3 Perbedaan Dinar dan Dirham Secara Umum

- Dinar dan dirham kini dilirik sebagai alternatif investasi logam mulia di Indonesia, diterbitkan oleh PT Antam serta beberapa perusahaan swasta.
- Dinar terbuat dari emas dengan kadar 91,7–99,99 persen, sedangkan dirham berbahan perak; harga dinar jauh lebih tinggi dibandingkan dirham.
- Berdasarkan standar Open Mithqal Standard, berat 1 dinar setara 1/7 troy ounce emas dan 1 dirham setara 1/10 troy ounce perak.
Jakarta, IDN Times - Dari sekian banyaknya instrumen investasi yang ada pada pasar uang dan pasar modal, dinar dan dirham kini mulai dilirik.
Di Indonesia, dinar dan dirham diterbitkan PT Aneka Tambang Tbk, yaitu anak perusahaan BUMN PT Inalum (Persero). Namun, kini beberapa perusahaan swasta lain juga ikut menerbitkannya.
Kini, instrumen investasi dalam bentuk logam mulia ini mulai menjadi alternatif investasi bagi investor. Walaupun sama-sama logam mulia, nyatanya keduanya berbeda. Berikut perbedaan dinar dan dirham yang telah IDN Times rangkum.
1. Dinar dari emas, Dirham dari perak

Secara bentuk asalnya, dinar adalah kepingan logam yang sebagian atau seluruhnya dibuat dari emas. Sementara itu, dirham adalah kepingan logam yang dicetak dari perak sebagai bahan utamanya.
Meskipun berbeda, keduanya relatif kebal terhadap inflasi karena harga logam mulia cenderung terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Maka itu, selain bisa dijadikan instrumen investasi, Dinar dan Dirham juga sering dijadikan mahar pernikahan, hadiah, hingga pembayaran zakat.
2. Berbeda harganya

Pada Dinar Antam, jenisnya terbagi menjadi dua, yakni dinar Au 91,7 persen atau dinar dengan kandungan emas 91,7 persen (22 karat). Adapun Dinar fine gold 99,99 persen atau dinar dengan kandungan emas 99,99 persen (24 karat). Untuk beratnya tersedia dari bobot 1 dinar (4,25 gram), ½ dinar, ¼ dinar, 2 dinar, dan 4 dinar.
Dilansir dari laman resmi Public Gold Indonesia, harga emas Dinar hari ini, Minggu (25/04/2026), untuk 1 keping berada di kisaran Rp12.456.000, sedangkan harga belinya sekitar Rp11.210.000.
Sementara itu, untuk keping perak Dirham, tersedia dalam beberapa varian seperti 1 Dirham dan 5 Dirham. Harga jual 1 Dirham berada di kisaran Rp350.000–Rp400.000, sedangkan harga belinya lebih rendah mengikuti margin yang berlaku. Untuk 5 dirham, harga jualnya berada di kisaran Rp1.700.000–Rp2.000.000, dengan harga beli yang juga menyesuaikan dengan kondisi pasar. Terlihat dari kedua logam mulia tersebut bahwa harga jual umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan harga beli karena adanya selisih margin.
3. Berbeda beratnya

Secara global, koin dinar dapat menjadi alat tukar. Namun di Indonesia, hal ini tak lazim digunakan. Selayaknya logam mulia lain, Dinar dapat dijual di toko-toko emas. Bahkan harga jualnya cukup tinggi jika dijual di kalangan tertentu sesama pengguna dinar.
Berdasarkan Open Mithqal Standard (OMS), dinar adalah uang emas murni yang memiliki berat 1 mitsqal atau setara dengan 1/7 troy ounce.
Sedangkan dirham, berdasarkan ketentuan OMS, memiliki kadar perak murni dengan berat 1/10 troy ounce. Keduanya bisa juga dicairkan dengan uang tunai sesuai harga emas yang berlaku (likuid).
FAQ seputar Perbedaan Dinar dan Dirham Secara Umum
| Apa perbedaan utama antara Dinar dan Dirham? | Perbedaan utamanya terletak pada bahan dasar. Dinar dibuat dari emas, sedangkan Dirham dibuat dari perak. |
| Apakah Dinar dan Dirham memiliki nilai yang sama? | Tidak. Karena bahan dasarnya berbeda, nilai Dinar umumnya jauh lebih tinggi dibanding Dirham karena harga emas lebih mahal daripada perak. |
| Apa perbedaan berat antara Dinar dan Dirham? | Dinar biasanya memiliki berat sekitar 1 mitsqal atau setara 1 per 7 troy ounce, sedangkan Dirham sekitar 1 per 10 troy ounce. |
| Apakah Dinar dan Dirham masih digunakan sebagai alat tukar? | Saat ini, keduanya lebih sering digunakan sebagai instrumen investasi, koleksi, atau kebutuhan tertentu seperti mahar dan zakat, bukan sebagai alat transaksi sehari-hari. |
| Kenapa Dinar dan Dirham dianggap sebagai investasi? | Karena keduanya terbuat dari logam mulia yang nilainya cenderung stabil dan tahan terhadap inflasi, sehingga cocok dijadikan penyimpan nilai dalam jangka panjang. |


















