentukan kerja sama data industri. Inisiatif ini diharapkan mampu memacu produktivitas di sektor manufaktur dan jasa.
Dewan Negara juga menekankan pentingnya mengoptimalkan rantai industri dengan memperkuat layanan sains dan teknologi. Daya saing logistik akan ditingkatkan melalui penerapan teknologi digital dan ramah lingkungan.
Selain itu, pemerintah mendorong penggunaan instrumen keuangan seperti subsidi bunga pinjaman, alat pendanaan kembali (relending tools), dan perluasan Dana Investasi Real Estat (REITs). Langkah ini diambil untuk menarik modal jangka panjang bagi pembangunan infrastruktur logistik, fasilitas kesehatan, dan pusat layanan komersial.
"Sektor jasa China diperkirakan akan melewati angka Rp252,36 kuadriliun pada periode Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030), dan kami akan bekerja sama dengan departemen pemerintah lainnya untuk meluncurkan berbagai langkah pendukung agar potensi sektor jasa ini bisa terbuka sepenuhnya," kata Kepala Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC), Zheng Shanjie, dilansir Global Times.
2. Pemerintah tingkatkan kualitas layanan masyarakat untuk dorong konsumsi
Peningkatan kualitas layanan konsumen juga menjadi sorotan utama dalam kebijakan ini. Pemerintah China berupaya menyediakan layanan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat, mulai dari layanan rumah tangga hingga perawatan lansia dan pengasuhan anak yang lebih profesional.
Dengan memperkuat sektor pariwisata, budaya, olahraga, dan kesehatan, China menargetkan lonjakan konsumsi rumah tangga. Saat ini, porsi pengeluaran jasa per kapita di China baru menyentuh 46,1 persen dari total konsumsi, masih di bawah negara-negara maju seperti Amerika Serikat yang berada di kisaran 70 persen.
"Langkah China untuk membuka sektor jasanya dan mendorong konsumsi telah meningkatkan kepercayaan kami terhadap pasar, terutama karena konsumen China kini lebih mencari pengalaman liburan seperti wisata keluarga, eksplorasi budaya, dan hiburan olahraga," kata Presiden Marriott International Greater China, Mao Yibing.
Pemerintah menyadari sektor jasa harus mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja untuk menyeimbangkan struktur ekonomi nasional. Sektor ini didorong untuk meningkatkan kesejahteraan publik melalui inovasi layanan di bidang pendidikan, pelatihan, dan hiburan. Strategi ini mencakup pembangunan inkubator bisnis bagi industri baru serta peningkatan layanan kesehatan dengan membuka akses bagi institusi medis asing di sejumlah wilayah percontohan.
3. China buka akses pasar lebih luas dan sesuaikan aturan standar dunia
Fokus penting lainnya dalam peta jalan 2030 adalah komitmen China untuk memperluas pembukaan sektor jasanya. Pemerintah akan melonggarkan syarat masuk pasar (market access) pada bidang-bidang tertentu seperti telekomunikasi nilai tambah, bioteknologi, dan pendirian rumah sakit asing.
China juga berencana memperbaiki sistem manajemen perdagangan jasa lintas batas, memperkuat penilaian pengamanan pengiriman data ke luar negeri, dan membangun kawasan inovasi percontohan. Hal ini bertujuan memastikan iklim bisnis di China tetap kompetitif dan terbuka bagi penyedia layanan global.
Selain penyesuaian regulasi, China juga menargetkan lahirnya lebih banyak merek "China Services" yang berdaya saing global. Tujuannya adalah agar standar industri China lebih diakui dan diadaptasi dalam perdagangan internasional.


















