Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Data Ekonomi AS dan Minyak Mentah Tekan Rupiah ke Rp17.978

2 min read
Data Ekonomi AS dan Minyak Mentah Tekan Rupiah ke Rp17.978
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
  • Rupiah melemah 0,42 persen ke Rp17.978 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin.

  • Pasar mencermati data PCE, ISM Manufacturing PMI, dan NFP dari Amerika Serikat.

  • Kenaikan harga minyak di atas 90 dolar AS per barel menambah tekanan terhadap rupiah dan APBN.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah tercatat melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (28/9/2026). Rupiah melemah ke level Rp17.978 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 75 poin atau 0,42 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya Rp17.903 per dolar AS. Rupiah sempat dibuka di Rp17.948 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak ke Rp17.936 hingga Rp18.005 per dolar AS.

  1. 1. Data ekonomi AS jadi perhatian pasar

    Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelaku pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi penting dari AS yang dirilis pekan ini.

    Salah satunya adalah data Personal Consumption Expenditures (PCE) yang akan dirilis pada Rabu. PCE merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk melihat perubahan harga barang dan jasa yang dibeli masyarakat.

    Setelah itu, pasar akan menunggu data ISM Manufacturing PMI pada Kamis. Data tersebut menggambarkan kondisi sektor manufaktur AS. Pada Jumat, perhatian pasar beralih ke Nonfarm Payrolls (NFP) yang menunjukkan perubahan jumlah tenaga kerja baru di AS di luar sektor pertanian.

    "Rilis data-data tersebut dapat memainkan peran penting dalam membentuk ekspektasi pasar menjelang pertemuan The Fed bulan depan," kata dia.

  2. 2. Harga minyak di atas 90 dolar AS beri tekanan ke APBN

    Tekanan terhadap rupiah juga datang dari kenaikan harga minyak dunia yang bertahan di atas 90 dolar AS per barel. Ibrahim mengatakan kondisi tersebut dapat berdampak terhadap perekonomian Indonesia.

    "Dampak kenaikan harga minyak terhadap Indonesia terutama terlihat melalui tiga jalur, yakni inflasi, fiskal, dan keseimbangan eksternal," tuturnya.

    Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, pemerintah menggunakan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sebesar 70 dolar AS per barel. Namun, harga ICP pada Juli 2026 sudah mencapai 81,68 dolar AS per barel.

    Menurut Ibrahim, harga ICP di kisaran 80-90 dolar AS per barel masih dapat dikelola jika kenaikannya hanya berlangsung sementara. Namun, tekanan terhadap APBN berpotensi semakin besar apabila harga ICP bertahan di kisaran 90-100 dolar AS per barel atau lebih selama beberapa bulan.

    "Harga minyak dunia yang bertahan di atas 90 dolar AS per barel meningkatkan risiko terhadap perekonomian Indonesia," ujar dia.

  3. 3. Rupiah diperkirakan bergerak melemah pada Selasa

    Untuk perdagangan Selasa (29/9/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak naik-turun. Rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More