DEN Proyeksi Ekspor Hilirisasi Tembus Rp895 Triliun pada 2026

DEN memproyeksikan ekspor produk hilirisasi Indonesia mencapai 50 miliar dolar AS atau Rp895 triliun pada akhir 2026.
Aluminium diperkirakan menyumbang ekspor 7,2 miliar dolar AS pada 2026, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2024.
Indonesia memproduksi komponen baterai litium dan memiliki fasilitas pemurnian litium meski tidak mempunyai sumber daya litium sendiri.
Jakarta, IDN Times - Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memproyeksikan nilai ekspor produk hilirisasi Indonesia mencapai 50 miliar dolar AS pada akhir 2026. Angka tersebut setara Rp895 triliun (kurs Rp17.900).
Anggota sekaligus Sekretaris Eksekutif DEN Septian Hario Seto menyampaikan proyeksi tersebut setelah pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (20/10/2026).
"Selama 2 tahun periode pemerintahan beliau, ekspor hilirisasi kita itu bisa meningkat sekitar 45 persen, 2026 50 miliar dolar dan tadi 2024 sekitar 34,5 miliar dolar," katanya dikutip Rabu (21/10/2026).
1. Ekspor aluminium diproyeksi capai 7,2 miliar dolar

ilustrasi ekspor-impor (IDN Times/Aditya Pratama) Perkembangan hilirisasi di Indonesia kini tidak hanya bertumpu pada nikel. DEN mencatat industri aluminium juga tumbuh signifikan dan diperkirakan menyumbang ekspor sebesar 7,2 miliar dolar AS pada 2026.
Nilai tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan ekspor produk aluminium pada 2024 yang mencapai sekitar 3,5 miliar dolar AS.
'Ada dua komponen hilirisasi lain yang juga berkembang cukup pesat. Yang pertama adalah hilirisasi aluminium. Hilirisasi aluminium ini meningkat cukup signifikan," ujar dia.
2. Indonesia produksi komponen baterai litium meski tak punya sumber litium

ilustrasi baterai lithium (unsplash.com/Tyler Lastovich) Pengembangan industri komponen baterai litium juga menjadi bagian dari pertumbuhan hilirisasi. Indonesia kini memproduksi sejumlah komponen baterai, termasuk anoda dan katoda, serta telah memiliki fasilitas pemurnian litium atau lithium refinery.
Padahal, Indonesia tidak memiliki sumber daya litium sendiri. Pengembangan tersebut menunjukkan kegiatan industrialisasi juga dapat mencakup pengolahan bahan baku yang tidak tersedia di dalam negeri.
"Artinya Indonesia sudah bisa melakukan industrialisasi dari sumber daya alam yang kita tidak miliki. Tapi industrialisasi ini merupakan bagian dari ekosistem tadi yang lebih lengkap," tuturnya.
3. Ekspor aluminium berpotensi tembus 10 miliar dolar AS

ilustrasi ekspor (IDN Times/Aditya Pratama) DEN memperkirakan peningkatan ekspor produk hilirisasi dapat menjadi sumber tambahan devisa bagi Indonesia. Khusus aluminium, nilai ekspornya diproyeksikan melampaui 10 miliar dolar AS seiring dengan penambahan investasi dan pembangunan smelter aluminium baru.
"Jadi ini juga akan menjadi sumber tambahan devisa yang sangat buat Indonesia ke depannya," kata Seto.























